⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
---
Lorong bawah tanah berakhir di sebuah kapel tua yang telah lama ditinggalkan. Debu tebal menyelimuti altar, lilin-lilin berkarat menempel di meja batu, dan kaca jendela pecah menebarkan cahaya bulan yang pucat dingin.
Lilyana menyalakan obor kecil, nyalanya bergetar pelan menari di udara lembap. Tatapannya beralih pada Arven, yang masih gemetar di sudut ruangan.
“Sekarang,” ucap Lilyana lirih, suaranya tegas namun terkendali. “Kau sudah berjanji akan bicara. Katakan padaku… siapa sosok bertopeng yang kau maksud?”
Arven menelan ludah. Tangannya bergetar saat ia menggenggam ujung jubahnya yang compang-camping.
“Yang Mulia… sosok itu bukan orang asing. Dia bagian dari istana—bahkan, dia sering berdiri di dekat Kaisar.”
Lilyana mengerutkan kening. “Maksudmu… pengawal istana?”
Arven menggeleng cepat, wajahnya pucat pasi.
“Bukan. Dia… Ludwig.”
Nama itu jatuh begitu berat, menggema di kapel kosong seperti kutukan.
Lilyana membeku sesaat. Ludwig—pangeran yang dikenal ksatria tanpa cela, putra selir yang dielu-elukan sebagian bangsawan.
Arven memegangi kepalanya, suaranya bergetar penuh ketakutan.
“Aku melihatnya sendiri, Yang Mulia. Saat topeng itu terlepas di lorong timur… aku tak mungkin salah. Tapi jika Lady Daysi tahu aku mengatakannya, nyawaku tamat.”
Lilyana menatapnya tajam, pikirannya berputar cepat.
Ludwig... dan Daysi? Apakah mereka bersekongkol? Apakah ia benar-benar mengkhianatiku?
Belum sempat ia bicara, suara langkah berat terdengar dari luar kapel. Tiupan terompet sayup-sayup menghantam kesunyian malam.
Arven panik. “Mereka sudah menemukanku! Daysi pasti mengirim anjing-anjingnya ke sini—”
Lilyana menempelkan jarinya ke bibirnya, mendesah pelan.
“Diam. Aku tak akan membiarkan mereka menyentuhmu… belum. Kau masih terlalu berharga.”
Ia menoleh ke jendela pecah. Cahaya bulan jatuh di wajahnya, menampakkan senyum tipis yang penuh intrik.
“Kalau benar ia mengkhianatiku... maka aku kini punya alasan baru untuk menyeretnya turun dari singgasananya.”
Suara derap kuda dan obor yang mendekat membuat malam kian tegang.
Lilyana melangkah cepat, jubahnya berayun lembut menyapu tanah berlumut. Di belakangnya, dua pengawal pribadinya menyeret Arven yang masih lemah.
Di dekat reruntuhan, sudah menunggu seorang pria berperawakan tinggi berambut hitam, dengan tatapan tajam namun penuh hormat—Antoni.
“Yang Mulia,” ucapnya sambil berlutut. “Apakah ini orang yang ingin Anda lindungi… atau singkirkan?”
Lilyana menatapnya tajam, kemudian memalingkan pandangan ke Arven.
“Bukan keduanya. Dia akan kusembunyikan. Dia masih punya nilai, tapi keberadaannya di istana terlalu berbahaya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
