Capture 63

1.4K 71 3
                                        


⚠️ Typo berserakan⚠️

jangan lupa vote

🌻Happy Reading 🌻

 
Langit masih kelabu di atas istana ketika pintu balairung terbuka dengan derak berat. Seorang perwira masuk dengan langkah gontai, lututnya segera jatuh ke lantai marmer yang dingin. Nafasnya tersengal, peluh menetes di pelipis. 

“Yang Mulia…” suaranya parau, nyaris tenggelam oleh gaung ruangan yang luas. “Menara Hitam terbakar. Grand Duke… telah melarikan diri.”

Sejenak sunyi menggantung hening yang menyesakkan. Lalu balairung pecah oleh suara gemuruh. Para bangsawan berbisik-bisik panik, wajah mereka pucat, kipas dan kerah sutra bergeser menutupi kegelisahan. 

Kaisar berdiri perlahan. Tongkat emasnya menghantam lantai, menghasilkan dentuman berat yang menggema seperti amarah para dewa. 
“Tidak mungkin!” suaranya bergemuruh. “Menara Hitam tidak pernah gagal menahan tahanan!”

Perwira itu menunduk semakin dalam. “Dia… dibantu oleh seseorang, Yang Mulia. Kami menemukan bekas terowongan tua menuju pelabuhan.” 

Tatapan Kaisar menyipit. “Terowongan itu seharusnya sudah dimusnahkan. Apa pria tua itu juga melarikan diri?” 

Tubuh sang perwira gemetar. “Ya, Yang Mulia. Sepertinya… pria tua itu yang membantu Grand Duke.” 

Permaisuri Raline menutup mulutnya, pura-pura terkejut. “Dewa-dewa… jika Ludwig kembali dengan dendam, seluruh istana akan terbakar oleh murkanya.” 

Namun dari sisi kiri ruangan, Lady Daysi melangkah anggun. Suaranya lembut, n amun tajam seperti duri. 
“Mungkin… Ludwig tidak melarikan diri sendirian. Mungkin ada tangan-tangan gelap yang membantunya. Ratu pasar gelap, misalnya?” 

Suara kerumunan langsung bergemuruh. Tatapan-tatapan menusuk beralih pada satu sosok Lilyana, Putri Mahkota, yang berdiri di samping Alasdair. 

Lilyana tidak gentar. Wajahnya datar, matanya berkilat seperti bilah perak di bawah cahaya obor. Lilyana melangkah maju, gerakannya sehalus arus air, tapi tajam seperti belati. 
“Lady Daysi,” ujarnya lembut, “tuduhanmu ringan sekali. Semua tahu aku sibuk mengurus urusan istana. Apakah kau pikir aku masih sempat menggali terowongan kuno di tengah malam?” 

Bisikan teredam. Alasdair menatap para bangsawan dengan sorot tajam. “Lily adalah istriku, Putri Mahkota Kerajaan. Menuduhnya tanpa bukti sama saja menodai martabat takhta.” 

Kaisar tidak berbicara. Ia hanya menatap mereka berdua tajam, dalam, menilai. Seolah sedang menimbang antara darah dan bahaya. 

Hening itu dipecah oleh suara Alfred, bangsawan tua yang memukul tongkatnya pelan ke lantai. “Yang Mulia, saya yakin putri saya tidak bersalah. Justru saya khawatir Ludwig akan memanfaatkan pelariannya untuk menebar fitnah. Kita harus memperkuat pertahanan sebelum terlambat.” 

Daysi menunduk anggun, bibirnya melengkung licik. “Tentu saja, Ayah. Tapi jangan lupa, Ludwig pernah dekat dengan Lily. Siapa tahu, ada surat… atau rahasia lain yang akan muncul kembali.” 

Balairung bergetar oleh bisik-bisik. Kecurigaan menyebar seperti asap racun. 

Kaisar akhirnya bersuara, suaranya berat seperti gemuruh petir. “Cukup! Ludwig memang darahku, tapi pengkhianat tetap pengkhianat. Aku sendiri yang akan memburunya. Dan siapa pun yang berani melindunginya…” ia menatap Lilyana, “…akan kubinasakan.” 

Namun dalam tatapan itu, terselip sesuatu rasa ingin tahu, mungkin kekaguman. Seolah Kaisar mulai sadar, Lilyana bukan sekadar istri putranya… tapi bayangan yang bisa menelan cahaya. 

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang