Capture 54

1.7K 90 5
                                        

⚠️Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻




Pedang beradu, jeritan memecah udara pengap. Pasukan Ludwig yang berkhianat berusaha mendobrak barisan bayangan milik Lilyana. Namun, sesuatu terasa aneh—setiap lorong yang mereka masuki, setiap jalan keluar yang mereka pikir bisa dipakai... semuanya tertutup rapat.

Antoni, berlumuran darah musuh, menyeringai ke arah Ludwig.
“Kau pikir bisa masuk ke sarang Sang Ratu lalu keluar hidup-hidup? Semua lorong sudah dikunci sebelum kau tiba.”

Lilyana turun dari singgasananya, langkahnya anggun meski lantai basah oleh darah. Rambutnya tergerai, dan cahaya obsidian di mahkotanya berkilau. Ia menatap Ludwig tanpa amarah—hanya tatapan seorang penguasa yang sudah tahu akhir dari permainan ini.

“Kau pandai mengatur pion, Ludwig,” suaranya jernih, menenggelamkan riuh pertempuran. “Tapi sayang, kau bermain di papan catur milikku. Apa kau pikir aku tak tahu saat kau menyusupkan bisikan ke telinga Permaisuri? Apa kau pikir aku tidak punya mata di istana?”

Ludwig menggertakkan gigi.
“Kau hanya menggertak.”

Lilyana menepuk tangannya dua kali.

Dari balik tirai merah, muncullah seorang lelaki bertudung kepala—penyelundup yang Ludwig yakini sudah berpihak padanya. Namun lelaki itu justru melempar sesuatu ke lantai: gulungan perkamen penuh tanda tangan dan cap darah para pengikut Ludwig.

Kerumunan terhenyak. Itu adalah daftar pengkhianat yang Ludwig rekrut secara rahasia.

Lilyana tersenyum tipis.
“Setiap orang yang kau bisiki... sudah lama berlutut padaku. Mereka menuliskan namamu, Theo, dan menandatangani nasibmu. Kau tak merekrut mereka akulah yang meminjamkan mereka padamu. Sudah berapa kali kukatakan, kau takkan pernah bisa menggantikan posisiku di sini!”

Wajah Ludwig menegang. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangannya retak.
“Kau... menjebakku sejak awal.”

Lilyana mendekat, menunduk hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Ludwig. “Tidak, Theo. Kau menjebak dirimu sendiri dengan keserakahanmu. Aku hanya menunggu kau menggali lubangmu lebih dalam.”

Ia melangkah mundur, mengangkat tangannya tinggi.
“Bayangan, tunjukkan pada pangeran kita... siapa yang benar-benar berkuasa.”

Ribuan mata merah menyala serempak dalam kegelapan. Suara senjata diangkat bersamaan, menggema seperti genderang kematian.

Ludwig, terdesak, menghunus pedangnya.
“Aku tidak akan jatuh di tanganmu, Lily!”

Pertarungan pribadi pecah. Pedang Ludwig beradu dengan pedang hitam Antoni, sementara Lilyana berdiri bagai hakim di tengah kobaran api pertempuran.

Namun di sela dentuman logam, suara Lilyana tetap tenang:
“Kalau kau berhasil lolos malam ini, Theo, kau hanya akan menjadi hantu. Karena mulai saat ini, setiap lorong, setiap bayangan, bahkan udara di sekitarmu akan berbisik satu nama... Jasmine. Dan saat bisikan itu sampai di telinga Kaisar, bukan hanya pasar gelap yang memburumu, tapi seluruh kekaisaran.”

Benturan pedang menyalakan percikan api di udara. Antoni menekan Ludwig dengan kekuatan penuh, memaksanya mundur sedikit demi sedikit.
“Menyerah, pengkhianat!” desis Antoni, pedangnya hampir menebas wajah lawannya.

Namun Ludwig cerdik. Ia menyambar tabung asap dari ikat pinggang salah satu pengikutnya yang tumbang dan memecahkannya ke lantai. Kabut hitam pekat menyelimuti ruangan, membuat pasukan bayangan terhuyung karena racun halus yang terkandung di dalamnya.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang