⚠️ Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Langit malam muram, hanya obor di taman istana yang berkelap-kelip redup diterpa angin. Lilyana berdiri di tepi kolam, wajahnya diterangi pantulan air yang bergoyang lembut. Senyap. Hanya suara jangkrik dan desir dedaunan menemani pikirannya yang penuh badai.
Langkah kaki mendekat perlahan. Dari balik pepohonan, muncullah Alasdair. Bahunya sedikit tegang, namun matanya menampakkan kelegaan begitu melihat sosok istrinya berdiri sendirian di bawah cahaya pucat.
“Lily… kau di sini rupanya,” ucapnya pelan. “Aku mencarimu sejak sidang tadi. Kenapa kau menghindar?”
Lilyana menoleh perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya, tapi dingin terpancar dari sorot matanya.
“Aku sedang berpikir, Alasdair. Tentang siapa yang sebenarnya bisa kupercaya.”
Alasdair mengerutkan kening, langkahnya melambat.
“Apa maksudmu? Kau… tidak percaya padaku?”
Tatapan Lilyana menembus malam, lurus ke mata suaminya. Suaranya lembut, tapi menusuk seperti bilah perak yang diselubungi sutra.
“Kau pewaris takhta. Cepat atau lambat, semua orang akan menuntutmu memilih antara keluarga, Kaisar, dan para bangsawan. Dan aku…” ia menepuk dadanya perlahan.
“aku hanyalah istri dengan masa lalu yang kelam. Perempuan yang dibenci separuh istana.”
Alasdair berusaha menggenggam tangannya.
“Jangan katakan begitu. Aku berdiri di sisimu”
Namun Lilyana menarik diri sebelum sentuhan itu terjadi.
“Kau bilang berdiri di sisiku sekarang. Tapi nanti, saat tekanan datang dari takhta, saat para bangsawan berbisik di telingamu, saat ayahmu sendiri memintamu memilih antara mahkota atau aku… apakah kau masih akan menggenggam tanganku? Atau justru melepasku demi menyelamatkan dirimu?”
Hening menggantung di antara mereka. Angin malam berembus, membawa dingin yang menusuk ke tulang.
Alasdair menunduk, tak sanggup menjawab.
Senyum getir muncul di wajah Lilyana, namun matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku belajar satu hal dari pasar gelap, Alasdair… pengkhianatan tak datang dari musuh, melainkan dari orang yang paling dekat.”
Ia berbalik meninggalkan taman. Langkahnya tegap, meski hatinya retak. Alasdair hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, hatinya terombang-ambing antara cinta dan kewajiban.
🌻🌻🌻
Di balik tiang batu, bayangan bergerak pelan. Daysi berdiri di sana, menyimak setiap kata yang terlontar. Senyum licin melengkung di bibirnya.
“Lihatlah… bahkan dia tak lagi percaya pada suaminya sendiri. Retakan sudah terbentuk,” bisiknya halus. “Aku hanya perlu meniup sedikit, dan dinding itu akan runtuh.”
Ia berbalik, melangkah ringan menuju paviliun di mana beberapa bangsawan kecil tengah berbincang. Dengan suara selembut sutra, ia menebar racunnya.
“Kasihan Putri Lilyana… katanya cinta mereka kuat, tapi sepertinya ia sendiri takut akan dikhianati oleh suaminya.”
Para bangsawan saling berpandangan. Bisik-bisik mulai beredar di udara, seperti bara kecil yang siap membakar istana dari dalam.
🌻🌻🌻
Keesokan harinya, istana penuh dengan desas-desus.
“Putri Mahkota meragukan Pangeran.”
“Mungkin ia hanya menikah demi takhta.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Fiksi SejarahBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
