⚠️ Typo berserakan ⚠️
jangan lupa Vote
🌻 Happy Reading 🌻
Sandra berjalan membawa baki kosong setelah selesai mengantarkan teh untuk para penjaga. Saat melintas di aula besar, langkahnya terhenti ketika mendengar suara lirih dari balik pilar marmer.
Dari celah sempit itu, ia melihat Lady Daysi berdiri sangat dekat dengan Pangeran Alasdair. Senyum licik menghiasi wajah Daysi, sementara Alasdair tampak muram seolah memikul beban yang terlalu berat untuk ditanggung seorang manusia.
Sandra menahan napas, menutup mulut rapat agar tak bersuara. Jantungnya berdegup kencang.
“Lady Daysi… berani sekali mendekati Yang Mulia Pangeran sedekat itu…” gumamnya pelan.
Ketika mendengar Daysi berkata lembut, “Saya hanya ingin memastikan Anda tidak sendirian menghadapi badai ini…” mata Sandra melebar ngeri.
Tanpa pikir panjang, ia segera mundur perlahan, lalu berlari menembus koridor panjang. Rok pelayannya berkibar di udara, menandai kepanikan yang kini ia bawa bersamanya.
🌻🌻🌻
Lilyana duduk di depan cermin besar, menyisir rambut panjangnya dengan gerakan perlahan. Pikirannya kalut tentang hubungan yang kian renggang dengan Alasdair, gosip yang beredar tanpa henti, dan tekanan dari para bangsawan istana yang menuntut kesempurnaan darinya setiap detik.
Pintu tiba-tiba terbuka. Sandra masuk terburu-buru dan langsung berlutut di lantai marmer yang dingin.
“Putri… maafkan kelancanganku. Tapi aku melihat sesuatu yang harus Anda tahu.”
Lilyana menoleh perlahan, tatapannya tajam namun tetap tenang.
“Katakan, Sandra.”
Dengan suara bergetar, Sandra menceritakan segalanya tentang Daysi yang mendekati Pangeran larut malam, dengan nada penuh simpati dan kelembutan yang mematikan, serta bagaimana Alasdair diam tanpa menolak.
Raut Lilyana mengeras. Ia meletakkan sisirnya di meja dan berdiri, setiap gerakannya memancarkan ketenangan yang berbahaya.
“Jadi, kakakku yang manis mulai berani meraih apa yang bukan miliknya. Dan suamiku… tampaknya mulai goyah oleh bisikan lembut itu.”
Lilyana melangkah ke jendela, menatap bulan purnama yang menggantung sendu di langit malam.
“Bagus. Kalau begitu, aku akan biarkan mereka bermain sedikit lebih jauh… sampai tiba saatnya aku menutup permainan ini dengan tanganku sendiri.”
Sandra menunduk dalam, wajahnya tegang.
“Apakah… Anda akan menjebak mereka, Yang Mulia?”
Lilyana menoleh perlahan, senyum samar menghiasi bibirnya.
“Bukan sekadar jebakan, Sandra. Aku akan membuka topeng mereka di hadapan semua mata yang kini meragukanku.”
🌻🌻🌻
Cahaya lilin menyorot wajah Lilyana dingin, namun menawan. Sandra berdiri di sisinya, menunggu perintah dengan penuh waspada.
“Sandra,” ujar Lilyana pelan, “sebarkan kabar bahwa aku tidak dapat menghadiri jamuan makan malam besok. Katakan aku sedang sakit terlalu lemah untuk meninggalkan kamar.”
Sandra menunduk cepat. “Baik, Yang Mulia. Dan setelah itu?”
“Setelah itu,” jawab Lilyana dengan lirih namun tajam, “aku ingin tahu seberapa jauh Daysi akan berani melangkah jika aku tak ada. Dan yang lebih penting… apakah Alasdair akan membiarkan dirinya terjerat.”
🌻🌻🌻
Aula kecil istana malam itu dipenuhi tawa bangsawan dan kilau anggur merah. Lilyana, seperti rencana, tidak hadir.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
