⚠️ Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Setelah pemakaman Daysi, kekaisaran berubah menjadi lautan bisik-bisik dan tuduhan. Masyarakat terbelah menjadi dua kubu —kubu yang menuntut agar kematian sang putri mahkota diselidiki sampai ke akar,
dan kubu yang menekan pihak kekaisaran untuk segera mencari pengganti.
Namun istana tetap diam, seolah semua itu tak berarti apa pun.
Kaisar menetapkan tujuh hari masa berkabung, dan selama itu pula, seluruh gerbang istana ditutup rapat.
Keluarga Ternay belum kembali ke kediaman mereka.
Mereka turut dalam penyelidikan — penyelidikan yang penuh tanda tanya, karena Daysi ditemukan tak bernyawa di dalam kamarnya.
Tak ada racun.
Tak ada luka.
Tak ada tanda perlawanan.
Hanya tubuh dingin yang tak lagi bernyawa.
“Ayah… bolehkah aku ikut menyelidiki kematian Kak Daysi?”
Suara Lilyana bergetar, namun sorot matanya tajam.
Alfred menarik napas panjang. “Lily… kau tahu betapa besar kasih sayang ayah padamu,” ucapnya pelan. “Bahkan lebih dari kasih sayangku kepada Daysi dan Gerwyn. Tapi kali ini… ayah tak bisa menuruti keinginanmu.”
Lilyana menatapnya tak puas. “Kenapa, Ayah? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Namun Alfred tidak menjawab. Tatapannya melayang pada Iris, yang duduk di depan makam Daysi — wajahnya pucat, mata sembab, dan jemarinya terus menggenggam bunga lili putih yang mulai layu.
Sejak hari pemakaman, Iris tak pernah berhenti datang ke makam putrinya.
Bahkan, di hari pemakaman itu sendiri, ia sempat menolak agar peti dikubur.
Seolah melepaskan Daysi berarti memotong separuh jiwanya.
Lilyana menunduk, tak tahu harus berkata apa.
“Lily,” suara Alfred terdengar berat. “Jika suatu hari nanti sesuatu terjadi padamu… percayalah, itu adalah yang terbaik untukmu. Jangan mempertanyakan apa pun.”
Lilyana mendongak, matanya membulat. “Ayah… apa maksud Anda?”
Alfred hanya mengelus rambutnya dan memeluknya erat. “Kau akan mengerti nanti, nak.”
Tiba-tiba, suara Iris terdengar dingin dari arah belakang.
“Lakukan apa pun yang diperintahkan Kaisar Alfred. Jangan biarkan mereka menghancurkan kita.”
Lilyana menoleh kaget. “Ibu…?”
Iris melangkah pelan mendekat, wajahnya masih lembut tapi matanya keras.
“Mulai sekarang, jadilah berguna untuk keluarga ini, Lily. Buktikan bahwa kau benar-benar darah Ternay. Dan buktikan pula bahwa kau adalah putriku, seperti yang pernah kau katakan dulu.”
Setelah mengucapkan itu, Iris berbalik dan pergi meninggalkan mereka.
Alfred menatap kepergian istrinya dengan tatapan kosong.
“Ikuti perintah ibumu, Lily. Apa pun yang terjadi.”
Lilyana berdiri terpaku. Ia tahu, kata-kata ibunya bukan sekadar permintaan — itu adalah perintah.
Namun di balik nada tegas itu, Lilyana juga tahu… perintah itu bisa menghancurkannya suatu hari nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
