Capture 45

2K 98 5
                                        


Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote


🌻Happy Reading 🌻

---




Alasdair menatap Daysi dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ada sesuatu di balik tatapan itu-antara rindu yang tak diakui dan rahasia yang tak ingin diungkap. Sesaat bibirnya bergerak, seolah ingin bicara, namun akhirnya ia memilih diam.
Di sisi lain, Lilyana hanya menunduk, berusaha menahan gejolak yang mengguncang dadanya.

Helena melangkah mendekat. Suaranya rendah, tapi setiap katanya seperti belati.
"Lady Daysi, kata-katamu memang indah. Tapi sering kali keindahan hanyalah tameng bagi dusta. Ingatlah, rakyat tidak butuh janji manis... mereka butuh kejujuran."

Daysi tersenyum tipis. Senyum itu manis di permukaan, namun dingin di dasar matanya.
"Tentu saja, Bibi Helena. Aku tidak berniat merebut apa pun dari siapa pun. Aku hanya ingin... mengingat siapa diriku sebenarnya."

Tatapan Lilyana naik perlahan, bertemu dengan mata kakaknya. Ada sesuatu yang bergetar di sana campuran antara ketulusan dan kebohongan yang terjalin rapat, seperti dua sisi koin yang tak bisa dipisahkan.

Suara berat Alasdair memecah ketegangan.
"Cukup. Tidak perlu memperpanjang ini di depan rakyat. Kita sedang di pengungsian, bukan di aula istana."
Nada suaranya dingin, datar, dan menutup ruang bagi siapa pun untuk membantah.

Helena menatap Lilyana sekilas, pandangannya tajam dan sarat makna lihatlah siapa yang sebenarnya ia lindungi.

Setelah itu, semua orang kembali pada tugas masing-masing. Namun suasana yang tadinya hangat berubah dingin, penuh udara tak terlihat yang menekan dada.

🌻🌻🌻

Lilyana kembali ke barisan permaisuri. Ia duduk di sisi ibunya, memperhatikan para nyonya bangsawan dan Lady lain sibuk membagi bahan pokok untuk para pengungsi. Acara amal itu ditutup dengan makan bersama rakyat-sebuah pemandangan langka, dan entah mengapa terasa seperti panggung sandiwara yang dipenuhi senyum palsu.

Mereka duduk di satu meja: Lilyana, Daysi, dan Ibu mereka, Iris. Sudah lama mereka tidak duduk seperti ini dalam keheningan yang lebih berbahaya dari pertengkaran.

"Sudah lama kita tidak makan bersama," ucap Daysi, mengangkat garpu dengan senyum samar.
Ia menatap Lilyana, lalu menoleh pada ibunya. "Seharusnya... aku yang memakai tiara itu, bukan begitu, Ibu?"

Iris menatapnya tajam, dingin seperti baja yang diselimuti beludru.
Daysi tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Bukankah aku yang seharusnya menjadi *Putri Mahkota*?"

Lilyana yang sejak tadi berusaha menahan diri, kini menatap Daysi dengan pandangan tak percaya. Ada duri di setiap kata yang keluar dari bibir kakaknya.

Daysi kembali bicara, suaranya tenang namun penuh sindiran.
"Tapi sayangnya... ada seseorang yang ingin melenyapkanku." Ia menyuap potongan daging ke mulutnya. "Bahkan seekor singa betina akan melakukan apa pun demi anaknya. Tapi terkadang, manusia lebih mencintai kekuasaannya daripada darah dagingnya sendiri. Bukankah itu... miris, Ibu?"

"Prak!"
Suara telapak tangan Iris menghantam meja. Semua orang di sekitar menoleh, terdiam. Tapi dengan tenang Iris berkata,
"Ada lalat di meja kami."
Hanya itu, dan semua kembali pura-pura sibuk, meski jantung mereka tahu ada badai yang baru saja lewat.

Iris mencondongkan tubuh, berbisik di antara senyum dinginnya.
"Jika kau berguna, sayang... kau tidak akan dilengserkan."

"Hahaha..."
Tawa Daysi pecah, keras dan menusuk. Sekali lagi, perhatian para bangsawan tertuju padanya.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang