capture 41

2.3K 95 2
                                        

⚠️Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻

Jangan lupa komen


"



Matahari bahkan belum menampakkan sinarnya di ufuk timur, namun keadaan kota Terraverda sudah diliputi kepanikan. Gempa susulan kembali mengguncang ketika semua orang tengah terlelap. Tidak ada satu pun yang berani memejamkan mata lagi  ketakutan menyelimuti mereka. Semua takut, jika saat mereka mulai tertidur, bumi kembali berguncang dan reruntuhan menelan hidup-hidup mereka.

“Yang Mulia, Anda bisa beristirahat sekarang. Kami menjamin tempat istirahat Anda aman, tidak akan runtuh,” ujar seorang pengawal dengan nada meyakinkan.

Namun Lilyana hanya mengendus kecil, tak menanggapi. Tatapannya kosong namun tajam, mengamati para penduduk desa yang mulai berdatangan ke barak militer. Ia memperhatikan beberapa anak didiknya — yang kini menyamar sebagai pelayan, petani, dan rakyat jelata — bekerja sesuai perintahnya.

“Bagaimana akses menuju ibu kota? Apakah sudah bisa dilalui?” tanya Lilyana, untuk entah keberapa kalinya. Ia muak terperangkap di kota yang seolah menjadi kuburan terbuka ini. Ia harus kembali — ke kehidupannya sebagai putri mahkota, dan ratu di pasar gelap.

“Belum, Yang Mulia,” jawab Arthur, pelayan setianya. “Jalannya hancur parah. Tidak ada yang bisa dilalui.”

“Apakah kalian sudah menanyakan, reruntuhan itu mau diangkat atau tidak?” bentak Lilyana dengan nada tinggi. “Kalian terlalu lamban!”

Tiba-tiba, suara lembut tapi berwibawa memotong kemarahannya.
“Ada apa, Lily?”

Lilyana menoleh. Di sana, Permaisuri berdiri anggun, didampingi Countess Diana.

“Selamat malam, Yang Mulia. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu menyertai Anda,” ucap Lilyana seraya membungkuk hormat.

“Tidak apa-apa, Lilyana. Aku tahu ini sulit. Kita semua ketakutan. Tapi kita harus tetap berdoa, berharap para dewa menghentikan bencana ini,” ujar sang Permaisuri dengan suara menenangkan.

Lilyana mengangguk sopan. “Baik, Yang Mulia.”

Permaisuri lalu merangkul Lilyana dan berbisik lirih di telinganya, “Kita akan meninggalkan tempat ini sebelum matahari terbenam. Biarkan rakyat jelata menyelesaikan pekerjaan mereka di sini.”

“Baik, Yang Mulia,” balas Lilyana, menahan senyum tipis.

Ketika Permaisuri dan Countess Diana berjalan pergi, senyum itu berubah menjadi tawa dingin.
*“Hahaha… Permaisuri gila itu baru saja masuk ke dalam jebakanku.”*

Lilyana melangkah menyusuri barak pengungsian, memastikan pasukannya yang menyamar di kaki gunung sudah menempati posisi.

Seorang anak kecil tiba-tiba menghampirinya, menyerahkan secarik kertas.
“Ini untuk Anda, Yang Mulia.”

“Terima kasih, sayang.” Lilyana mengelus kepala anak itu, lalu melangkah menuju ruang istirahatnya. Ia butuh tidur, meski hanya dua jam.

Namun begitu membuka pintu, matanya membelalak.
“Arthur!!!” serunya.

Arthur segera berlari mendekat. “Ada apa, Yang Mulia?”

“Sudah kau temukan pelayanku?”

Arthur menunduk. “Tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Kami sudah memeriksa reruntuhan Istana Teratai, tapi Sandra tidak ada di sana.”

Lilyana menarik napas tajam. “Kau sudah memeriksa sendiri?”

“Sudah, Yang Mulia.” Arthur menatapnya dengan ragu. Ia tak pernah menyangka, tuan putrinya bisa sekhawatir itu pada seorang pelayan.

“Baiklah,” ujar Lilyana tegas. “Bantu aku mencarinya di barisan para korban. Aku tidak akan kembali ke ibu kota tanpa Sandra.”

“Baik, Yang Mulia.” Arthur membungkuk dan segera bergegas.

🌻🌻🌻

Beberapa jam kemudian, Lilyana melangkah masuk ke sebuah ruangan gelap. Udara di dalamnya berat, menyesakkan. Dengan marah, ia melempar kertas ke wajah seorang pria yang duduk di kursi.

“Di mana Sandra?! Aku tahu kau yang menyembunyikannya!” suaranya menggema penuh amarah. “Jangan paksa aku menghancurkan semua yang telah kau bangun hanya dalam satu malam!”

Tamparan keras mendarat di wajah pria itu.

Pria itu menatapnya dingin. “Apa yang kau bicarakan, Tuan Putri?”

Lilyana mencengkeram kerah bajunya. “Jangan pura-pura bodoh, bajingan!”

Dengan tenang, pria itu melepaskan genggamannya dan menangkup wajah Lilyana. “Kau yang membuatku begini, Cate. Kau yang menghancurkan semua rencana kita yang telah kita susun bertahun-tahun.”

Lilyana menepis tangannya dengan kasar. “Jika Sandra tidak kembali sebelum sore ini—sebelum aku meninggalkan kota ini—aku pastikan semuanya akan hancur.”

“Kau mengancamku?!” teriak pria itu, menarik tangan Lilyana dengan kasar.

Namun Lilyana menepisnya, menatap penuh kebencian, lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan itu.

---

### **Menjelang Keberangkatan**

Fajar mulai menyingsing. Para bangsawan diam-diam bersiap meninggalkan Terraverda. Mereka pergi dengan cara sembunyi-sembunyi agar rakyat tidak tahu. Jika rakyat ikut, perjalanan akan melambat — dan gunung di kejauhan itu, yang kini berasap pekat, bisa meletus kapan saja.

“Yang Mulia, Anda bisa naik ke kereta sekarang,” kata Arthur, membuka pintu kereta kuda dengan sopan.

Namun Lilyana tetap diam, menatap jalan berdebu itu dengan gelisah.

“Yang Mulia,” suara lain terdengar. Ludwig, kepala pengawal, mengulurkan tangannya. “Tolong masuk ke dalam kereta. Suami dan keluarga Anda akan membunuh saya bila Anda tak tiba di ibu kota dengan selamat.”

Lilyana menatap Ludwig dingin. Tapi sebelum ia sempat menjawab, terdengar suara yang begitu familiar memanggilnya.

“Yang Mulia!!!”

Lilyana menoleh. Di kejauhan, Sandra berlari tergopoh-gopoh menuju kereta.

Melihatnya, Lilyana langsung melangkah masuk ke dalam kereta, diikuti Sandra yang terengah-engah.

“Apakah kau baik-baik saja? Di mana bajingan itu menyembunyikanmu?” tanya Lilyana cepat.

“Di ruang bawah tanah, tepat di bawah kamar Anda di barak militer, Lady,” jawab Sandra lemah. “Aku dikurung di sana sebelum gempa terjadi. Ketika bumi mulai berguncang, aku sudah pasrah… kupikir aku akan mati.”

Lilyana menatap Sandra tak percaya. “Siapa yang mengurungmu?”

“Seorang pria bertopeng, Lady,” bisik Sandra. “Dia tampaknya sudah tahu gempa itu akan terjadi…”

Kereta kuda pun mulai melaju perlahan, meninggalkan Terraverda kota yang kini perlahan ditelan asap gunung dan jeritan mereka yang tertinggal.

---

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang