🌻🌻🌻
Malam turun seperti selimut berat di atas kota Quuenrensia. Meski pagi sebelumnya istana tampak tenang, suasana kini tegang bisik-bisik tentang balas dendam mulai berputar di lorong-lorong gelap. Kabut menempel di atap-atap, menelan suara langkah kaki, memberi selubung sempurna bagi rencana yang akan datang.
Di salah satu gudang pinggir kota, api kecil berkedip di antara tumpukan jerami. Di sekitarnya berkumpul wajah-wajah yang pernah dilukai oleh istana: bekas prajurit, anak buah yang kehilangan mata pencaharian, lelaki-laki yang melihat rumah mereka direbut oleh pajak. Di tengah mereka, Ludwig berdiri rambutnya kusut, matanya menyala. Di sampingnya, anggota-anggota barunya menimbang senjata; mereka datang bukan karena nama, melainkan karena janji pembalasan.
"Aku sudah memberi kalian kesempatan untuk hidup biasa," suara Ludwig memotong gelap. "Mereka menyingkirkan kita, mencabut harapan kita. Malam ini kita ambil kembali apa yang adalah milik rakyat atau setidaknya, kita ambil dari mereka yang angkuh."
Teriakan sepakat, denting senjata. Rencana disusun: tiga tim bergerak bersamaan tim gerbang utama, tim menara untuk menundukkan penjaga artileri, dan tim infiltrasi yang akan menembus jalur bawah tanah menuju ruang-ruang privat istana. Mereka bergerak cepat, seperti aral kecil yang menelan waktu.
Di antara bayang-bayang itu, Daysi berdiri. Wajahnya tertutup tudung gelap, matanya menoleh pada Ludwig dengan campuran dendam lama dan rencana baru di kepalanya. Ia berjalan seolah patuh, seolah bergabung sepenuhnya. Di dadanya, detak jantungnya seperti genderang ia harus tetap tenang. Di benaknya bergema perintah Lilyana: jangan lengah.
Ludwig menaruh tangan pada bahunya, menatapnya. "Kau yakin ingin ikut?" suaranya kasar, setengah menguji.
Daysi menunduk sedikit, suaranya lirih tapi tegas. "Aku ikut, Ludwig. Untuk... mengakhiri ini dari akar."
Ludwig menatapnya, ada kilatan kepercayaan dan kebingungan; lalu ia memberi sinyal. Mereka menyatu dengan kegelapan, meninggalkan gudang seperti buih yang pecah di laut malam.
🌻🌻🌻
Di Istana, Lilyana telah mempersiapkan segala sesuatu sebulan lamanya, tapi ini lebih berat: ancaman datang dari dalam dari mereka yang pernah ia pahami dan dari luar yang haus balas dendam. Ia berdiri di ruang takhta, di samping peta kota yang terhampar, memeriksa setiap langkah yang mungkin diambil penyerang.
"Semua pasukan ditempatkan di gerbang timur dan selatan," ucap Gerwyn, suaranya dalam dan mantap. "Ludwig akan datang dari arah selatan, lewat lembah Saphira. Kita harus tahan setidaknya sampai fajar."
Di sisi lain meja, Alasdair, sang Pangeran Mahkota, menatap peta dengan sorot mata tajam. "Aku akan memimpin di gerbang utama. Jika dia benar-benar berani menyerang, maka aku akan menyambutnya sendiri."
"Kita tidak boleh menunggu mereka datang sampai gerbang pecah," katanya kepada Kepala Pengawal Arthur dan beberapa komandan setia. "Kita ambil inisiatif: pengalihan, jebakan, dan garis mundur yang tertata. Utamakan keselamatan rakyat di sekitar istana. Jika kita memaksa pertempuran ke dalam halaman istana, kita akan rugi besar."
Arthur mengangguk tegas. "Kita akan menutup koridor utama, menempatkan langkah jebak di tangga batu, dan menyiapkan minyak panas di bawah pintu-pintu pelabuhan. Para pengawal bisa berpura-pura mundur, menarik mereka ke jalur yang sudah kita dingin-kan."
Lilyana menunjuk beberapa titik pada peta. "Kirim tim kecil ke menara utara sembunyikan pemanah di loteng dan siapkan tali pengikat untuk menahan jebakan. Formasi artileri harus ditempatkan di sisi selatan bukan untuk menembak mereka di jalan, tetapi untuk memblokir pasokan jika mereka mencoba mundur. Kita juga harus menutup semua jalur bawah tanah yang mungkin mereka pakai tutup sumur, kunci pintu-pintu tua, dan letakkan penjaga di setiap lorong gelap."
Di wajahnya, ketegasan bukan sekadar strategi itu adalah janji. Ia juga menyiapkan pesan rahasia untuk warga: keluarga-keluarga di pinggiran istana diberi instruksi menyamar sebagai pasar malam darurat, membawa anak-anak mereka jauh dari tembok kota, agar pertempuran tidak menelan nyawa rakyat tak berdosa.
