⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Pernikahan Lilyana dengan pangeran mahkota tinggal dua hari lagi, namun ia belum juga tiba di istana.
Ia masih berada di kediaman keluarganya-berbeda dengan Daysi yang sudah berada di istana sepuluh hari sebelum hari pernikahan.
Gerwyn menatap adiknya dengan seksama, memastikan semuanya tidak akan terulang kembali. Ia tidak ingin kehilangan saudara perempuannya lagi hanya karena pernikahan politik yang diatur oleh ayah mereka dan pihak kekaisaran.
"Apa kau benar-benar yakin dengan pernikahan ini, Lily?" tanyanya lirih.
Lilyana menatap kakak laki-lakinya itu sambil tersenyum menenangkan.
"Apakah aku bisa lari dari perintah ayah, Kak?" jawabnya lembut.
"Aku bisa membawamu kabur dari kejaran ayah, Lily. Aku jamin, ayah tidak akan menemukannya," ujar Gerwyn yakin.
Lilyana tersenyum tipis. "Baiklah, Kak. Jika aku tidak bahagia dengan pernikahan ini, maka aku akan langsung berlari ke arahmu. Aku akan memintamu menyembunyikanku dari ayah... dan juga dari pihak kekaisaran."
"Jangan kotori pikirannya, Gerwyn!" suara Iris terdengar tajam dari belakang mereka.
"Biarkan ia membuktikan bahwa ia memang keturunan Trenay-dan juga putriku!"
Gerwyn menatap ibunya dengan pandangan tak percaya.
"Ibu... aku tidak akan membiarkan kedua saudariku mati di neraka berkedok istana itu!"
"Kau belum mengerti semuanya, Gerwyn," ucap Iris tegas. "Kau tidak tahu betapa kejamnya peperangan para bangsawan mempertahankan kehormatan keluarga mereka. Perang di antara kaum bangsawan jauh lebih kejam dibandingkan perang di medan tempur."
"Ibu, aku hanya-"
"Tidak ada protes, Gerwyn!" potong Iris tajam. "Sekarang antarkan Lily ke istana. Ibu dan ayah akan menyusul besok."
Gerwyn mengepalkan tangan, lalu menghela napas panjang.
"Baiklah, Ibu..." katanya akhirnya, menyerah pada keputusan yang tidak bisa diubah.
"Mari, Lily."
Lilyana mengikuti langkah kakaknya. Ia tak berani berpamitan kepada Iris.
Sejak kematian Daysi, ibunya itu menjauh darinya seolah keberadaannya hanya mengingatkan pada luka lama yang belum sembuh.
Namun langkah Lilyana terhenti ketika mendengar suara lembut memanggilnya.
"Lily, tunggu."
Ia berbalik dan melihat Iris menghampirinya dengan tatapan sulit diartikan.Perempuan itu menyerahkan sebuah kantung kecil kepadanya. "Minumlah ini setiap pagi dan malam sebelum tidur. Pastikan tidak ada satu pun pelayan istana mengetahui bahwa kau meminum ini. Aku tidak mau kau mati konyol sebelum rencanaku berhasil."
"Baik, Ibu," jawab Lilyana sambil menerima kantung itu dengan kedua tangan.
"Pastikan kau tetap hidup selama tinggal di istana. Aku tidak mau keluarga ini hancur di tanganmu," lanjut Iris dingin. "Buktikan bahwa di tubuhmu mengalir darah Trenay. Hancurkan siapa pun yang menghalangi jalanmu."
Ia menatap Lilyana tajam. "Dan satu hal lagi-jika para bajingan itu mulai mengganggumu, jangan ragu untuk memanggil ayahmu!"
Untuk pertama kalinya sejak lama, Lilyana merasa ibunya benar-benar peduli padanya, meski dengan cara yang keras.
"Baik, Ibu," ucapnya lembut sebelum akhirnya melangkah pergi.
🌻🌻🌻
Keadaan istana begitu sepi seolah tidak ada persiapan untuk pernikahan Alasdair dan Lilyana.
Berbeda jauh dengan suasana sepuluh hari sebelum pernikahan Alasdair dan Daysi, ketika seluruh istana sibuk dengan dekorasi, musik, dan upacara penyambutan.
Lilyana duduk di tepi jendela kamarnya, menatap taman bunga milik Permaisuri. Ia merasa tidak nyaman berada di istana. Baginya, pernikahan ini tidak lebih dari perjanjian politik yang terpaksa diterima-baik olehnya maupun oleh pangeran mahkota.
