⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Jangan lupa komen
Setelah kepulangan mereka dari Nordhagen, Lilyana mencoba kembali beraktivitas seperti biasa. Ia mengurus kediaman, menghadiri pesta teh, serta beberapa acara sosial yang diadakan bangsawan lain. Namun sore harinya sebelum Alasdair kembali ke kediaman mereka Lilyana selalu menyelinap keluar sebentar, menuju penginapan miliknya, untuk memeriksa keadaan bisnis yang akhir-akhir ini menarik terlalu banyak perhatian.
Dari laporan para mata-mata kepercayaannya, Pangeran Kedua kini sedang menyelidiki usahanya atas perintah langsung dari Kaisar. Untungnya, Lilyana sudah memindahkan pusat bisnis itu ke sebuah kota kecil di pinggiran barat. Restoran dan penginapan yang dulu menjadi pusat kegiatan kini hanyalah bangunan biasa yang berfungsi sebagaimana mestinya — topeng sempurna untuk menipu siapa pun yang mencoba mengendus lebih dalam.
Sore itu, Lilyana duduk di salah satu restoran rakyat yang tak jauh dari penginapan. Ia menyamar dengan kain lembut yang menutupi sebagian wajahnya. Di tempat seperti ini, penyamaran adalah kewajiban terutama bagi perempuan muda. Penculikan, pemerasan, bahkan perdagangan manusia menjadi hal yang kerap terjadi di antara rakyat jelata.
Seorang pria datang dan menunduk dalam-dalam di hadapannya.
“Ini, Lady, dokumen yang Anda minta.” Ia menyerahkan amplop kecil bersegel merah.
Lilyana menerima tanpa menatap lama. “Kau boleh meminta kenaikan upah pada Jane mulai bulan depan. Tapi tetap laksanakan tugasmu seperti biasa. Aku tak ingin pihak bangsawan, apalagi kekaisaran, mengetahuinya.”
Suara Lilyana tenang, tapi tegas penuh otoritas yang terbungkus kelembutan.
“Terima kasih, Lady.”
“Kembalilah bekerja. Dan jangan pernah datang lagi ke tempat ini. Aku tak suka wajah yang sama muncul dua kali di satu tempat.” Ia tersenyum samar di balik penutup wajahnya, senyum yang dingin namun memikat. “Hati-hati di jalan, dan langsung pulang.”
Pria itu menunduk, lalu pergi.
Lilyana mengaduk tehnya pelan, memperhatikan cermin kehidupan di sekitarnya: tawa rakyat, aroma roti gandum, suara sendok beradu dengan cangkir. Dunia mereka tampak sederhana dan justru di situlah keindahannya.
Beberapa menit kemudian, ia meletakkan tiga koin emas di meja, berdiri, dan keluar dari restoran. Namun bukannya kembali ke kediaman, ia menunggang kudanya menuju hutan kecil di luar kota.
Naluri bisnis atau mungkin naluri bertahan hidupnya memintanya memastikan sesuatu.
Dari balik pepohonan, ia melihat pemandangan yang meneguhkan kecurigaannya: pria kurir yang tadi menemuinya kini tengah berbicara dengan seorang bangsawan berpakaian rapi. Lilyana mengenali lambang di jubah pria itu — fraksi Pangeran Kedua.
Kurir itu menyerahkan kantong kecil berisi sesuatu.
“Jadi kau benar-benar menjualku,” bisik Lilyana lirih, senyumnya tipis, tapi matanya menyala dengan kemarahan dingin.
Ia tidak perlu mendekat. Cukup satu pandangan itu untuk tahu, pengkhianatan telah dimulai. Dengan tenang, Lilyana menarik tali kudanya dan berbalik meninggalkan tempat itu.
🌻🌻🌻
langit sudah berwarna senja saat Lilyana tiba di rumah. Di depan gerbang, Alasdair berdiri menunggunya wajahnya dingin, matanya redup tapi tajam seperti bilah pedang.
“Dari mana saja kau?”
Suara Alasdair meninggi, menggema di udara sore yang berat.
Lilyana tertegun. Ia belum pernah dibentak oleh siapa pun tidak di dunia ini, tidak juga di dunia sebelumnya. "Aku dari pasar,” jawabnya datar. “Aku bosan terus-terusan di rumah.”
Ia melangkah melewatinya, tapi Alasdair menahan langkahnya.
