capture 11

4.6K 186 0
                                        

⚠️ Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻


Lilyana tahu ia tak punya banyak waktu. Natasha pasti sedang menunggunya. Jika ia tak segera kembali, perempuan itu akan melapor pada Alfred dan ketika itu terjadi, seluruh ibu kota akan gempar.

"Jane, berikan semua informasi tentang kematian Kak Daysi!" ucap Lilyana cepat, suaranya tegas namun dingin. Ia tak bisa berlama-lama.

"Saya masih mencari informasi yang lebih akurat, Lady," jawab Jane hati-hati. "Tapi sepertinya ada sesuatu... seseorang yang menutupi kasus kematian Lady Daysi."

Lilyana menarik napas panjang. Ia benci jawaban seperti itu - tidak pasti, menggantung.

"Baiklah. Aku memberimu waktu satu minggu, Jane. Dan satu hal lagi-cari tahu tentang Grand Duke of Black."

"Baik, Lady."

Lilyana menatap sekeliling ruangan. "Apakah ada sesuatu yang terjadi di sini?"
Ia sendiri tak yakin apa yang harus dilakukan dengan bisnis kotor yang diwariskan tubuh ini. Ia tidak mengerti tujuan Lilyana yang asli membangun sesuatu sebusuk ini.

"Semuanya baik-baik saja, Lady," jawab Jane ragu. "Namun pembangunan sekolah di bagian selatan kota Olanty mendapat sedikit hambatan. Duke Luciano meminta pajak yang sangat tinggi pada pihak sekolah."

Nada Jane bergetar. Ia takut dimarahi - karena Lady Lilyana dikenal tak pernah mentolerir kegagalan.

"Baiklah," ucap Lilyana akhirnya, matanya menatap kosong. "Biar aku yang mengurus Duke Luciano."

Senyum lega muncul di wajah Jane. Ia sempat mengira akan dihukum hari ini.

"Bagaimana dengan hutan terlarang?" tanya Lilyana pelan.

"Semuanya aman, Lady. Tapi setelah Hutan Morin menjadi milik Anda, tak ada pemburu yang berani masuk lagi. Namun... beberapa petani mulai mencoba berkebun di pinggir hutan."

"Biarkan mereka," jawab Lilyana datar. "Tapi pastikan mereka hanya di pinggir. Jika mereka berani masuk lebih dalam dan mendekati kawasan larangan-racuni saja sungainya."

Jane menelan ludah. Sesaat tadi ia sempat berpikir majikannya sudah berubah, namun ternyata gadis itu tetaplah sosok tanpa hati yang rela melakukan apa saja demi bisnisnya.

"Baik, Lady."

"Tinggalkan aku berdua dengan Jasmine," tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah belakang.

Jane dan Lilyana sontak menoleh. Suara itu dalam dan berwibawa.

"Baik, Tuan."
Jane segera menunduk dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Lilyana berhadapan dengan pria bertopeng itu.

'Siapa dia?' pikir Lilyana. 'Kenapa Jane menurut padanya? Jangan-jangan... bukan hanya Lilyana yang punya bisnis ini?'

Pria itu melangkah mendekat perlahan.
"Semuanya baik-baik saja, Lily. Tak ada yang perlu kau khawatirkan."

Lilyana hanya mengendus pelan, menahan banyak pertanyaan dalam kepala.

"Lily..." suara pria itu merendah, "apa kau tak pernah mencintaiku?"

Lilyana menatapnya datar. "Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukankah kau sendiri yang bilang aku kekasihmu? Lalu kenapa pertanyaan itu muncul?"

Pria itu tertawa lirih-pahit. "Karena aku tak pernah merasakan cintamu. Bahkan ketika ingatanmu masih utuh, aku tahu... hatimu tak pernah benar-benar untukku."

'Wow... ada apa ini?' pikir Lilyana panik. Ia tak tahu-menahu tentang masa lalu tubuh ini.

"Rencana kita akan tetap berjalan, Lily," lanjut pria itu. "Aku sendiri yang akan mengeksekusinya. Aku akan membuat dia membayar semua yang telah ia lakukan dulu."

"Kau tidak ingin memberitahuku apa yang akan kau lakukan?" tanya Lilyana, berusaha menggali sedikit petunjuk.

"Kau akan mengetahuinya saat Festival Padi tiba."
Suara pria itu menurun, nyaris seperti ancaman.