Bagaimana mungkin seorang pria meracuni calon istrinya lima hari sebelum hari pernikahan mereka? pikirnya getir.
Bahkan saat ia tiba di istana, tidak ada satu pun yang menyambutnya-hanya dua pelayan yang sekadar menunjukkan kamar tempatnya tinggal.
"Bukankah seperti ini lebih baik?" gumam Lilyana pada dirinya sendiri. "Tidak ada yang akan mengganggu rencanaku, dan aku tidak perlu bertemu dengan pria brengsek itu setiap hari."
"Tok... tok... tok..."
"Masuklah," ucapnya datar.
"Maaf, Lady," ucap seorang pelayan sambil menunduk. "Anda diundang oleh Permaisuri untuk minum teh di taman istana."
Lilyana menatap pelayan itu dalam diam, lalu bangkit. "Antarkan aku ke sana."
Ia berjalan di depan, pelayan itu mengikuti di belakang sambil menuntun arah.
Sambil berjalan, Lilyana memperhatikan lingkungan istana yang tampak terlalu tenang-namun justru terasa penuh pengawasan, seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Selamat sore untuk Bulan Quuenrensia. Semoga keberkahan dan kemakmuran selalu menyertai Anda, Yang Mulia," ucap Lilyana sambil memberi hormat.
Permaisuri Raline menatapnya dengan senyum yang sulit ditebak.
"Selamat sore, Lily. Semoga keberkahan dan kemakmuran juga menyertaimu. Duduklah, Lily."
Lilyana duduk di hadapan sang permaisuri dengan sopan.
"Silakan diminum tehnya," ucap Raline sambil menatapnya penuh makna.
Lilyana menatap cangkir di depannya. Aroma teh itu begitu familiar-terlalu familiar. Ia mengenali baunya. Itu adalah salah satu racun ciptaannya sendiri: Serum Veritas, racun yang memaksa siapa pun yang meminumnya untuk selalu berkata jujur.
Jika mencoba berbohong, tenggorokannya akan terasa terbakar seolah dilalap api.
Ia meminum teh itu perlahan. Begitu cangkir diletakkan kembali, kepalanya mulai berdenyut. Tanda bahwa racun itu mulai bekerja.
"Apa kau baik-baik saja, Lily?" tanya Raline manis, meski matanya dingin.
"Aku baik, Yang Mulia," jawab Lilyana.
Namun belum sempat menarik napas lega, tenggorokannya langsung terasa panas.
Raline tersenyum sinis. "Langsung saja. Aku memberimu sedikit racun dalam minuman itu. Ketika kau berbohong, tenggorokanmu akan terasa terbakar. Jadi, tidak ada gunanya berbohong padaku."
Lilyana terdiam. Ia tahu permainan ini.
"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan dengan putraku," ucap Permaisuri, suaranya kini tajam, "tapi ketahuilah, aku tidak menyukaimu-sama seperti aku tidak pernah menyukai kakakmu."
Lilyana tidak terkejut. Dalam hatinya, ia sudah yakin sejak awal bahwa Permaisuri memiliki andil dalam kematian Daysi.
"Percayalah," lanjut Raline, "aku akan melenyapkanmu jika kau tidak berguna bagi kekaisaran ini."
"Saya akan berusaha menjadi berguna bagi Anda, Yang Mulia," jawab Lilyana tenang.
"Aku tidak tahu apa alasan Kaisar menjadikanmu istri Alasdair," Raline menyipitkan mata. "Tapi aku yakin, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kaisar dan ayahmu.
Apakah kau mengetahuinya? Karena semua orang tahu, Grand Duke of Valkyrie sangat terbuka padamu."
"Maaf, Yang Mulia, saya tidak mengetahui apa pun," jawab Lilyana menunduk.
"Angkat kepalamu!"
Tatapan Raline tajam. Namun ia terdiam saat melihat wajah Lilyana tetap tenang, tak ada tanda-tanda kebohongan.
Apakah dia tahu sesuatu? batin Raline curiga.
"Apa kau masih menyukai putraku?" tanya Raline mendadak.
Lilyana menelan ludah. Meski tubuhnya kebal terhadap racun ciptaannya sendiri, efeknya tetap terasa-lebih ringan, tapi tetap menyakitkan.
"Tidak, Yang Mulia. Saya tidak pernah mencintai Pangeran Mahkota."
Namun belum selesai ucapannya, tenggorokannya kembali terasa panas membara-seperti terbakar dari dalam.
Ada apa ini? Kenapa aku tetap merasakannya?
Raline tersenyum dingin.
"Sudah kukatakan, Lady... kau tidak bisa berbohong padaku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
