capture 49

1.8K 77 0
                                        

⚠️Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻

,   




Malam semakin pekat. Tirai hitam di ruang rahasia bergoyang halus, tersentuh angin dari jendela kecil di atas. Daysi duduk anggun, jari-jarinya menelusuri bibir gelas anggur. Api lilin memantulkan kilau di matanya  mata seorang perencana.

Pelayan di depannya menunduk hormat. “Lady Daysi, laporan dari Arven sudah sampai.”

Daysi mengangkat alis tipis. “Cepat sekali. Dia memang tak pernah bisa menahan rasa takutnya.”

Pelayan itu menyerahkan selembar perkamen. Daysi membacanya perlahan; senyum samar terukir di bibirnya, namun alisnya menegang. Tulisan di atas perkamen tampak seperti pesan rahasia, tapi instingnya tahu ini bukan kebetulan.

“Lily…” gumamnya lirih, senyumnya berubah dingin. “Jadi kau berani menabur jebakan di hadapanku.”

Pelayan itu menatap ragu.
“Apakah kita harus membongkar kebohongannya di depan para bangsawan?”

Daysi meneguk anggurnya perlahan, lalu menaruh gelas itu dengan tenang.
“Tidak. Itu terlalu cepat. Jika aku melangkah sekarang, mereka akan melihatku sebagai orang yang terburu-buru. Biarkan Lily percaya bahwa ia sedang memimpin permainan.”

Ia berdiri. Jubah hitamnya berayun lembut.
“Yang perlu kita lakukan hanyalah mengubah arah bidak. Jika pesan ini adalah umpan, aku akan pastikan Arven terlihat sebagai satu-satunya yang memakannya. Maka, saat Lily menunggu ‘pengkhianat besar’ muncul… yang jatuh justru Arven sendiri.”

Pelayan itu menunduk dalam diam — kagum sekaligus takut.

Daysi melangkah mendekati cermin tinggi di ruangan itu. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, lalu berbisik lirih: “Kau ingin memainkan catur, adikku? Baiklah. Tapi kau lupa satu hal… aku selalu memilih jadi pemain, bukan bidak. Dan setiap kali aku bergerak, papan permainan berubah mengikuti langkahku.”

Ujung jarinya menyentuh permukaan cermin. “Alasdair mungkin ragu di antara kita… tapi aku tahu, pada akhirnya lelaki itu akan memilihku. Karena aku tak memintanya untuk percaya aku membuatnya tak punya pilihan lain.”

Kilatan dingin menari di matanya.

Di luar ruangan, Arven berlutut di lorong gelap, tubuhnya gemetar. Ia mendengar cukup banyak untuk tahu hidupnya kini tergantung di ujung jari Daysi.

Namun saat hendak pergi, sebuah tangan bertopeng menekan bahunya dari belakang. Suara serak berbisik di telinganya: "Tenang, Lord Arven. Kau bukan bidak… kecuali kau memilih jadi bidak.”

Arven menoleh cepat, tapi sosok bertopeng itu sudah lenyap ditelan kegelapan.

🌻🌻🌻

Lorong istana sunyi ketika Alasdair berjalan cepat, jubah hitamnya berkibar mengikuti langkah. Ia baru saja meninggalkan kamar Lilyana, namun pikirannya kacau. Kata-kata Lilyana bergema di kepalanya:

“Kau membunuh rahasiaku… atau aku membunuh rahasiamu.”

Tangannya mengepal. Ia tahu, semakin lama ia diam, semakin dalam ia terseret ke dalam permainan berbahaya itu.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang