Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Jangan lupa komen
Malam semakin mencekam. Udara berbau debu dan belerang. Orang-orang kembali diserang kepanikan setelah gempa susulan mengguncang bumi. Walau tak sekuat yang pertama, ketakutan masih mencengkeram semua jiwa. Tangisan anak-anak terdengar dari segala arah, memecah kesunyian malam yang dingin.
“Apakah jalannya sudah bisa dilalui?” tanya Lilyana, menatap Arthur yang baru kembali dari pengintaian.
Arthur menggeleng, wajahnya kusut oleh lelah dan debu. “Maaf, Yang Mulia. Akses utama masih tertutup. Bahkan jalan alternatif semuanya rusak parah. Banyak kota di sekitar juga terkena dampaknya.”
Lilyana menghela napas berat. “Apakah kau sudah menemukan pelayanku?”
Arthur menunduk. “Belum, Yang Mulia. Kami sudah mencari ke semua tempat, tapi Sandra belum ditemukan.”
“Sudahkah kau mencari di reruntuhan Istana Teratai?”
“Ya. Semua kesatria masih melanjutkan pencarian di sana,” jawabnya. “Namun sampai kini, belum ada tanda-tanda.”
Lilyana menatap langit malam yang kelam, matanya menahan air mata yang tak boleh jatuh. “Besok pagi, perintahkan mereka memusatkan pencarian di area kamarku. Mungkin Sandra mencariku ke sana.”
Ia menarik napas dalam, mencoba menahan getar di suaranya. “Bagaimana keadaan masyarakat di sekitar gunung Tonius?”
“Grand Duke Black sedang menuju ke sana,” jawab Arthur cepat. “Daerah itu paling parah terkena dampak.”
“Baiklah,” Lilyana menunduk pelan. “Kau bisa kembali ke tempat tugasmu.”
Arthur memberi hormat dan pergi. Lilyana berjalan pelan menuju kamarnya. Ia butuh sedikit waktu—bukan untuk tidur, tapi untuk berpikir.
---
🌻🌻🌻
Beberapa jam kemudian, Lilyana sudah berada di atas kudanya, menembus hutan gelap di bawah cahaya bulan. Angin malam menusuk tulang, tapi ia tak peduli. Ia harus memastikan keadaan Antoni dan kelompoknya di desa tersembunyi di kaki gunung Tonius.
Desa itu bukan sekadar tempat persembunyian di sanalah semua rahasia bisnis bawah tanahnya tersimpan.
Dan yang lebih penting, hanya di sana tersimpan bukti keterlibatannya dalam rencana kudeta yang gagal.
Jika pihak kekaisaran menemukannya lebih dulu, Lilyana masih bisa beralibi.
Tapi jika pria bertopeng itu yang tiba lebih dulu… semuanya akan berakhir.
Setibanya di desa, Lilyana turun dari kudanya. Pandangannya membeku.
Desa itu hancur. Tidak bersisa.
Rumah-rumah reyot ambruk, tiang-tiang hangus, dan tak ada cahaya sama sekali di tengah kegelapan.
“Tidak…,” bisiknya pelan.
Ia mulai berlari, gaunnya terseret tanah basah. “Antoni!”
Suara teriakannya memantul di antara pepohonan.
“Antoni! … Antoni!”
Ia terus berteriak hingga suaranya serak, dadanya sesak oleh rasa takut.
Ia tak bisa kehilangan semua ini. Tidak sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