Namun Lilyana tahu satu hal lagi: pertahanan yang paling penting bukanlah dinding atau jebakan, melainkan informasi. Ia menyusun barisan mata rahasia: pelayan yang setia, pengawal yang lebih tua, hingga beberapa bangsawan yang masih punya rasa malu mereka akan memberi tanda bila ada pergerakan mencurigakan. Di antara mereka, ada satu nama yang ia tunggu Daysi.
Malam semakin larut. Di ruang kecil yang hanya diketahui beberapa orang dekat, Lilyana memahat pesan singkat pada kertas kecil dan menyobeknya menjadi dua. Satu bagian ia lipat, lalu meletakkannya di tempat biasa di balik pot bunga di sudut taman yang hanya pengawal tertentu tahu. Satu bagian lain ia kirim melalui hamba terpercaya ke lorong bawah, kode yang telah ia sepakati dengan Daysi beberapa malam lalu.
Ia menghela napas panjang. "Kalau Ludwig benar-benar menyerang, kita akan tahu darimana mereka datang. Kita tidak akan terkejut."
🌻🌻🌻
Waktu hampir tiba. Gerombolan Ludwig bergerak dalam sunyi, menempel pada bayang-bayang malam. Mereka mendekat ke dinding luar istana dengan tali, pengait, dan sekop kecil; beberapa membawa sinyal terompet kecil untuk saling berkomunikasi. Di salah satu lorong gelap, Daysi bergerak di antara mereka dengan langkah yang tampak alami tetapi setiap kata, setiap sorot matanya, mengandung pesan untuk Lilyana.
Saat mereka dekat ke pintu selatan, Daysi mencuri momen. Ia menyentuh lengan salah satu anak buah Ludwig, menitis sedikit darah dari jari yang dibuat-buat tanda yang telah mereka sepakati: tiga tetes, dua putaran. Itu adalah sinyal yang Lilyana tunggu.
Di menara, seorang pengintai yang setia pada Lilyana menangkap pola itu. Dengan cepat ia mengirim kabar ke pusat komando istana: "Tiga tetes. Selatan. Infiltrasi."
Dalam hitungan napas, halaman istana berubah menjadi perangkap terkoordinasi. Pengawal berpura-pura tipis; barisan yang terlihat lemah sebenarnya menarik musuh ke lorong yang disiapkan, di mana perangkap-panji dan minyak panas menanti. Pemanah tersembunyi di loteng mulai menancapkan panah, bukan untuk membunuh banyak orang, tetapi untuk mengacaukan pergerakan dan memutus koordinasi; beberapa panah diarahkan ke tali pengait untuk membuat gerombolan terjatuh dalam kekacauan.
Dari menara, lonceng peringatan bergetar bukan untuk memanggil semua warga, melainkan untuk mengaktifkan barisan cadangan. Lampu-lampu dimatikan di sayap-sayap istana tertentu, menciptakan zona gelap yang mematahkan formasi musuh. Pasukan elit kerajaan yang disembunyikan di selasar bawah tanah bergerak keluar, memutus jalur mundur gerombolan.
Ludwig terkejut. Serangan yang ia harapkan sebagai pawai kemenangan segera berubah menjadi labirin maut. Ia melihat Daysi di antara pasukannya wajahnya pucat, namun matanya memancarkan kepastian. Sekilas, Ludwig melihat isyarat kecil dari salah satu anak buahnya tanda bahwa sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Kekacauan mulai menganga.
Di tengah kehebohan itu, Daysi melakukan peran yang berbahaya: ia pura-pura memimpin kelompok kecil menuju gerbang samping, menengahi agar mereka tidak terlalu terpencar. Namun, di bawah tudung gelap, ia menyembunyikan pisau kecil yang diarahkan bukan kepada penjaga, melainkan ke ujung tali pengait saat waktu tepat, tali itu harus putus, membuat beberapa pemanjat terjatuh dalam kebingungan yang sudah direncanakan Lilyana.
Dalam kekacauan, suara-suara bergemuruh teriak, denting baja, langkah seribu kaki. Lilyana berdiri tegap di jendela ruangan komando, mengamati dengan mata yang keras namun penuh fokus. Ada momen ketika ia melihat Ludwig menatap pada Daysi sekilas rasa sakit, lalu pengertian pahit seperti melihat bayangan masa lalu yang tak mau lenyap.
Lilyana menarik napas, merasakan beban semua nyawa yang dipertaruhkan. Ia menggerakkan jari, memberi perintah santai sekaligus tajam: "Tutup koridor tiga dan lima. Lepaskan asap di lorong dua. Jangan bunuh bila tak perlu seret mereka ke sana. Fokus pada pemutus koordinasi."
Perang menjadi tarian kecerdasan melawan amarah. Di satu sisi Ludwig, gelombang manusia yang marah namun kehilangan arah di sisi lain Lilyana, sistem yang rapih, dingin, dan kejam dalam efektivitasnya.
🌻🌻🌻
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Fiksyen SejarahBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
