⚠️Typo berserakan ⚠️
jangan lupa Vote
🌻 Happy Reading 🌻
Daysi masih berlutut, air mata menuruni pipinya, gaun mahalnya kini berantakan. Suaranya parau, penuh kepedihan yang tampak tulus meski di baliknya ada perhitungan dingin.“Alasdair… katakanlah padaku. Benarkah semua yang aku ucapkan dusta? Bukankah dulu kau pernah berjanji… bahwa aku tidak akan pernah ditinggalkan?”
Aula seketika membeku. Para bangsawan menahan napas, menatap Pangeran Mahkota seolah menunggu keputusan pengadilan.
Namun Alasdair hanya diam. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara keluar. Tatapannya tertuju pada Daysi yang menangis, lalu beralih ke arah Lilyana istrinya, yang kini menatap balik dengan pandangan tajam namun terluka.
Desas-desus segera bergulir di antara kerumunan:
“Kenapa Pangeran tak menyangkalnya?”
“Mungkinkah benar ada sesuatu di antara mereka?”
“Kalau begitu… posisi Sang Putri bisa terguncang…”
Lilyana menatap Alasdair lama. Ada getar halus di matanya, tapi wajahnya tetap tenang. Diam suaminya terasa seperti pisau dingin yang menembus dadanya.
Ia tersenyum getir dalam hati. Jadi benar… keraguannya nyata. Ia bahkan tak berusaha membelaku di depan semua orang.
Dengan anggun, Lilyana menegakkan kepala. Ia menyembunyikan lukanya di balik senyum tipis yang nyaris sempurna.
Daysi, melihat itu, tersenyum samar di balik air matanya. Ia bangkit perlahan, masih bergetar seolah rapuh, lalu melangkah mendekat pada Alasdair.
“Lihatlah,” bisiknya lembut, namun setiap katanya menusuk. “Bahkan ia tak sanggup menyangkal. Karena hatinya masih mengingatku, meski kini ia menjadi suamimu, Lily.”
Tawa kecil dan bisikan makin ramai. Beberapa bangsawan menatap Lilyana dengan iba; sebagian lain menyembunyikan senyum di balik kipas sutra mereka.
Kaisar yang sejak tadi berdiam di singgasana akhirnya mengangkat tangan. Suaranya berat dan menggema di seluruh aula.
“Cukup.”
Semua langsung bungkam. Tatapan Kaisar beralih tajam pada putra mahkotanya. “Pangeran, mengapa kau terdiam? Apakah kata-kata Lady Daysi benar adanya?”
Alasdair mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Ia menunduk sesaat, menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke arah ayahnya.
“Aku… tidak bisa menyangkal bahwa Lilyana telah banyak berkorban. Ia istriku. Ia Putri yang kuat.”
Hening sejenak. Lalu ia menambahkan, “Namun…”
Kata itu jatuh seperti pedang. Para bangsawan langsung menegakkan tubuh, mata mereka berbinar dengan rasa ingin tahu yang beracun.
“Namun,” lanjut Alasdair, suaranya bergetar, “ada hal-hal yang bahkan aku sendiri belum bisa mengerti. Ada rahasia yang disembunyikan dariku, dan aku… tidak tahu sampai kapan aku bisa terus menutup mata.”
Gumaman bergema di seluruh aula. Sebagian bangsawan menutup mulut menahan senyum; yang lain saling bertukar pandang, menikmati drama yang terbuka di depan mereka.
Lilyana berdiri tegak, tapi matanya sedikit meredup. Sebuah luka halus membelah batinnya. Daysi menunduk seolah berduka, namun senyum kemenangannya begitu jelas bagi siapa pun yang cukup peka.
“Lihatlah…” ucap Daysi lirih, “bahkan Pangeran mahkota sendiri meragukanmu, Lily.”
Kaisar menatap mereka bertiga, suaranya dingin bagai baja.
“Keraguan seorang suami pada istrinya… di hadapan seluruh istana. Menarik. Sepertinya kita akan segera tahu siapa yang benar-benar layak dipercaya.”
