⚠️ Typo berserakan⚠️
jangan lupa vote
🌻Happy Reading 🌻
Rantai besi berderit ketika Ludwig dijebloskan ke dalam sel batu. Dingin. Lembap. Bau besi karat menusuk hidungnya. Api obor di lorong berkedip-kedip, seolah mengejek sisa harga diri yang telah direnggut darinya.
Prajurit penjaga menutup pintu jeruji dengan hentakan keras.
"Selamat menikmati tempat barumu, Yang Mulia. Ah, atau mungkin sebutan itu sudah tak pantas lagi, ya? Sekarang kau lebih rendah dari kami!"
Langkah-langkah mereka perlahan menjauh, meninggalkan sunyi yang menyesakkan. Ludwig berdiri menatap dinding kasar di depannya. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya membara penuh kebencian.
Suara hatinya bergemuruh.
Ayah... kau benar-benar membuangku seperti sampah. Alasdair selalu lebih pantas di matamu. Aku hanya bayangan. Ibuku dibunuh, aku dipermalukan, dan kini kau lempar aku ke lubang busuk ini.
Tangannya mengepal kuat hingga kuku menusuk telapak. Setetes darah jatuh ke lantai batu.
"Tapi aku tidak akan mati di sini. Aku akan keluar... dan saat itu tiba, kalian semua akan membayar. Kau, Kaisar... kau, Lily... dan juga Daysi yang menertawakanku diam-diam."
Langkah berat terdengar mendekat dari kegelapan. Seorang pria tua muncul di balik jeruji sel sebelah jubahnya compang-camping, matanya keruh, namun suaranya rendah dan berbisik tajam.
"Kau benci istana, anak muda? Hahaha... Menara Hitam menyimpan banyak rahasia. Dan aku tahu jalan keluar. Tapi ingat setiap kebebasan... ada harganya."
Ludwig menoleh tajam.
"Siapa kau?"
Pria tua itu tersenyum, menyingkap lengan yang dipenuhi tato simbol kuno. "Aku... bayangan yang dibuang sebelum kau. Jika kau mau, aku bisa tunjukkan jalan keluar. Tapi kau harus berjanji... ketika bebas, kau akan membakar istana itu sampai rata dengan tanah."
Ludwig terdiam sesaat, lalu perlahan sebuah senyum kejam muncul di wajahnya. "Janji? Tidak perlu. Itu memang sudah rencanaku."
Obor kembali berkedip, seakan menyetujui perjanjian gelap yang baru saja lahir di Menara Hitam.
Angin dingin merayap lewat celah jeruji. Ludwig duduk di lantai batu, menatap obor yang redup. Pria tua misterius itu mendekat, menyelipkan sesuatu kecil lewat celah besi sebuah jarum tipis berkilau di dalam kegelapan.
"Penjara ini tak bisa ditembus dengan kekuatan," bisiknya. "Tapi kuncinya... lebih rapuh dari yang kau kira. Besok malam, para penjaga akan mabuk. Aku yang akan pastikan itu."
Ludwig menggenggam jarum itu erat.
"Dan setelah itu?"
Pria tua itu tertawa kecil.
"Terowongan di bawah sel ini menghubungkan Menara Hitam dengan pelabuhan lama. Hanya sedikit yang tahu bahwa jalurnya masih hidup. Jika kau bisa membuka jeruji, kita akan bebas... menuju laut."
Ludwig menunduk menatap lantai batu, membayangkan kebebasan namun bukan untuk kabur.
"Bebas... untuk apa? Tidak. Ini hanya permulaan. Aku akan kembali, dan menjadikan semua ini awal dari kehancuran mereka."
Ludwig menatap tajam ke arah pria tua itu.
"Katakan namamu."
Pria itu tersenyum samar.
"Orang-orang dulu memanggilku... Varnek. Mantan tangan kanan Kaisar. Sebelum Alferd yang sok suci itu membongkar rahasiaku dan memasukkanku ke lubang kotor ini. Aku juga punya hutang darah pada istana terutama pada keluarga Ternay. Mereka membunuh cintaku dan menghancurkan hidupku."
Nama itu asing bagi Ludwig, tapi ia tahu satu hal: setiap musuh istana adalah sekutu.
Ludwig berbisik pelan, hampir seperti sumpah:
"Kalau begitu, Varnek... mari kita robek singgasana itu bersama-sama. Kaisar, Alasdair, Lily, bahkan Daysi... semua akan melihat api balas dendamku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Ficção HistóricaBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
