⚠️ Typo berserakan ⚠️
jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
jangan lupa komen
Balairung Kekaisaran Queenresia bergetar oleh bisikan para bangsawan. Gemerincing perhiasan dan gemersik kain sutra bercampur dengan napas gugup yang tertahan. Gurauan beracun Lady Lilyana telah meluncur seperti mata pisau yang meleset tipis dari leher Kaisar—cukup tajam untuk menggores, namun tidak meneteskan darah.
Kaisar sempat tertawa, namun semua yang ada di ruangan itu tahu—tawa itu dingin, seperti bunyi rantai besi yang diseret di ruang gelap.
Lalu, langkah lembut terdengar. Daysi, sang putri ungu, maju dengan gerak anggun bagaikan bunga beracun yang baru mekar di taman malam. Gaunnya berkilau di bawah cahaya lilin kristal, kipas di tangannya menutup senyum yang terlalu manis untuk dipercaya.
“Adikku yang manis…” ucapnya lembut, tapi suaranya membawa racun yang menyelinap ke telinga setiap orang. “Betapa lihainya kau bermain kata. Bahkan gurauanmu pun mampu membuat seluruh balairung ini gemetar.”
Ia mengibaskan kipas perlahan, tatapannya menembus seperti pisau kaca.
“Tapi… apakah itu benar hanya gurauan? Atau sebenarnya… ancaman halus?”
Balairung bergemuruh. Para bangsawan saling berpandangan, mata mereka menyala oleh ketakutan dan rasa ingin tahu.
Daysi tersenyum, langkahnya maju setapak.
“Coba kita pikirkan,” lanjutnya dengan suara yang manis tapi menusuk. “Jika benar Kaisar pernah membeli racun darimu, Lilyana… maka itu berarti kau menyimpan rahasia Yang Mulia. Dan sekarang, kau menggunakannya sebagai tameng, bukan? Seakan berkata, *‘Sentuh aku, maka aku akan membuka semua aibmu.’*”
Seketika udara menjadi berat. Sebagian bangsawan menutup mulut, sebagian menunduk, takut tatapan Kaisar akan menemukan mereka.
“Bukankah itu pemerasan halus terhadap Kaisar sendiri?”
Senyum Daysi melebar, indah sekaligus kejam.
“Bayangkan… Ratu Pasar Gelap ini suatu hari duduk di singgasana Permaisuri. Setiap dari kalian akan menjadi bonekanya, karena ia tahu rahasiamu. Ia akan menjualnya… atau menyimpannya, bila itu menguntungkan baginya.”
Bisik-bisik makin keras. Ketegangan menjalar seperti racun dari cawan emas.
Kaisar duduk tegak, jemarinya menggenggam tongkat emas di tangannya. Tatapannya dingin, tak terbaca.
Namun Lilyana hanya tersenyum. Ia melangkah maju perlahan, gaun biru safirnya bergemerisik lembut di atas lantai marmer, seperti riak air yang menutupi kedalaman maut.
“Pemerasan, katamu, Kakakku?” ucapnya ringan, dengan nada lembut yang justru menggetarkan. “Jika aku ingin memeras, tentu aku sudah melakukannya sejak lama. Bukankah rahasia yang kubawa cukup untuk menjatuhkan siapa pun di ruangan ini? Tapi anehnya…” Lilyana berhenti, menatap Daysi dengan mata yang berkilau dingin, “…rahasia itu tetap terkubur sampai hari ini.”
Ia mencondongkan sedikit tubuhnya, suaranya nyaris seperti bisikan:
“Mungkin yang sebenarnya takut… bukanlah aku, melainkan seseorang yang punya terlalu banyak rahasia untuk disembunyikan.”
Seperti bara kecil yang dilempar ke minyak panas, kerumunan meledak oleh desahan dan bisikan. Tatapan-tatapan mulai beralih, kali ini ke arah Daysi.
Daysi membuka mulut, namun sebelum sempat berbicara, Kaisar mengangkat tangannya. Seketika, keheningan jatuh seperti kabut tebal yang menelan seluruh ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Fiksi SejarahBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