Lilyana tetap diam. Tapi di balik ketenangan itu, bara kecil menyala. Ini bukan sekadar tentang fitnah ini tentang kepercayaan yang mulai retak.
🌻🌻🌻
Lorong istana dipenuhi bayangan lilin yang bergetar. Langkah Lilyana terdengar cepat, gaunnya bergemerisik tajam.
“Lily… tunggu!” suara Alasdair menggema di belakangnya. Ia berlari, lalu menahan lengan sang istri.
Lilyana berbalik perlahan. Suaranya dingin, tapi matanya berkilat marah.
“Untuk apa? Supaya kau bisa berkata ‘namun’ lagi? Supaya seluruh istana semakin yakin aku ini monster yang kau ragukan?”
Alasdair tertegun. “Aku hanya… butuh waktu. Aku tidak bisa—”
“Tidak bisa apa?” potong Lilyana cepat. “Tidak bisa mempercayaiku? Tidak bisa membedakan siapa yang setia dan siapa yang memanipulasimu?”
Keheningan menggantung di udara. Kata-kata Lilyana meluncur bagai cambuk halus yang meninggalkan luka dalam.
Akhirnya ia menarik lengannya pelan, melepaskan genggaman Alasdair.
“Mulai malam ini, Alasdair, jangan bicara tentang kesetiaan padaku. Kau bahkan tak sanggup memberi kepercayaan sederhana.”
Ia berjalan pergi, meninggalkan suaminya berdiri di tengah lorong yang sunyi.
🌻🌻🌻
Keesokan harinya, seluruh istana bergemuruh oleh gosip. Retakan kecil antara Lilyana dan Alasdair menjadi bara yang disulut oleh mulut para bangsawan.
Daysi memanfaatkan setiap celah. Ia muncul di waktu yang tepat di taman, di ruang musik, bahkan di perpustakaan. Selalu dengan alasan yang tampak polos.
Suatu malam, di taman istana yang diterangi bulan pucat, Alasdair duduk seorang diri di bangku batu.
Suara langkah lembut mendekat.
“Yang mulia Pangeran mahkota?” suara Daysi terdengar pelan, seolah tak sengaja. “Maaf… aku tidak tahu kau di sini.”
Ia membawa keranjang kecil berisi bunga, tampak sederhana dan lembut.
“Daysi,” ujar Alasdair lelah. “Sudah larut. Kembalilah ke kediaman keluargamu, tak pantas seorang Lady berada di luar selarut ini!.”
“Aku hanya tidak bisa tidur,” jawabnya dengan senyum sendu. “Kesunyian taman… terkadang lebih jujur daripada kamar yang penuh bisikan.”
Daysi duduk di bangku lain, cukup jauh untuk tampak sopan, namun cukup dekat agar suaranya terdengar lembut.
“Orang-orang membicarakanmu, Pangeran,” bisiknya. “Juga tentang Lilyana. Gosip-gosip itu kejam. Aku hanya takut… semua ini akan membuatmu semakin terluka.”
Alasdair menatap langit. “Gosip memang kejam. Tapi terkadang… aku tak tahu lagi mana yang benar, mana yang hanya bisikan.”
Daysi menunduk, lalu perlahan menaruh setangkai bunga di pangkuannya.
“Kalau begitu… biarlah bunga ini jadi pengingat. Ada seseorang yang takkan pernah meragukanmu.”
Daysi tersenyum samar.
Dan malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, seseorang melihat mereka dari kejauhan. Keesokan paginya, gosip baru kembali merebak: “Lady Daysi terlihat menemani Pangeran hingga larut malam di taman istana…”
Hari demi hari, “kebetulan” seperti itu terus terjadi di ruang musik, di beranda, di perpustakaan.
Semua tampak alami, tanpa rekayasa. Tapi di balik senyum lembut dan tatapan iba, Daysi sedang menulis bab baru dari kejatuhan Lilyana.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
