⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
---
Ruang bawah tanah istana gelap dan lembap, hanya diterangi oleh obor yang meneteskan lilin cair ke lantai batu. Udara di sana sarat dengan bau besi berkarat dan tanah basah.
Arven duduk di kursi kayu dengan tangan terikat rantai. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan bibirnya pecah-pecah. Setiap tarikan napas terdengar berat dan menyakitkan.
Suara engsel berderit memecah keheningan. Pintu besi terbuka, menampakkan seorang penjaga yang melangkah berat. Di belakangnya, masuk seorang pria berjubah hitam, membawa gulungan perkamen di tangannya. Wajahnya separuh tertutup kain; hanya sepasang mata tajam yang menatap menusuk.
“Lord Arven,” ucap pria itu pelan namun dingin, “kau duduk di kursi yang sama dengan para pengkhianat sebelumnya. Dan tak satu pun dari mereka keluar dari ruangan ini... tanpa kehilangan bagian tubuhnya.”
Arven menelan ludah, suaranya bergetar. “A-aku... aku tidak bersalah. Seseorang menjebakku.”
Pria berjubah itu membuka perkamen, menampakkan tulisan tangan yang menyerupai laporan pengintaian.
“Cincin kerajaan ditemukan di dekat tubuh Lady Jane. Beberapa saksi melihatmu di lorong timur. Dan malam itu” ia menatap Arven tajam “—anya kau yang punya akses ke ruang penyimpanan lambang kerajaan. Apakah semua itu... kebetulan?”
Arven mengguncang rantai yang menahan tangannya, hampir berteriak.“Tidak! Itu semua permainan Lady Daysi! Dia dia yang memanggilku malam itu! Dia yang—”
Pintu besi kembali berderit.
Seseorang masuk perlahan, langkahnya tenang namun berwibawa. Jubah hitam panjangnya menjuntai, menyapu lantai batu yang dingin. Cahaya obor memantul di matanya yang dingin.
Arven membeku. Tubuhnya langsung gemetar.
Daysi berjalan mendekat, suara hak sepatunya bergaung di antara dinding batu. Ia berhenti tepat di hadapan Arven, menunduk sedikit, lalu tersenyum manis senyum yang lebih menusuk dari belati.
“Oh, Lord Arven...” suaranya lembut namun penuh racun. “Baru sehari ditahan, dan kau sudah menyeret namaku ke lumpur?”
“B-bukan begitu...!” Arven memohon, matanya penuh panik. “Lady Daysi, kau tahu aku hanya mengikuti perintahmu! Aku setia! Aku—aku tidak pernah bermaksud melawan—”
Daysi menempelkan jarinya ke bibir Arven, menghentikan kalimatnya.
“Diam,” bisiknya. “Jangan berusaha menyelamatkan dirimu dengan menjual namaku. Itu hanya akan membuatmu mati... lebih cepat.”
Ia berbalik, menatap pria berjubah hitam.
“Lanjutkan. Tapi jangan bunuh dia. Belum. Aku masih ingin tahu... seberapa jauh seekor tikus bisa berlari sebelum terjebak di sudut.”
Pria itu mengangguk. Ia menarik rantai Arven kasar, memaksanya menunduk. Suara besi beradu memantul di ruangan.
Arven menjerit. “Tidak! Jangan! Aku bisa buktikan! Aku tahu sesuatu yang lebih besar dari cincin itu!”
Daysi yang hampir melangkah keluar berhenti. Bahunya menegang sesaat sebelum ia perlahan menoleh, matanya menyipit.
“Oh? Sesuatu yang lebih besar?”
Arven terengah, matanya penuh putus asa.
“Ada... ada orang lain. Sosok bertopeng itu... dia bukan orang asing. Dia bagian dari istana ini! Aku bisa buktikan—aku tahu siapa yang melindunginya!”
Keheningan menggantung berat. Obor bergoyang, bayangan menari di dinding batu.
Daysi mendekat kembali, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Arven. Suaranya serupa bisikan maut.
“Kalau begitu... buktikan. Sebutkan namanya. Sekarang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Fiksi SejarahBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
