⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Jangan lupa komen
Sebulan berlalu sejak pemberontakan Raja Troy. Kekaisaran Quuenrensia kembali tenang, seolah badai yang melanda hanyalah kenangan buruk yang perlahan memudar. Di istana, rutinitas kembali berjalan: Alasdair menghabiskan pagi hingga malam di istana utama, sementara Lilyana mengurusi tugas-tugasnya di Istana Bulan masing-masing menjalankan peran tanpa terlalu saling memperhatikan.
Setiap fajar Alasdair sudah tiada di tempat tidur, ia bertugas sejak subuh dan baru pulang ketika malam telah menutup mata Lilyana. Sementara itu Lilyana disibukkan mengajar tata krama serta sejarah Kekaisaran Quuenrensia kepada para lady bangsawan yang sedang mempersiapkan diri untuk debut mereka. Meski pengetahuan tentang Quuenrensia semestinya mengalir alami dalam darah bangsawan, Lilyana sama sekali tidak lahir di sana ia harus menghafal setiap tanggal, setiap nama raja, setiap peristiwa panjang malam demi malam, menelaah buku-buku di kamarnya sampai mata letih. Ia tahu betul: bila satu saja celah terkuak jika ada yang tahu bahwa ia tidak menguasai sejarah negeri ini sang ibu mertua akan murka, dan hukuman tentu menunggu.
Setiap senja, saat langit menguning jingga, Lilyana buru-buru kembali ke kediaman mereka. Di meja kamarnya terbuka buku harian yang menjadi peta misinya: di balik catatan-catatan itu tersusun rencana bagaimana ia dapat mengakhiri petualangan aneh yang menjeratnya dan, lebih jauh lagi, bagaimana menyingkap benang merah pemberontakan yang berulang dari generasi ke generasi, mulai dari Raja Troy, Raja Charles, hingga mereka yang akan datang. Dalam buku itu juga tertulis tentang pria bertopeng pria yang dulu mendekati Lilyaan dan meminta pertolongan agar mau melakukan kideta, Lilyaan memperalat pria itu untuk merobek Quuenrensia dari dalam. Identitasnya tetap misteri; hanya ada keterangan bahwa tujuan pria itu sejalan dengannya.
Suatu sore, ketika matahari masih rendah, seorang pelayan yang setia muncul membungkuk di hadapannya.
“Menghadap, Tuan Putri,” suaranya resmi. “Permaisuri meminta Anda di rumah kaca setelah pertemuan dengan para lady selesai.”
Lilyana menatap pelayan itu, lalu menoleh pada Countess of Snowdon wanita paruh baya yang menjadi tangan kanan permaisuri, sekaligus penyusun intrik yang pernah mengirim putra mahkota ke medan perang. Countess itu tidak sekadar seorang bangsawan: titelnya membuat perintahnya sama beratnya dengan perintah permaisuri sendiri.
“Baik, Countess of Snowdon. Aku akan menghadap sekarang,” jawab Lilyana, menelan getar di tenggorokan.
Dalam barisan istiadat, Lilyana berjalan di depan Countessaturan yang tak boleh dilanggar oleh mereka yang pangkatnya lebih rendah. Di depan rumah kaca, ia memberi penghormatan kepada sang Permaisuri.
“Selamat sore, Yang Mulia,” ucapnya teratur, suara menahan gelombang was-was.
Permaisuri Raline menatapnya dingin. “Silakan duduk, Lily.” Suara Raline selembut embun yang menyimpan racun. “Tinggalkan kami berdua, Countess.”
Countess of Snowdon membungkuk. “Saya permisi, Yang Mulia.” Lalu pintu rumah kaca tertutup, menyisakan dua sosok di dalam cahaya kebun kaca.
Raline mempersilakan Lily menikmati teh. Lilyana meneguknya pelan, menahan detak jantung yang tak pernah tenang di hadapan ibu mertuanya itu.
“Kau sudah dengar kabar di luar, Putri?” tanya Raline, senyumnya sekilas seperti belati.
Lilyana merasa ada kabut membayangkan telinganya; gosip-gosip yang sengaja ia tutup telinga kini menyelinap masuk. “Maaf, Yang Mulia? Berita apa yang dimaksud?”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
