⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
please komen kalau misalnya alurnya udah berubah.
Langit-langit aula seakan merunduk menahan ketegangan. Suara Lord Gerhart masih menggema, dan para bangsawan menunggu menahan napas dalam diam yang mencekik.
Alasdair berdiri kaku. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap dingin, meski di dadanya badai mengamuk. Cincin itu... yang dulu hanya simbol kecil, kini berubah menjadi jerat yang siap merobek lehernya.
Permaisuri menurunkan kipasnya perlahan. Suaranya tenang, namun tajam seperti pisau bersarung beludru.
"Lord Gerhart, kau berani mengangkat isu yang begitu sensitif di hadapan semua orang. Apakah kau membawa bukti, atau sekadar mengandalkan bisikan gelap di koridor istana?"
Lord Gerhart menunduk dalam, tetapi suaranya tetap tegas.
"Hamba hanya mengulang apa yang beredar, Yang Mulia. Dan seluruh kaisaran akan menuntut jawaban jika desas-desus ini dibiarkan."
Tatapan para bangsawan serentak beralih kepada Alasdair. Lilyana menatapnya dalam-dalam, matanya penuh arti seolah mengingatkan kata-katanya semalam:
"Kau membunuh rahasiaku... atau aku membunuh rahasiamu."
Daysi, dengan senyum samar di wajahnya, menurunkan kipas seakan bosan. Namun kilatan matanya, cepat dan tajam, melirik ke arah bangsawan tua itu. Senyum itu terlalu manis, terlalu tepat untuk tidak dicurigai sebagai pancingan.
Alasdair membuka mulut, tapi sebelum kata keluar, Lilyana berdiri perlahan. Gerakannya anggun; suaranya bening, namun menusuk telinga.
"Lord Gerhart, jika cincin itu benar pernah berada di tangan Pangeran Mahkota, maka artinya ada pengkhianat yang berusaha mengaitkan nama besar beliau dengan tragedi memalukan. Pertanyaannya bukan apakah cincin itu miliknya, melainkan siapa yang berani menodai martabat kerajaan dengan permainan kotor semacam itu."
Beberapa bangsawan terperangah. Lilyana tidak menyangkal tuduhan, namun membelokkannya dengan lihai. Ia tidak melindungi Alasdair secara terang-terangan, tapi juga tidak membiarkannya jatuh.
Daysi menegakkan tubuh, senyum hangat menghiasi wajahnya.
"Oh, adikku benar. Kita tidak boleh menuduh terburu-buru. Tapi... tentu saja, jika cincin itu memang pernah melekat di jari beliau, bukankah alangkah indah bila Pangeran Mahkota sendiri yang memberi penjelasan? Itu akan menghapus keraguan di hati semua orang."
Tatapan seisi ruangan kembali menghunjam Alasdair. Udara seakan menahan napas.
Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia bisa merasakan tatapan Lilyana yang menusuk, jeratan halus dari senyum Daysi, dan bayangan ayahnya Kaisar yang seolah mengintai dari balik tirai kekuasaan.
Namun sebelum ia bicara, suara berat bergema dari balkon atas. Seorang pria bertopeng berdiri di sana, sosok yang sama seperti bayangan malam sebelumnya. Suaranya serak, tapi setiap katanya mengiris udara.
"Cincin itu... memang milik Pangeran Mahkota."
Riuh rendah langsung memenuhi aula. Para bangsawan setengah berdiri, dan Permaisuri sempat membeku sesaat sebelum wajahnya kembali dingin dan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Narrativa StoricaBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
