⚠️Typo berserakan ⚠️
jangan lupa Vote
🌻 Happy Reading 🌻
Pagi itu, Lilyana berjalan melewati koridor panjang istana. Gaunnya bergemerisik lembut, langkahnya anggun, tapi wajahnya dingin. Dua pelayan muda berhenti berbicara ketika menyadari kehadirannya. Namun, suara mereka tadi sudah cukup jelas untuk sampai ke telinga sang Putri Mahkota.
Pelayan yang sedang manyapu, berbisik
"Kau tahu? Pangeran Mahkota terlihat di taman tadi malam... bersama Lady Daysi."
Pelayan yang lain mata membesar, menahan tawa gugup
"Benarkah? Mereka terlihat... dekat sekali? Ah, mungkin hanya kebetulan"
Pelayan yang mulai pembicaraan melihat kiri dan kanan kembali berbisik. "Kebetulan? Itu sudah ketiga kalinya minggu ini. Kalau terus begini, orang-orang bisa salah paham."
Lilyana berhenti melangkah. Tangannya yang semula tenang di samping gaun perlahan mengepal. Kedua pelayan langsung membungkuk ketakutan.
Lilyana bersuara dingin, tenang
"Teruskan pekerjaanmu. Jangan biarkan mulutmu membusuk oleh kabar yang tak tahu kebenarannya."
Pelayan buru-buru berlari menjauh. Namun, bisikan itu sudah menancap di hati Lilyana.
Di ruang pribadinya Lilyana duduk di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Senyum tipisnya tidak sampai ke mata.
"Jadi... Daysi memilih cara ini. Membuatku tampak seperti istri yang ditinggalkan, dan dirinya seolah penghibur yang tulus."
Ia menyentuh meja rias, jemarin
🌻🌻🌻
Hari itu, langit istana mendung, seolah pertanda buruk. Lilyana baru saja keluar dari ruang sidang kecil, tubuhnya lelah, pikirannya berat oleh gosip dan intrik yang tak pernah henti.
Tak seorang pun tahu, bahkan Alasdair, bahwa ia sedang menyimpan rahasia: benih kecil yang tumbuh dalam rahimnya. Ia sengaja menunda kabar itu, ingin mengatakannya saat waktu tepat saat Alasdair benar-benar berada di sisinya, tanpa ragu.
Langkah Lilyana sedikit goyah. Dari arah berlawanan, beberapa bangsawan wanita berbisik, sengaja meninggikan suara:
Viscoutess Matilda menatap Lilyana dengan wajah kasian. "Kasihan Putri Lilyana... suaminya tampak lebih sering bersama Daysi belakangan ini."
Countess Margareta ikut menambahi "Kalau begitu, mungkin istana akan segera punya permaisuri baru."
Kata-kata itu menusuk telinga Lilyana. Ia mencoba tetap anggun, menuruni tangga dengan kepala tegak. Namun, perasaan sakit bercampur lelah membuatnya kehilangan keseimbangan.
Tiba-tiba
"Tuan Putri !" teriak Sandra ketika tubuh Lilyana terpeleset, jatuh menghantam anak tangga keras. Gaunnya terseret, suara benturan bergema di lorong.
Darah merah pekat segera membasahi kain putih bagian bawah gaunnya.
Pelayan-pelayan menjerit, beberapa bangsawan menutup mulut, pura-pura syok namun mata mereka berbinar penuh gosip baru.
Sandra bergetar melihat majikan "Cepat! Panggil tabib! Cepat!"
🌻🌻🌻
Beberapa jam kemudian, Lilyana berbaring pucat di ranjangnya. Tabib menunduk dalam-dalam pada Alasdair yang baru saja tiba dengan wajah panik.
Tabib menunduk "Yang Mulia... maafkan hamba. Putri kehilangan... janinnya."
Alasdair terpaku.
"Janin...?" suaranya tercekat, ia menatap Lilyana dengan mata terbelalak.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Ficción históricaBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