Lilyana hanya bisa terdiam, hatinya berdebar. Ia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi - semua terasa seperti teka-teki yang dibuat untuk menjebaknya sendiri.

"Aku pamit, Lily. Pastikan semuanya berjalan lancar."
Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Lilyana dalam kebingungan yang menyesakkan.

Lilyana berdiri mematung. Otaknya berusaha mencerna setiap kata pria itu, tapi tak satupun masuk akal. Ia hanya seorang pengangguran di dunia asalnya, bukan seseorang yang terbiasa dengan intrik dan permainan kekuasaan seperti ini.

"Sandra, masuklah."

Sandra segera masuk, menunduk dalam-dalam. Ia siap menerima hukuman karena telah gagal menjalankan perintah sebelumnya.

"Kau tahu siapa pria itu?" tanya Lilyana, matanya menatap keluar jendela. Pria bertopeng itu kini sudah jauh, menunggang kudanya menjauh dari properti mereka.

"Tidak ada yang tahu, Lady. Hanya Anda yang mengenalnya," jawab Sandra jujur.

Lilyana menarik napas panjang. Dunia yang ia ciptakan ternyata jauh lebih kelam dari yang ia bayangkan ketika menulisnya.

"Apa kau tahu tentang rencanaku di Festival Padi?"
Nada suaranya terdengar frustrasi.

"Saya tahu Lady memiliki rencana besar, tapi... saya tak tahu apa pun tentang isinya. Hanya Lady dan pria bertopeng itu yang mengetahuinya," jawab Sandra pelan. Ia menunduk semakin dalam. Majikannya memang terkenal sangat tertutup. Bahkan dirinya, yang selalu berada di sisi Lilyana, tak pernah tahu rahasia apa pun.

"Begitu..." gumam Lilyana lirih.

Sesaat ruangan itu terasa hening. Hanya suara jam berdetak lambat.

"Maaf, Lady," kata Sandra akhirnya. "Anda harus segera kembali ke restoran. Lady Natasha mungkin mencari Anda."

Lilyana tersentak. Ia hampir lupa bahwa ia datang bersama Natasha.

🌻🌻🌻

halaman istana dipenuhi sorak dan tawa. Semua keluarga bangsawan dan pihak kekaisaran hadir, duduk di bawah sinar bulan yang terang, menyaksikan para kepala keluarga rakyat jelata mengantri untuk mendapatkan bahan pokok dan beberapa keping koin emas dari pihak kekaisaran.

Suasana tampak penuh suka cita. Anak-anak tertawa, musik lembut mengalun, aroma makanan memenuhi udara.

Namun di tengah keceriaan itu, Lilyana justru diliputi kecemasan. Ia memikirkan pria bertopeng tadi - apa yang akan dilakukannya di festival ini? Apakah ia akan menyerang istana? Membunuh kaisar? Jika itu terjadi, maka dirinya yang akan disalahkan... karena semua ini berakar dari bisnis kotornya.

Matanya menatap barisan panjang rakyat yang mengantri bahan makanan. Hatinya mengencang.
Jumlah bantuan itu... terlalu sedikit, jika dibandingkan dengan kemakmuran dan keuntungan kekaisaran dari hasil pertanian.

"Ayah," katanya perlahan, "bukankah lebih baik jika pembagian bahan makanan ini dilakukan oleh para pengawal saja? Mereka bisa membagikannya langsung ke rumah rakyat. Tidak perlu membuat mereka mengantri berjam-jam di sini. Jika semua rakyat datang ke istana, ini bisa berlangsung lebih dari seminggu."

Alfred tersenyum mendengar ucapan putrinya. Ia menatapnya lembut bangga. Lilyana kini banyak berbicara, berani berpendapat. Tak seperti dulu, ketika gadis itu hanya diam dan menjawab seperlunya.

"Ayah akan membicarakannya dengan Kaisar," katanya lembut.

Keramaian di istana makin riuh. Musik, tawa, dan suara langkah bercampur menjadi satu. Lalu-

"Dooorrrh!!! Sreetttt!! Rrreeesshh!!!"

Suara keras mengguncang halaman istana. Semua orang berhenti.
Tatapan panik mulai bertebaran.

Dan dalam sekejap, seluruh mata beralih pada satu titik-
ke arah sumber suara yang baru saja memecah pesta kebahagiaan itu.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang