Capture 64

1.4K 64 2
                                        

⚠️ Typo berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻 Happy Reading 🌻

jangan lupa komen


---

Kabar pelarian Grand Duke Ludwig telah menyebar ke seluruh Kekaisaran. Para bangsawan gelisah, istana penuh bisik-bisik dan tatapan curiga.

Namun yang paling resah di antara mereka adalah permaisuri Raline. Ia duduk sendirian di kamarnya tanpa Iris, sekutu kuatnya yang kini diasingkan jauh dari ibu kota.

Di sisi lain istana, Lilyana duduk anggun di singgasana kecilnya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, sementara Sandra, sang pelayan setia, berdiri di sampingnya, siap menghadapi segala situasi.

“Yang Mulia,” bisik Sandra lembut, “tanpa Grand Ducess, Permaisuri akan lebih mudah terpancing.”

Lilyana mencondongkan tubuh, matanya berkilau penuh intrik.
“Bagus, Sandra. Lebih mudah memancing kepanikan seseorang yang sendirian. Tanpa sekutu, setiap kesalahan bisa kuubah menjadi jebakan.”

Lilyana membuka gulungan perkamen, memperlihatkan catatan yang tampak berkaitan dengan pelarian Ludwig. Beberapa pelayan yang melihat bocoran itu segera menyebarkan kabar ke seluruh istanabahwa Putri Mahkota Lilyana sedang menyiapkan strategi rahasia.

Kabar itu menyebar cepat, seperti bara yang menyulut ketakutan.
Dan tepat seperti yang diharapkan Lilyana, Raline mulai kehilangan ketenangannya.

🌻🌻🌻

Raline duduk sendirian di ruang pribadinya. Jemarinya gemetar saat menggenggam cangkir teh yang sudah dingin. “Tanpa Iris di sini…” bisiknya, “aku harus berhati-hati. Satu langkah salah, dan Lilyana bisa menjebakku di depan Kaisar.”

Namun setiap gerakannya, setiap kata yang keluar dari bibirnya, sudah diamati oleh mata-mata Lilyana yang bersembunyi di bayang-bayang istana.

Lilyana, di balik tirai singgasananya, tersenyum tipis.
“Sendirian dan panik…,” gumamnya pelan, “Permaisuri mulai kehilangan kendali. Semakin dia gegabah, semakin mudah aku menarik benang dan menjeratnya di hadapan Kaisar.”

🌻🌻🌻

Balairung Kekaisaran dipenuhi para bangsawan.

Kaisar duduk di singgasananya yang menjulang, tongkat emas di tangan. Tatapannya tajam, memeriksa satu per satu wajah yang berdiri di hadapannya.

Permaisuri Raline berdiri di sisi ruangan. Wajahnya pucat, dagunya tegang, dan tanpa Iris di sisinya ia tampak seperti bayangan dari kekuasaan yang dulu ia pegang.

Ketika pintu balairung terbuka, Lilyana  masuk dengan langkah anggun. Gaun peraknya berkilau lembut dalam cahaya lilin istana, sementara senyum tipis di wajahnya membuat udara seakan menegang.

“Yang Mulia Kaisar, para bangsawan terhormat,” ucapnya, suaranya lembut namun jelas menggema, “aku baru saja menerima laporan penting terkait pelarian Ludwig. Izinkan aku menyerahkannya.”

Ia memberikan gulungan perkamen kepada Kaisar. Saat dibuka, seluruh ruangan terdiam.
Di sana tertulis daftar bangsawan yang diam-diam berhubungan dengan Ludwig beberapa bahkan diketahui memberi bantuan rahasia.

Suasana menegang. Para bangsawan saling pandang dengan wajah pucat.
Raline menatap gulungan itu, dadanya berdebar keras. Tidak mungkin… tidak mungkin dia sudah tahu sejauh ini…

Lilyana menunduk hormat, lalu menatap Raline dengan tatapan halus namun menembus. “Yang Mulia, ini bukan tuduhan tanpa dasar. Dokumen ini menunjukkan bahwa ada pihak yang memanfaatkan kekacauan demi keuntungan pribadi. Jika kita tidak segera bertindak…” ia berhenti sejenak, lalu menatap Kaisar tajam, “…bahaya akan mengintai istana kita sendiri.”

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang