⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Hening panjang menggantung setelah Kaisar mengetukkan tongkat emasnya.Suara logam beradu dengan lantai marmer menggema seperti petir yang menutup langit.
Tak ada satu pun yang berani bernapas, sampai Lilyana perlahan melangkah maju dan membuka suara.
Senyumnya tipis tenang, namun menusuk.
“Yang Mulia,” ujarnya lembut namun jelas. “Izinkan aku menjawab tuduhan terakhir kakakku... soal racun.”
Daysi menoleh cepat, matanya menyala penuh kebencian.
“Kau tak bisa menyangkal, Lily! Kau punya akses ke pasar gelap! Siapa lagi kalau bukan kau?!”
Namun Lilyana tidak terguncang. Ia berdiri tegak, anggun, seolah seluruh ruangan hanya miliknya.
“Ya,” katanya tenang, “pasar gelap memang menjual racun. Tapi ada satu aturan yang tidak bisa dilanggar oleh siapa pun: setiap pembeli harus menggunakan identitas aslinya. Tidak ada samaran. Tidak ada pemalsuan. Karena itulah jaminan kepercayaan mereka.”
Riuh kecil mulai terdengar.
Para bangsawan saling berbisik ini berarti akan ada catatan nama. Catatan yang tak bisa dipungkiri siapa pun.
Lilyana mengangkat tangannya. Dari balik lengan bajunya yang berenda hitam, ia mengeluarkan gulungan perkamen bersegel darah.
“Dan aku,” katanya dengan senyum samar, “kebetulan sudah mendapatkan salinannya dari pedagang yang kau sebut, Yang Mulia.”
Ia membuka gulungan itu perlahan, matanya menatap lurus ke arah Kaisar. “Nama pembeli racun yang sama persis dengan racun yang dulu meracuni Lady Daysi… tercatat dengan jelas. Bukan aku. Bukan ayahku. Tapi…”
Lilyana mengangkat perkamen itu tinggi-tinggi, membiarkan semua orang melihat segel merah pekat di ujungnya. “…seorang pejabat tinggi istana. Seseorang yang setiap hari berjalan di aula ini.”
Balairung seketika meledak.
Bisikan berubah menjadi gumam keras, gumam menjadi jerit penasaran.
Daysi melangkah maju setengah langkah, wajahnya pucat.
“K–Kau berbohong!”
Lilyana menatapnya dingin.
“Kalau aku berbohong, siapa pun yang namanya tertulis di sini boleh maju dan menyangkal. Tapi…” ia mencondongkan tubuh sedikit. “…beranikah dia?”
Balairung mendadak senyap kembali.
Bahkan api obor pun seolah berhenti menari.
Kaisar menyipitkan mata.
“Lilyana…” suaranya berat, mengandung tekanan kekaisaran. “Bacakan namanya.”
Lilyana tersenyum tipis.
Ia menggenggam perkamen itu erat, lalu berkata dengan nada rendah tapi menggema di seluruh ruangan,
“Aku akan bacakan… tapi ingat, Yang Mulia. Begitu nama ini disebut, tak ada jalan kembali. Karena berarti musuh sesungguhnya bukan aku… melainkan orang yang sejak awal ingin menyingkirkan Daysi demi kepentingannya sendiri.”
Udara menegang.
Satu napas terasa seperti beban di dada semua orang.
Lilyana menatap perkamen itu… lalu perlahan menutupnya kembali.
“Tidak sekarang.”
Suara kecilnya justru terdengar lebih menggetarkan daripada teriakan.
Bangsawan saling pandang, bingung, gelisah.
Kaisar menatap tajam.
“Lilyana, kau berani main-main di hadapanku?”
Lilyana menunduk hormat, suaranya tenang. “Bukan main-main, Yang Mulia. Aku hanya ingin memastikan… bahwa saat nama ini disebut, tidak ada satu pun yang bisa berkelit. Biarkan mereka merasakan cemasnya dulu. Biarkan ular-ular yang bersembunyi di taman istana… keluar dari lubangnya sendiri.”
Daysi menghela napas lega, mengira Lilyana mundur.
Namun sorot mata Lilyana padanya membuat darahnya dingin—tatapan itu berkata tanpa suara: “Tunggu waktunya.”
Dari kursi kehormatan, Permaisuri duduk anggun.
