Capture 46

1.9K 103 13
                                        

⚠️Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻

Matahari sedang terik-teriknya, namun Istana Bintang justru semakin sibuk. Sejak pagi, para pelayan berlarian ke sana kemari, menyiapkan jamuan besar yang akan digelar malam ini.
Semua tampak sibuk semua, kecuali Lilyana.

"Yang Mulia, Anda sebaiknya beristirahat. Biarkan kami yang menyelesaikannya," ucap salah satu pelayan dengan nada khawatir.

"Aku hanya duduk, tidak mengerjakan apa pun," jawab Lilyana pelan.
Meski duduk tenang, tubuhnya terasa berat, seolah semua tenaga telah disedot oleh pikirannya sendiri.

"Tapi, Yang Mulia... wajah Anda sangat pucat," desak Sandra, pelayan setianya.

Belum sempat Lilyana menjawab, suara tegas terdengar dari arah pintu.
"Kau kembali ke kamar, Lily. Gaun untuk malam ini sudah tiba."

Lilyana menoleh. Di ambang pintu berdiri pria yang sudah lama tak menyapanya—Alasdair.

"Baik, Yang Mulia," ucap Lilyana datar.

Alasdair mengerutkan kening. “Kau memanggilku apa? Yang Mulia?”
Nada suaranya meninggi, nyaris tak percaya. “Jangan bertingkah seperti anak kecil, Lily.”

Lilyana mendadak berdiri. “Kau yang bertingkah seperti anak kecil, Airy!” serunya, tak mampu lagi menahan emosi yang ia pendam sejak kemarin.
“Bahkan kau membuat keputusan besar tanpa memberitahuku! Mengumumkan jamuan di rumah kita tanpa satu pun kata padaku! Aku mengetahuinya dari pengumuman sialan itu!”

Alasdair tersenyum tipis. “Kau cemburu?”

“Maaf, Yang Mulia,” ucap Lilyana dingin, “aku tidak cemburu. Tapi kau terlalu berlebihan menyambut mantan tunanganmu—terlebih di saat kekaisaran sedang tidak baik-baik saja.”

🌻🌻🌻

Jamuan besar akhirnya dimulai. Lampu kristal bergemerlap, musik klasik mengalun lembut, dan aula dipenuhi bisikan para bangsawan yang menanti kejutan apa yang akan ditampilkan sang Pangeran Mahkota malam itu.

Lilyana duduk di sisi kiri Alasdair, menyapa para tamu dengan senyum sempurna. Tak seorang pun tahu bahwa pagi tadi mereka hampir bertengkar hebat.

Namun suasana berubah ketika pintu utama terbuka lebar. Pengumuman menggema:

“Kedatangan keluarga Ternay!”

Semua kepala menoleh. Di ambang pintu berdiri Alferd, Iris, Gerwyn, dan... Daysi.
Mereka tampil menawan dalam balutan biru safir yang berkilau seperti lautan malam.

Daysi melangkah masuk dengan anggun. Rambutnya digelung tinggi, dihiasi pita biru yang mencolok. Senyumnya lembut—namun bagi Lilyana, senyum itu lebih tajam dari pisau.

Para bangsawan berdecak kagum. Beberapa bahkan menunduk hormat.

Alasdair bangkit, lalu menyambut mereka. “Selamat datang, Grand Duke of Valyarky. Selamat datang, Lady Daysi.”

Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Lilyana, terasa seperti palu yang menghantam dadanya.
Ia menatap Alasdair—dan dalam tatapan itu, kehangatan yang dulu pernah jadi miliknya kini diberikan kepada orang lain.

Helena, yang duduk tak jauh darinya, berbisik pelan, “Lihat, Lily. Ia menempatkan Daysi di sisinya. Itu pertanda.”

Benar saja. Daysi duduk di kanan Alasdair, sementara Lilyana di kiri.
Bisikan para bangsawan pun mulai memenuhi udara.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang