⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
jangan lupa komen
🌻🌻🌻
Jamuan teh di taman Istana Bintang tampak tenang di permukaan.
Burung-burung berkicau riang, bunga mawar bermekaran indah, dan meja marmer putih dipenuhi cangkir porselen berukir halus. Namun di balik keindahan itu, Lilyana tahu—setiap tatapan yang terarah padanya bukanlah tatapan kagum, melainkan pengamatan yang tajam dan penuh perhitungan.
Beberapa bangsawan muda hadir siang itu: Lady Selvia yang terkenal lihai berbisik di balik kipasnya, Lord Arven yang ambisius, serta putra Duke Wetrend yang masih muda namun tajam lidah.
“Lady Lilyana tampak lebih bersinar dari biasanya,” ujar Selvia sambil tersenyum. Namun matanya jelas sedang menilai, bukan memuji.
“Ah, tapi apakah sinar itu akan bertahan lama?” gumam Arven, pura-pura tertawa ringan.
Lilyana hanya meneguk tehnya, senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya.
“Seperti bunga mawar,” ujarnya lembut, “keindahan bukan diukur dari lamanya bertahan… melainkan dari duri yang mampu melukai siapa pun yang sembrono menyentuhnya.”
Ucapan itu membuat meja mendadak hening. Beberapa bangsawan saling berpandangan, menyadari satu hal: Lilyana bukan sekadar gadis lembut yang bisa mereka permainkan.
Dari balik semak, Sandra berdiri mengawasi. Matanya waspada, tangannya tak pernah jauh dari gagang pedang. Ia tahu—sekecil apa pun pertemuan bangsawan bisa berubah menjadi ajang pengkhianatan.
Lady Selvia kembali membuka percakapan dengan nada manis, tapi matanya berkilat licik.
“Garden of Jasmine pasti sepi setelah kepergian gadis yang ditemukan di gerbang Istana Bintang… bukan begitu, Lady Lilyana?”
Kalimat itu sengaja diucapkan setengah berbisik, tapi cukup keras untuk membuat semua bangsawan menoleh.
Lilyana menaruh cangkirnya dengan tenang. “Oh, ya? Aku tidak tahu kalau ia berasal dari sana.”
Selvia tersentak, wajahnya memucat sesaat sebelum buru-buru tersenyum.
“Aku hanya… mendengar desas-desus.”
“Desas-desus?” Lilyana mengangkat alis, suaranya lembut namun menusuk. “Lalu… siapa yang menyebarkannya?”
Keheningan kembali menyelimuti taman. Semua tatapan beralih pada Selvia yang hampir kehilangan kata.
Lilyana tersenyum samar, lalu menambahkan madu ke dalam tehnya.
“Aku sangat menyukai gosip, Lady Selvia. Karena kadang… gosip membawa kebenaran yang tersembunyi.”
Lord Arven, yang duduk di seberang, menyela seolah ingin mengalihkan suasana.
“Yang Mulia, sebaiknya Anda tidak terlalu memikirkan kabar burung. Apalagi banyak yang bilang… posisi Anda pun masih kabar burung.”
Beberapa bangsawan muda tertawa kecil.
Namun Lilyana tidak marah. Ia menatap Arven lurus-lurus, lalu berucap dengan nada ringan, “Bagus sekali, Lord Arven. Ucapanmu membuktikan sesuatu.”
Arven menatap bingung. “Membuktikan… apa?”
Lilyana meletakkan cangkirnya, jemarinya mengetuk pelan meja.
“Bahwa kau menerima informasi langsung dari seseorang. Mungkin… hanya orang itu yang cukup berani mempertanyakan posisiku di depan bangsawan lain.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Ficción históricaBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
