Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Jangan lupa komen
Matahari bersinar terik, namun sinarnya tak lagi membawa hangat hanya memantulkan cahaya ke reruntuhan yang berasap. Di sekeliling Istana Teratai, rakyat dan para pelayan berlarian, berusaha menyelamatkan diri dari batu-batu besar yang runtuh. Tak ada yang tahu apakah masih ada orang di dalam istana. Semua sibuk menyelamatkan diri sendiri.
Di antara kepanikan itu, Lilyana berlari menembus debu, membantu siapa pun yang masih mampu berdiri. Nafasnya tersengal, gaunnya compang-camping terkena debu dan darah orang lain.
Bangunan-bangunan megah kini rata dengan tanah. Paviliun istana yang dulu menjadi kebanggaan kini hanya tinggal puing dan api kecil yang berkobar di antara serpihan batu.
Lilyana tahu, ia hanya beruntung. Saat gempa mengguncang, ia sedang berada di taman istanabmemeriksa persiapan lomba untuk anak-anak desa bersama para Lady debutante. Seharusnya hari ini menjadi hari terakhir kegiatan amal mereka, diakhiri dengan permainan gembira. Tapi alam memutuskan lain.
Ia terus mencari Sandra, satu-satunya orang yang bisa ia percayai sepenuhnya. Sambil membantu para kesatria menyiapkan tenda pengungsian, matanya tak berhenti menyapu reruntuhan, berharap melihat bayangan pelayannya itu.
“Yang Mulia, Anda harus beristirahat,” ucap seorang kesatria dengan wajah cemas.
“Saya masih cukup kuat untuk membantu,” jawab Lilyana cepat.
“Tapi Anda belum berhenti sejak pagi…”
“Dan kau juga belum berhenti. Aku akan beristirahat jika semuanya sudah beristirahat.”
Nada suaranya tegas tak memberi ruang untuk bantahan.
Beberapa langkah kemudian, Isabella menghampiri sambil menunduk hormat.
“Yang Mulia, apa yang bisa saya bantu?”
Lilyana menatapnya dengan lega. Di antara semua Lady debutante, hanya Isabella yang benar-benar bisa diandalkan.
“Catat semua orang yang datang ke Istana Teratai hari ini. Tanyakan kepada para korban yang selamat—siapa yang belum ditemukan. Kita harus tahu apakah masih ada yang terjebak di dalam reruntuhan.”
“Baik, Yang Mulia.”
“Dan panggil beberapa Lady atau pelayan yang bisa membaca dan menulis. Aku ingin laporan sesegera mungkin.”
Walaupun Lilyana bukanlah sosok berhati lembut seperti ibunya, namun ia tahu—setidaknya hari ini, ia tak bisa berpaling. Mungkin ia tak bisa menolong semua orang, tapi ia bisa menolong sebagian.
Tak lama kemudian, Arthur datang menunggang kuda, membawa kabar dari barisan depan.
“Yang Mulia,” katanya sambil menunduk. “Sepertinya pusat gempanya berasal dari gunung api di bagian barat Terraverda. Akses menuju kota lumpuh total. Bantuan dari ibu kota akan terlambat datang. Untuk sementara, kita harus bertahan dengan persediaan yang ada.”
“Apakah Grand Duke Ludwig memiliki cukup persediaan untuk menolong seluruh rakyat Terraverda?” tanya Lilyana serius.
Sebelum Arthur sempat menjawab, suara berat terdengar dari belakang.
“Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Saya memiliki persediaan lebih dari cukup… untuk kita semua.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Fiksi SejarahBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
