capture 38

2.4K 97 0
                                        

Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻

Jangan lupa komen

 

Alasdair memacu kudanya secepat angin menuju istana. Di sepanjang jalan, pikirannya terus berputar, mencerna perkataan ayah mertuanya. Semua yang diucapkan Alferd masih terasa begitu abu-abu, samar, dan menyisakan tanda tanya yang tak kunjung terjawab.

Dengan langkah ragu, Alasdair memasuki ruang singgasana. Di sana, Kaisar Roland duduk di kursi kebesarannya, ditemani oleh Duke Orien. Alasdair sengaja tidak ingin kedatangannya diumumkan; ia ingin berbicara empat mata dengan sang ayah.

“Selamat datang, Yang Mulia Pangeran Mahkota. Semoga keberkahan dan kesejahteraan menyertai Anda,” ucap Duke Orien, menunduk hormat.

Alasdair hanya mengangguk singkat, tanpa membalas ucapan itu.

Kaisar Roland menatapnya tajam. “Kenapa kau datang kemari, Pangeran Mahkota? Tidak biasanya kau mau repot-repot menginjakkan kaki di ruang singgasanaku.”

“Ada yang ingin kubicarakan dengan Anda, Yang Mulia,” ujar Alasdair pelan namun tegas.

Roland menaikkan alisnya. “Apa yang begitu penting sampai-sampai kau datang sendiri?”

“Saya pamit undur diri, Yang Mulia,” potong Duke Orien dengan hormat. Namun sebelum ia sempat melangkah keluar, Alasdair menahan.

“Tidak perlu, Duke. Aku hanya ingin melaporkan bahwa kegiatan di kota Terraverda berjalan lancar, dan rombongan Permaisuri akan kembali dalam tiga hari lagi.”

Roland menatap putranya curiga. “Laporan sesederhana itu harus kau sampaikan langsung padaku? Bukankah seharusnya kau masih berada di sana, bersama ibumu?”

“Grand Duke Alferd memanggilku ke kediamannya,” jawab Alasdair, menunduk sedikit. “Ada hal yang perlu kami bicarakan.”

Kaisar Roland dan Duke Orien hanya saling pandang lalu mengangguk pelan.

“Baiklah, kalau begitu. Kau boleh undur diri.”

Alasdair memberi hormat dan berbalik meninggalkan ruang singgasana. Namun baru beberapa langkah, tanah tiba-tiba bergetar hebat. Suara retakan batu menggema di seluruh istana, diikuti dentuman keras. Lukisan-lukisan jatuh, pilar-pilar bergetar, dan para pelayan berteriak panik berlari keluar.

“Apa yang terjadi?!” seru Roland sambil berpegangan pada lengan putranya.

“Gempa…” ucap salah satu penjaga istana gemetar.

Alasdair segera membantu ayahnya keluar dari istana. Pemandangan di luar benar-benar kacau — potongan atap berguguran, taman hancur berantakan, dan debu memenuhi udara.

“Di mana pusat gempanya?” tanya Roland cepat.

“Sepertinya dari arah Timur, Yang Mulia… dari kota Terraverda,” jawab Noah, ilmuwan istana, dengan wajah pucat. Ia berlari dari ruang penelitian sambil membawa beberapa gulungan peta.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang