Capture 31

2.8K 120 0
                                        

Typo Berserakan ⚠️

   Jangan lupa Vote

  🌻Happy Reading 🌻

Jangan lupa komen


        

---

Sudah tiga hari sejak Lilyana sadar dari pingsannya. Selama itu pula, ia tidak diizinkan keluar dari kamar. Tubuhnya memang telah pulih, tapi pengawasan di sekelilingnya begitu ketat hingga rasanya seperti dikurung dalam sangkar emas.
Di sisi tempat tidur, duduk Iris  ibu tirinya yang tampak manis di depan Alferd, namun penuh perhitungan di balik tatapannya. Perempuan itu selalu berada di dekat Alferd, seakan tak memberi ruang sedikit pun bagi Lilyana untuk berbicara empat mata dengan ayahnya.

“Ibu, aku ingin berbicara dengan Ayah... berdua saja,” ucap Lilyana lembut, memasang wajah memelas. Ia tahu Iris takkan pergi tanpa alasan yang kuat, maka ia memilih bersandiwara kecil untuk menyingkirkan perempuan itu.

Iris menatapnya dengan ragu, tapi sebelum sempat berkata apa pun, suara Alferd terdengar tegas.
“Iris, tinggalkan aku berdua dengan Lily.”

Nada perintah itu membuat Iris tak punya pilihan. Dengan senyum tipis yang dipaksakan, ia akhirnya bangkit dan melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya.

Begitu ruangan hening, Lilyana menegakkan tubuhnya. Tatapannya kini serius, tak lagi selembut tadi.
“Ayah,” katanya perlahan, “aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Tapi... aku tidak bisa membicarakannya di sini.”

Ia menggenggam tangan Alferd erat-erat, menatap mata ayahnya seolah ingin memastikan bahwa ia akan didengarkan.
“Jangan tanyakan apa pun dulu. Nanti aku akan mengirim alamatnya kepada Ayah. Tolong... percayalah padaku.”

Alferd menatap putrinya dengan penuh kasih. Ia mengusap lembut rambut Lilyana, senyum hangat muncul di wajahnya.
“Baiklah, Ayah akan menunggu kabar darimu,” katanya lembut.

Belum sempat Lilyana membalas, terdengar ketukan di pintu.
**Tok… tok… tok…**

“Masuk,” ujar Lilyana.

Pintu terbuka. Dari baliknya muncul sosok Alasdair, masih mengenakan seragam kebesaran dengan mantel panjang yang masih berdebu perjalanan. Pria itu baru kembali dari istana  tiga hari terakhir ia bolak-balik dari kediaman Ternay ke istana, memastikan segala urusan kekaisaran tetap terkendali.

“Selamat siang, Ayah Mertua,” sapanya sopan, membungkuk sedikit ke arah Alferd.

Alferd hanya mengangguk singkat, pandangannya tenang namun penuh kewaspadaan terhadap menantu yang sulit ditebak itu.

Alasdair berjalan mendekat, lalu dengan lembut mengecup kening Lilyana. “Apakah masih ada yang sakit?” tanyanya dengan suara rendah, hangat tapi juga melindungi.

Lilyana menggeleng pelan. Wajahnya memerah. Ia merasa malu pada perhatian berlebihan yang ditunjukkan Alasdair selama ia sakit  pria itu nyaris tak pernah meninggalkannya sedetik pun. Bahkan untuk urusan istana, ia menolak pergi sebelum Lilyana sendiri yang memaksanya.

Arthur sampai harus bolak-balik dari istana, mengantar tumpukan dokumen hanya agar Alasdair bisa menandatanganinya tanpa meninggalkan kediaman Ternay.

Ketukan lain terdengar lagi di pintu.

**Tok… tok… tok…**

“Permisi, Yang Mulia,” suara pelayan memecah keheningan. “Duke dan Duchess of Philodion ingin menjenguk Yang Mulia Putri Mahkota.”

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang