⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
“Temui aku besok di The Garden of Jasmine.”
Ucapan Alasdair terus terngiang di benak Lilyana, membuat malam itu terasa begitu panjang. Ia menatap langit-langit kamarnya tanpa benar-benar melihat apa pun.
Apakah pangeran mahkota itu pria bertopeng itu?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya tanpa henti, seolah menolak lenyap bersama waktu.
“Tapi... bukankah pangeran mahkota mencintai Daysi?” gumamnya lirih. “Tak mungkin ia mengkhianatinya... kecuali—” ia menelan ludah, “kecuali jika ia sendiri yang membunuh Daysi untuk bisa menikah denganku.”
Namun begitu kata-kata itu meluncur, hatinya bergetar ngeri. Bagaimana mungkin aku mengkhianati kakakku sendiri? Bukankah janji pertamaku pada Lilyana yang asli adalah menjaga Daysi dari siapa pun yang ingin menyakitinya?
Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa semua ini terasa seperti jebakan?”
Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di kamarnya, suaranya mulai bergetar. "Di kehidupanku yang dulu aku cuma gadis pemalas yang hidup tanpa arah! Tak pernah terpikir aku akan terperangkap di dunia paralel seperti ini!”
Ia berhenti di depan cermin dan menatap pantulan dirinya.
“Bagaimana aku harus menghadapi pangeran mahkota besok? Haruskah aku berpura-pura tidak tahu apa pun tentang Jasmine... atau harus jujur bahwa akulah Jasmine itu?”
Ia memejamkan mata, menahan napas. “Tidak... tidak... aku benar-benar bingung!”
🌻🌻🌻
“Tok... tok... tok...”
Suara ketukan di pintu membuat Lilyana terkejut. Ia buru-buru merapikan gaunnya, menyembunyikan kegelisahan di wajahnya.
“Masuklah.”
“Permisi, Lady,” ucap seorang pelayan, menunduk hormat. “Pangeran mahkota menunggu Anda di taman.”
“Di taman?” Lilyana menelan gugupnya. “Di mana Sandra?”
“Sandra sedang berada di luar kediaman, Lady.”
Hanya helaan napas yang keluar dari bibirnya. Ia tahu tak ada alasan untuk menunda lagi. “Baiklah... aku akan segera ke sana.”
🌻🌻🌻
Suasana restoran itu sepi dan hening. Tak satu pun karyawan menyapanya, bahkan Jane hanya menatapnya dari balik meja kasir.
Lilyana duduk diam, menatap ke sekeliling. Semua ini... terasa begitu asing.
“Apa kau tahu tempat apa ini?” suara Alasdair memecah keheningan.
Lilyana mengangkat kepalanya. “Tidak, Yang Mulia.”
Alasdair tersenyum samar. “Di sini, tak ada yang mengenal kasta atau jabatan. Semua orang sama—perbedaannya hanya penjual dan pembeli.”
Lilyana menatapnya dengan hati-hati. “Untuk apa Yang Mulia mengajak saya ke tempat seperti ini?”
“Karena di tempat ini,” ucap Alasdair, “kau bisa membeli apa pun. Bahkan sesuatu yang dianggap mustahil.”
“Apa pun?” Lilyana hampir tak percaya.
“Apa pun,” ulang Alasdair, suaranya berat dan misterius.
Lilyana menunduk sedikit, lalu berbisik, “Yang Mulia tahu siapa pemilik restoran ini?”
Alasdair hanya tersenyum tipis. “Tak seorang pun tahu. Namun banyak yang berbisik bahwa pemiliknya seorang bangsawan.”
Lilyana tersenyum samar. “Menarik.”
Alasdair mengeluarkan selembar kertas dari saku jubanya dan meletakkannya di atas meja. “Ini... peraturan yang harus kita sepakati setelah menikah.”
Lilyana membaca dengan saksama. Tidak ada satu pun yang merugikannya. Bahkan, sebagian besar memberi keuntungan padanya. Ia menandatangani tanpa ragu.
“Kalau begitu,” katanya lembut, “apakah kita bisa kembali? Saya merasa tidak nyaman di sini.”
