capture 17

3.8K 168 0
                                        

⚠️Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻




Sebulan berlalu.
Selama itu pula, Lilyana dan Alasdair nyaris tak berbicara. Mereka hanya bertemu saat sarapan—sekadar basa-basi di meja makan yang sunyi—dan ketika malam tiba, Alasdair masuk ke kamarnya tanpa sepatah kata. Setelah itu, hanya keheningan yang menjadi teman mereka berdua.

Lilyana mulai terbiasa dengan rutinitas barunya. Ia mengurus kebutuhan Istana Bintang, menghadiri acara amal bersama Permaisuri Raline, dan menjaga citra sebagai putri mahkota yang anggun. Namun di balik semua itu, teka-teki kematian Daysi masih mengambang tidak ada satu pun petunjuk baru. Semua seolah dikubur dalam-dalam oleh kekuasaan istana.

Sore itu, setelah semua pekerjaan selesai, Lilyana melangkah diam-diam menuju pintu belakang istana—pintu kecil yang langsung terhubung dengan pasar. Ia baru tahu bahwa Istana Bintang berdiri tak jauh dari keramaian kota, dan hal itu memudahkannya bertemu Jane, sekutunya dalam mengatur jalur bisnis rahasia mereka.

“Lady, sudah saatnya Anda pulang,” ucap Sandra lembut, mengingatkan majikannya yang tampak enggan beranjak.

“Bisakah aku… tidak usah pulang?” Lilyana menatap Sandra dengan malas.

Sandra menarik napas panjang. “Anda tahu itu tidak mungkin, Lady.”

Dengan berat hati, Lilyana bangkit. Ia mengenakan kain penutup wajah dan tudung panjang berwarna abu gelap. Langkahnya ringan, tapi pikirannya sibuk dengan rencana berikutnya.

“Beritahu Jane untuk terus meracuni sumur milik keluarga Duke Sandrick,” katanya pelan.

Sandra terdiam sejenak. “Baik, Lady…”

“Dan jangan tanyakan kenapa,” potong Lilyana cepat, menatapnya dingin.

“Maaf, Lady.”

Begitu keluar dari ruang belakang, Lilyana disambut riuh pelanggan di restorannya—beberapa hanya makan, sebagian lainnya membeli barang-barang hasil dagangannya. Jane segera menghampiri dengan wajah lega.

“Apakah Lady ingin pulang?” tanyanya.

“Ya. Aku akan kembali besok.”

“Baik, Lady.”

Namun saat Lilyana hendak membuka pintu keluar, daun pintu itu tiba-tiba terbuka keras dari luar, hampir membuatnya terjatuh. Seorang pria masuk dengan langkah tergesa, wajahnya pucat, napasnya berat.

“Aku ingin memesan teh melati,” katanya pelan, nyaris seperti rintihan.

Lilyana menatapnya sekilas. Ia kemudian melangkah keluar, menoleh ke arah kereta kuda pria itu. Lambang burung merak di sisi kereta—simbol keluarga Sandrick—membuat bibirnya melengkung kecil.

Teh melati...
Kode rahasia untuk penawar racun.

Ia tersenyum samar di balik kain penutup wajahnya, lalu kembali masuk ke restoran. Jane tampak gugup, sementara pria itu bersikeras.

“Saya akan membayar berapa pun asal saya mendapatkannya!” seru pria itu.

Lilyana hanya menatap dari jauh, senyum puas terselip di bibirnya.
Rencananya bekerja sempurna.

“Maaf, Lady…” Sandra mencoba bicara ketika mereka meninggalkan restoran.

“Bukankah sudah kubilang, jangan menanyakan apa pun, Sandra,” potong Lilyana dingin.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang