Di ruang perang tertinggi, Kaisar Roland berdiri menatap jendela kaca patri. Di sampingnya, Grand Duke Alferd, berdiri tegap meski wajahnya pucat.
"anakmu semuanya di medan perang Grand duke, dua berada sisi kita dan satu di kubu musuh," kata Roland pelan. "Bagaimana perasaanmu, Alferd?"
Sang Grand Duke menarik napas berat. "Seorang ayah hanya bisa berdoa agar semua anaknya pulang. Tapi malam ini, aku bukan hanya ayah aku pelindung kekaisaran."
Kaisar menatapnya dalam. "Dan aku bukan hanya penguasa, aku seorang ayah yang kehilangan anaknya pada kebencian."
Keduanya terdiam lama, hanya dentuman dari luar yang memecah keheningan.
🌻🌻🌻
Serangan dimulai.
Anak panah menyala menghujani langit malam, memantul di dinding batu dan menyalakan tenda-tenda di luar benteng. Gerwyn berteriak memberi perintah, suaranya menggema di atas hiruk-pikuk perang.
"Pertahankan gerbang! Jangan biarkan mereka menembus parit!"
Pasukan kerajaan membalas dengan panah api, sementara Alasdair memimpin langsung dari garis depan, pedangnya berkilat di bawah cahaya petir.
Di tengah kekacauan itu, Daysi berlari menuju tenda Ludwig. Ia tahu waktunya hampir habis. Di dalam tenda, Ludwig tengah mempersiapkan serangan terakhir.
"Ludwig," katanya dengan suara bergetar, "mata-mata kita melaporkan bahwa Lilyana berada di menara timur. Jika kita serang dari sana, kita bisa menembus jantung istana tanpa banyak korban."
Ludwig tersenyum sinis. "Kau semakin berguna, Daysi."
Namun di balik senyum itu, mata Daysi berkaca. Ia tahu arah yang ia tunjuk justru membawa Ludwig ke jebakan yang telah disiapkan oleh Lilyana sendiri.
🌻🌻🌻
Fajar belum juga datang ketika suara perang memuncak. Api menjalar di sepanjang dinding selatan, dan asap menelan bendera kekaisaran yang dulu berkibar anggun di atas menara.
Gerwyn memimpin barisan di gerbang utama, darah mengalir di pelipisnya, pedangnya berlumur jelaga dan keringat. "Tahan posisi! demi Quuerenesia!"
Namun pasukan Ludwig datang seperti badai. Barisan kuda besi menerjang, dan dinding pertahanan mulai runtuh. Di tengah kekacauan, Alasdair dan Gerwyn bertempur bahu-membahu, membela gerbang yang kini hampir jebol.
"Ludwig memusatkan pasukannya di sisi barat!" teriak seorang perwira muda.
Alasdair memalingkan wajahnya dan melihat bendera pemberontak menjulang tanda Ludwig sendiri telah turun ke medan.
🌻🌻🌻
Di menara timur, Lilyana berdiri dengan busur di tangan. Matanya menatap tajam ke arah lembah, di mana pasukan musuh semakin mendekat. Rambutnya yang terurai tertiup angin malam, wajahnya dingin tapi penuh tekad.
"Sekarang," bisiknya pada prajurit di sampingnya.
Busur-busur api melesat dari menara, menyalakan jebakan minyak yang telah disiapkan sejak semalam. Suara ledakan mengguncang bumi. Beberapa barisan Ludwig hancur, jeritan bergema di udara.
Namun dari balik asap, Ludwig sendiri muncul berjalan tenang, diiringi pasukan elitnya yang mengenakan zirah hitam. Ia menghunus pedang panjang yang berkilau merah, pedang warisan kaisar yang seharusnya tak pernah keluar dari ruang mahkota.
"Lily!" suaranya menggema. "Kau dan suamimu telah menghancurkan semuanya, kau lebih memilih pria bodoh itu dibandingkan aku? padahal dari awal aku yang selalu ada untukmu Maka malam ini, aku yang akan menghapus noda itu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