Di sisinya, Grand Duchess Iris ibu kandung Daysi menatap penuh keyakinan, yakin semuanya akan berbalik lagi.
Kaisar mengangguk pendek.
“Sekarang, sebutkan namanya. Buktikan ucapanmu.”
Lilyana kembali maju, membuka gulungan itu dengan gerakan pelan namun penuh wibawa.
Suaranya jernih, memecah udara dingin balairung:
“Nama pembeli racun yang digunakan untuk meracuni Lady Daysi… adalah Yang Mulia Permaisuri Raline, dan Grand Duchess Iris, ibu kandung Lady Daysi.”
Ledakan suara terjadi serentak.
Bangsawan berteriak, beberapa berdiri dengan wajah pucat.
Daysi terpaku di tempatnya.
“I–ibu…?” suaranya bergetar, hampir tak terdengar.
Iris terhuyung.
Permaisuri Raline menggenggam kipasnya erat, hingga suaranya retak di genggaman. “Itu… fitnah! Aku Permaisuri Kekaisaran! Kau pikir aku akan membeli racun dengan namaku sendiri?!”
Lilyana tersenyum kecil.
“Itulah yang membuat pasar gelap berbeda. Semua transaksi diikat dengan segel darah. Catatan ini tak bisa dipalsukan oleh siapa pun.”
Kaisar berdiri, wajahnya merah padam. “Permaisuri… benarkah ini?!”
Raline tak menjawab. Iris mencoba maju, air mata berlinang.
“Yang Mulia… ini tidak seperti yang Anda pikirkan!”
Namun Kaisar sudah menghantam tongkatnya.
“Cukup! Kalian berdua telah mempermalukan istana!”
Keributan pecah.
Bangsawan berteriak, sebagian memohon keadilan, sebagian takut terseret arus.
Lilyana berdiri di tengah semua itu, tenang seolah badai hanya menari di sekelilingnya.
Ia menatap Daysi yang kini terjatuh berlutut. “Jadi, kakaku yang tercinta…” bisiknya pelan namun terdengar jelas. “Masihkah kau ingin menuduh aku peracunmu?”
Daysi tak mampu menjawab.
Dan tiba-tiba, suara lain yang lebih dingin terdengar.
“Ya,” ujar Permaisuri Raline lantang. “Aku dan Iris memang melakukannya.”
Balairung membeku.
Iris maju satu langkah, wajahnya pucat, namun matanya berkilat getir.
“Aku adalah ibu kandung Daysi. Aku tahu betapa rapuhnya anakku. Ia lembut, polos… dan itu berbahaya di dunia ini. Ia akan mudah dijadikan pion oleh musuh istana. Karena itu… aku nekat. Aku dan sahabatku, Permaisuri Raline, mengambil keputusan.”
Daysi menatap ibunya dengan air mata berlinang.
“Ibu… jadi kau sendiri yang… ingin aku mati?”
Iris menunduk, suaranya datar tapi menusuk. “Demi menjaga nama besar keluarga… iya. Kau akan menghancurkan Ternay jika berdiri di posisi Lily.”
Permaisuri Raline menimpali, tenang tapi kejam. “Jangan salahkan Iris saja. Akulah yang mendorongnya. Aku tahu, jika Lily yang dinikahkan dengan Pangeran Alasdair, kekaisaran akan lebih mudah dikendalikan. Ia lembut, cantik, bisa kami bentuk. Maka kami singkirkan Daysi.”
Ia menatap Lilyana, dan senyum pahit muncul di bibirnya.
“Tapi ternyata… kami salah.”
Lilyana menatap mereka berdua dengan senyum dingin sebuah senyum yang lebih tajam daripada pedang. “Salah besar. Kalian kira aku boneka? Aku bukan bidak di papan catur kalian… aku pemainnya.”
Balairung bergemuruh antara kagum, takut, dan terperangah.
Kaisar menghantam tongkatnya sekali lagi. “Cukup! Kebenaran telah terungkap! Iris, Raline… kalian bukan hanya pengkhianat, tapi juga bodoh. Kalian ingin menjadikan Lily pion… dan kini lihatlah: dialah yang menggenggam bidak kalian.”
Iris dan Raline saling berpandangan, wajah mereka pucat.
Untuk pertama kalinya, keduanya sadar monster yang mereka coba kendalikan… kini berdiri di hadapan mereka, tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Ficción históricaBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