Alasdair menggeser gelas di depannya. “Minumlah ini dulu, Lady.”
Lilyana menatap cairan dalam gelas itu dengan tatapan curiga. Ia yakin ada sesuatu di dalamnya. Sekilas ia melirik Jane, meminta kepastian lewat tatapan mata. Jane tersenyum lembut dan mengangguk pelan — tanda bahwa minuman itu aman.
Lilyana meneguknya tanpa ragu.
Namun senyum di bibir Alasdair berubah menjadi sinis.
“Anda terlalu mudah percaya pada orang lain, Lady,” ucapnya datar. “Saya pikir Anda berbeda dari Daysi yang begitu mudah mempercayai saya. Saat melihatmu di festival berburu, saya kira Anda istimewa. Ternyata... sama saja.”
Lilyana menatapnya tenang, meski hatinya bergemuruh. “Minuman apa yang Yang Mulia berikan kepada saya?”
Alasdair berdiri, tersenyum tipis. “Anda terlambat menanyakannya.”
“Yang Mulia...” suaranya melemah.
“Jika Anda ingin penawarnya,” ucap Alasdair tanpa menoleh, “mintalah pada perempuan di sana.” Ia menunjuk Jane lalu melangkah pergi, meninggalkan Lilyana yang mulai kehilangan keseimbangan.
Kakinya lemas. Tubuhnya gemetar hebat.
“Yang Mulia... bantu saya...”
Namun yang dijawab hanyalah suara langkah yang menjauh.
“Jangan ada yang membantu gadis itu!” perintah Alasdair dingin.
Dengan susah payah, Lilyana menyeret tubuhnya menuju Jane. Ia meraih botol kecil dari tangan perempuan itu dan meneguknya. Penawar itu segera mengalir di tenggorokannya.
“Jane,” bisiknya, “kenapa kau tetap mengurangi kadar racunnya?”
“Maaf, Lady,” jawab Jane gugup. “Saya hanya takut Anda kenapa-kenapa.”
Lilyana tersenyum tipis. “Tubuhku sudah kebal pada racun ciptaanku sendiri, Jane.”
Jane menunduk. “Maaf, Lady...”
“Terima kasih sudah memberi tahuku tentang rencana pangeran mahkota.”
Flashback
Malam sebelumnya, Lilyana tak bisa tidur. Kata-kata Alasdair terus mengganggu pikirannya.
“Tok... tok... tok...”
“Maaf, Lady, ini susu Anda,” suara Sandra terdengar dari balik pintu.
“Masuklah,” ucap Lilyana lesu.
Sandra masuk membawa nampan perak. Lilyana mengambil gelas dan meneguk isinya sampai habis.
“Lady,” bisik Sandra setelah menunduk, “saya mendapat kabar dari Jane. Pangeran mahkota datang ke restoran dan memesan racun yang bisa melumpuhkan tapi tidak mematikan. Ia juga meminta restoran dikosongkan.”
Lilyana terdiam sejenak, lalu tersenyum dingin. “Turuti saja perintah Alasdair. Biarkan semuanya berjalan seperti yang ia inginkan. Dan katakan pada Jane... jangan kurangi kadar racunnya sedikit pun.”
Sandra menatapnya terkejut. “Baik, Lady...”
“Aku tidak sabar menunggu besok,” ucap Lilyana pelan, matanya berkilat tajam.
Flashback end
“Jane,” ucapnya pelan, “carilah kamuflase baru untuk bisnis kita. Restoran ini sudah tidak aman lagi.”
“Baik, Lady.”
“Mungkin aku tak akan datang ke sini sampai semuanya aman. Dan sampai saat itu, jangan jual racun apa pun, bahkan kepada orang di luar kekaisaran.”
“Baik, Lady.”
Lilyana mengambil sebotol kecil cairan berwarna ungu pekat dan menyerahkannya pada Jane.
“Satu lagi... masukkan racun ini ke dalam sumur keluarga Duke Sandrick. Dan jangan berikan penawarnya pada siapa pun.”
Jane terdiam sejenak, lalu menunduk. “Seperti perintah Anda, Lady.”
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Narrativa StoricaBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
