⚠️ Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
---
Lorong panjang istana pagi itu dipenuhi cahaya keemasan dari jendela kaca patri. Suara langkah kaki menggema lembut saat Lilyana berjalan berdampingan dengan ayahnya.
“Pagi, Lily...” suara Alfred terdengar hangat, sedikit serak namun penuh kasih.
“Pagi, Ayah...” jawab Lilyana sambil tersenyum manja, menyelipkan lengannya ke tangan sang ayah.
“Kau tampak sangat ceria hari ini.”
“Tentu saja, Ayah,” sahut Lilyana dengan mata berbinar. “Hari ini kita akhirnya pulang! Aku tidak suka tinggal di istana, terlalu banyak topeng di sini.”
Alfred terkekeh kecil. “Kau memang selalu jujur, anakku.”
Tak lama kemudian, Iris muncul di belakang mereka. Senyum lembut terpahat di wajahnya, meski mata itu menyimpan sesuatu yang tak bisa ditafsirkan.
“Pagi, Ibu,” sapa Lilyana manis, meski hatinya dingin. Ia tahu, semua ini hanya sandiwara—mereka harus terlihat seperti keluarga bahagia di mata semua orang. Tak ada yang boleh tahu bahwa ia bukan darah daging Iris.
“Pagi, sayang,” balas Iris lembut, suaranya semanis madu tapi dingin seperti kaca.
“Pagi, Kakak,” sapa Lilyana lagi ketika melihat Gerwyn berjalan mendekat.
“Pagi, Lily,” balas Gerwyn dengan senyum tipis, mencoba memecah kekakuan di udara.
Sepanjang jalan menuju ruang makan, Gerwyn berbicara tentang hal-hal ringan, berharap bisa mencairkan suasana. Namun Lilyana tahu, sejak kematian Daysi, tidak ada yang sama lagi. Semua senyum kini terasa seperti lukisan di dinding—indah, tapi mati.
---
Acara sarapan berlangsung dengan sopan dan tenang. Gelas kristal berdenting, perak beradu di piring, namun di balik tawa lembut ada sesuatu yang terasa hampa.
Saat keluarga Ternay hendak berpamitan, tiba-tiba suara terompet menggema keras.
“Yang Mulia, Grand Duke of Black, memasuki ruangan!” seru seorang prajurit lantang.
Semua kepala menoleh serentak.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi dengan senyum menawan—Ludwig. Mata hitamnya memancarkan pesona sekaligus misteri.
“Selamat pagi untuk matahari Quuenrensia,” katanya sambil membungkuk elegan. “Semoga keberkahan dan kemakmuran selalu menyertai Anda, Yang Mulia.”
Kaisar tertawa kecil. “Selamat pagi, Ludwig! Sudah lama kau tak berkunjung.”
“Aku sedikit sibuk di Timur, Yang Mulia,” jawab Ludwig, berjalan dengan langkah tenang namun penuh wibawa.
“Tidak bisakah kau memanggilku ‘Ayah’? Aku tetap ayahmu, meski kau kini seorang Grand Duke.”
Ludwig tersenyum. “Baiklah, Ayah. Ini hadiah untuk Ayah.” Ia menyerahkan sebuah kotak kecil berukir hitam perak.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
