Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Jangan lupa komen
---
Matahari bersinar terik di langit Terraverda. Udara hari itu begitu panas hingga membuat keringat mengalir dari pelipis para Lady bangsawan yang biasanya jarang bersentuhan langsung dengan kerja keras. Kali ini, mereka tidak dibantu oleh pelayan pribadi. Semua harus dikerjakan dengan tangan mereka sendiri, mulai dari menyiapkan perlengkapan makan, memasak, hingga membersihkan meja.
Bagi banyak Lady, kegiatan amal ini terasa seperti penyiksaan terselubung. Meski selama di akademi mereka diajarkan tata boga dan etika rumah tangga, pada kenyataannya mereka selalu memiliki pelayan untuk melakukannya. Kini, untuk pertama kalinya, tangan-tangan halus itu benar-benar bekerja.
“Ini sungguh berat,” keluh Emma, meletakkan tumpukan piring dengan napas terengah.
“Jika kau terus mengeluh, pekerjaanmu tidak akan selesai lebih cepat,” sahut Isabella dingin, berjalan tegap di depannya tanpa menunjukkan tanda-tanda lelah sedikit pun.
Emma mendengus kesal, lalu mempercepat langkahnya. “Kalau bukan karena dipaksa ayahku, aku tak akan ikut kegiatan bodoh ini! Apa gunanya bagi kekaisaran menyiksa kita begini? Mereka ingin menjadikan kita pelayan, bukan Lady!”
Isabella menoleh setengah, senyum sinis terukir di bibirnya. “Kau tidak ingin seperti Countess Diana? Ia menjadi tangan kanan Permaisuri.”
Emma mengangkat alis. “Hmm… kedengarannya menarik, tapi aku tidak tertarik menjadi kaki tangan siapa pun. Aku hanya ingin menjadi nyonya di rumahku sendiri, menemani suami bangsawanku menghadiri undangan kerajaan sesekali. Itu sudah cukup.”
Isabella tersenyum kecil, menatap jauh ke depan. “Hanya kau yang tidak berpikir panjang, Emma. Siapa pun yang menjadi pelayan pribadi Putri Lilyana akan memperoleh pengaruh besar. Semua tahu Putri Lilyana terkenal cantik dan berhati lembut bahkan tak pernah menghukum pelayannya. Dan jika menjadi tangan kanan Permaisuri, kau bisa memerintah siapa pun sesukamu… bahkan selir kaisar pun harus menunduk.”
Emma terkekeh geli. “Kau sudah memikirkannya sejauh itu, Isabel?”
Isabella menyipitkan mata, penuh ambisi. “Tentu saja. Aku ingin seperti mendiang ibuku pelayan pribadi Permaisuri sejak beliau masih putri. Itu membuka banyak jalan… termasuk untuk menikah dengan pria terhormat.” Ia menatap Emma tajam.
“Kau tak tertarik dengan Tuan Muda Arthur? Ia memang bukan pewaris keluarga Marquis, tapi ia tangan kanan Pangeran Mahkota. Itu jauh lebih menguntungkan daripada menikah dengan pewaris Viscount miskin yang hanya punya nama.”
Emma menatapnya dengan ekspresi geli. “Wah, kau sudah menghitungnya dengan sangat matang. Tapi sepertinya Charlotte punya ambisi berbeda. Kudengar ia ingin menjadi selir Pangeran Mahkota.”
Isabella langsung berhenti melangkah. “Dari mana kau mendengar omong kosong itu?”
Emma mendekat, menurunkan suaranya dengan gaya seorang penggosip ulung. “Tingkahnya terlalu berlebihan. Ia terang-terangan berusaha mendekati Permaisuri. Aku yakin kejadian kemarin saat ia menendang kakimu bukanlah kebetulan. Ia cemburu melihat kedekatan Putri Lilyana dan Pangeran Mahkota.”
“Jaga ucapanmu, Emma,” bisik Isabella sambil melirik sekitar. “Gadis itu bukan lawan yang bisa diremehkan. Ia berbahaya. Aku tak heran jika kegilaan ayahnya menurun kepadanya.”
Emma terkekeh sinis. “Lihat saja, ia menempel terus pada Permaisuri. Dan aku tidak sengaja mendengar percakapan Charlotte dan Sofia di taman dekat danau gadis itu berniat menyingkirkan Putri Lilyana untuk membalas dendam keluarganya kepada keluarga Ternay.”
Isabella terpana. “Apa gadis itu sudah gila? Mustahil ia bisa menyingkirkan Putri Lilyana! Semua tahu Pangeran Mahkota sangat mencintai istrinya. Bahkan ia sendiri menentang Kaisar Charles demi mempertahankan pernikahannya dengan Lilyana.”
Emma mengangguk cepat. “Ya, dulu Raja Charles menolak menikah dengan Lilyana karena percaya gosip bahwa Putri Ternay buruk rupa. Tapi ketika wajahnya terungkap, semua berubah. Ia tergila-gila dan ingin mempercepat pernikahan mereka—sayang, Lilyana sudah menjadi istri Pangeran Mahkota. Raja itu pantas dipermalukan.”
Isabella menatapnya tajam. “Kecilkan suaramu, Emma! Jangan cari masalah.”
Namun, belum sempat Emma menanggapi
“Kring... Kring...”
Bunyi lonceng menandakan jam makan siang telah tiba.
Semua Lady bergegas ke meja masing-masing, mengambil posisi sesuai tugas yang telah ditentukan. Emma bertugas membagikan piring, Isabella di bagian ayam panggang, dan di sebelahnya tentu saja Charlotte Vaelor, yang bertugas membagi buah.
Charlotte menoleh dengan senyum menawan. “Sepertinya kau senang berada di sekelilingku, Lady Westrion.”
Isabella memutar bola matanya, menahan diri. Ia tahu gadis itu tengah memancing emosi. Sedikit saja ia terpancing, Charlotte akan bertindak seperti korban, dan simpati Permaisuri pun berpihak padanya. Maka Isabella memilih membalas dengan manis beracun.
“Siapa yang tidak ingin berada di dekatmu, Lady Vaelor? Kau terlalu menawan untuk diabaikan. Bahkan” ia tersenyum manis, “kau jauh lebih menawan daripada Putri Lilyana.”
Charlotte tersenyum tipis. “Kau tak perlu memujiku seperti itu, Lady. Wajahmu juga... tidak terlalu buruk.”
Ucapan itu bagai pisau terselip dalam senyum. Isabella mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak menyiramkan ayam panggang di tangannya ke wajah Charlotte.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Isabella tenang, “tentang kejadian semalam... aku memaafkanmu. Mungkin kau tak sengaja menendang kakiku karena iri melihat cinta antara Pangeran Mahkota dan Putri Lilyana.”
Charlotte menegakkan tubuhnya, berusaha mempertahankan ketenangan. “Aku tak perlu iri pada Lilyana. Ia tidak jauh lebih baik dariku.”
Isabella mendekatkan wajahnya, menatap tajam. “Kau salah, Lady Vaelor. Kakakmu saja tak mampu mengalahkan Putri Lilyana. Tahun lalu saat *debutante*, kakakmu hanya meraih peringkat empat—sementara Putri Lilyana menempati peringkat dua *tanpa membuka cadar wajahnya*. Bayangkan… saat itu wajahnya masih tersembunyi, namun pesonanya sudah menggetarkan istana. Sekarang, dengan wajahnya yang tampak sempurna, apa yang kau harapkan bisa kau kalahkan darinya?”
Charlotte membeku. Dadanya bergemuruh antara amarah dan malu. Ia ingin melempar sendok di tangannya ke wajah Isabella, tapi menahan diri. Dulu, keluarganya bergelar Duke sekarang hanya Baron. Sebaliknya, keluarga Westrion yang dulu Viscount kini telah naik menjadi Duke. Dunia benar-benar berputar cepat.
Isabella menatap Charlotte dari atas ke bawah dan berkata pelan namun tajam,
“Jangan lupa, keluarga Vaelor bukan siapa-siapa lagi. Jika kau tak tahu tempatmu, kau akan hancur seperti debu… atau lebih buruk menjadi kotoran yang diinjak tanpa ampun. Putri seorang Baron tak akan pernah menjadi selir, apalagi Permaisuri kaisar. Jalanmu satu-satunya hanya satumenjadi gundik bangsawan tua dengan berperut buncit, kepala botak, dan bau.”
Kata-kata itu meluncur lembut, namun setiap suku katanya terasa seperti racun yang menetes perlahan ke jantung Charlotte.
Charlotte menatapnya dengan mata berkilat, namun hanya senyum tipis yang keluar dari bibirnya.
Senyum seorang gadis yang menahan amarah… dan menunggu waktu untuk membalas.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