“Tidak bisakah kau diam di rumah? Tidak bisakah kau seperti Daysi? Sebelum menikah, kau bahkan jarang keluar dari kediaman Ternay tapi sekarang kau tidak betah berada di rumah!”
Langkah Lilyana berhenti. Ia berbalik perlahan, sorot matanya tajam dan penuh amarah yang ditahan.
“Jika kau masih belum bisa melupakan Daysi,” katanya dengan suara bergetar, “maka pergilah nikahi mayatnya.”
“Lily—”
“Dan satu hal lagi,” potong Lilyana dingin. “Tempat yang kau sebut ‘kumuh’ itu adalah tempat rakyatmu hidup. Jika itu menjijikkan bagimu, maka kau tak pantas disebut calon Kaisar.”
Alasdair menahan napas, rahangnya menegang. “Aku memperingatkanmu untuk tidak datang ke sana lagi.”
“Apa pedulimu padaku?” Lilyana mengangkat dagunya, suaranya penuh perlawanan. “Bukankah kita sudah sepakat untuk tak mencampuri urusan pribadi masing-masing?”
“Tidak bisakah kau menurut!” seru Alasdair, nada suaranya nyaris kehilangan kendali.
“Aku bukan gadis yang bisa diperintah, Airy!” Lilyana menatapnya tajam. “Bahkan ayahku sendiri tak bisa menundukkanku!”
Mendengar itu, Alasdair menarik napas panjang, lalu memberi perintah dingin kepada para pengawal:
“Kunci Putri Mahkota di kamarnya. Jangan biarkan ia keluar.”
Lilyana berontak, matanya berair tapi tatapannya tak gentar.
“Aku membencimu, Alasdair! Lepaskan aku—bajingan!”
Sudah tiga hari berlalu. Pintu kamar tetap terkunci. Tak ada kabar dari Alasdair; pria itu seolah menghilang. Anehnya, Lilyana tidak terlalu gelisah. Dalam kesepian itu, ia menemukan sedikit kebebasan: tidak ada pesta, tidak ada senyum palsu, tidak ada mata-mata bangsawan yang mengintai.
“Sandra,” ucapnya lembut, menatap pelayannya yang setia. “Katakan pada Jane untuk mengirim Patrick ke hutan terlarang. Naikkan gajinya dua kali lipat, tapi kirimkan langsung ke keluarganya. Jangan lewat tangannya.”
“Baik, Yang Mulia.” Sandra menunduk. Raut wajahnya penuh kekhawatiran.
“Satu lagi,” lanjut Lilyana. “Pastikan para kesatria bayangan yang diperintahkan Alasdair tidak mengetahuinya. Aku tahu ada tiga orang yang membuntutiku.”
Sandra hanya bisa mengangguk, tak berani menatap mata tuannya yang kini semakin tenang namun misterius.
“Dan pergilah ke kediaman Duke Sandrick,” tambah Lilyana pelan. “Ambil buku harianku dari Bibi Helena.”
“Baik, Yang Mulia.”
Keheningan mengisi ruangan sesaat. Lalu Lilyana menatap jendela, matahari sore memantul di iris keemasannya.
“Sandra…” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. “Aku rindu Ayah. Bisakah kau katakan pada Alasdair, aku ingin berkunjung ke rumah Ayahku?”
Sandra tersenyum getir. “Tapi, Yang Mulia… Pangeran Mahkota sedang berada di Kerajaan Pilomena.”
Lilyana terdiam. Nama itu membuat pikirannya berputar. Pilomena — kerajaan yang tahun lalu mengirimkan lamaran untuknya.
“Raja Charles ingin memisahkan kerajaannya dari Kekaisaran Queenrensia,” jelas Sandra hati-hati. “Ia merasa dikhianati karena Kaisar menjodohkan Anda dengan Pangeran Mahkota.”
Lilyana hanya menatap kosong ke luar jendela, matanya menyipit menatap horizon.
“Jadi, Alasdair yang turun langsung menghadapi Raja Charles?”
“Iya, Yang Mulia.” Sandra tersenyum kecil. “Sepertinya… Pangeran Mahkota sangat mencintai Anda.”
Lilyana menunduk pelan, jemarinya menggenggam renda gaunnya. Entah kenapa, hatinya terasa hangat sekaligus perih.
To be continued
Maaf baru muncul sekarang.
Mudah-mudahan masih ada yang menunggu cerita ini .
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
