Capture 23

3.3K 141 0
                                        

  ⚠️Typo Berserakan ⚠️

   Jangan lupa Vote

 🌻Happy Reading 🌻

Jangan lupa komen


 

Matahari sudah berada di ubun-ubun, tapi Lilyana masih belum bangkit dari tempat tidurnya.
Alasannya sederhana  lengannya masih ditahan oleh Alasdair. Pria itu sama sekali tak berniat melepaskannya sejak tadi.

“Yang mulia, kita harus kembali ke ibu kota. Hari sudah sangat siang!” ucap Lilyana setengah kesal.

Namun Alasdair hanya bergumam sambil memeluk lengan istrinya lebih erat.
“Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku sudah lama tidak tidur senyenyak ini.”

“Tapi ini sudah siang! Bahkan Sandra sudah mengetuk pintu sejak tadi!” Lilyana menarik napas panjang, mencoba melepaskan diri, tapi genggaman Alasdair tidak juga mengendur.

“Hmmm… lima menit lagi.”

“Airy, lepaskan lenganku!” Lilyana akhirnya berteriak kecil. “Aku kelaparan. Kita bahkan melewatkan sarapan, ini sudah waktunya makan siang!”

Alasdair sontak membuka matanya. Ia menatap Lilyana, sedikit terkejut.
“Kau… memanggilku apa tadi?”

“Airy,” jawab Lilyana datar.

Mata Alasdair langsung berbinar. Ia bangkit dan menangkup wajah Lilyana dengan kedua tangannya.
“Mulai hari ini, aku memerintahkanmu sebagai Pangeran Mahkota Kekaisaran Quuenrensia — kau hanya boleh memanggilku seperti itu. Jika kau melanggarnya, maka bersiaplah menerima hukuman, Putri.”

Lilyana menepis tangan Alasdair dari wajahnya. “Bisakah tanganmu itu enyah? Wajahku bisa jerawatan, tahu!”

Alasdair mengerutkan kening, bingung dengan alasannya, tapi tak berkomentar. Lilyana berdiri dan merapikan rambutnya yang kusut.
“Aku akan menyuruh Sandra menyiapkan makan siang. Kau sebaiknya mandi dulu, Yang Mulia.”

“Jangan panggil aku seperti itu, Lily.” Suara Alasdair melembut, tapi ada nada manja di ujungnya. Ia bangkit, mendekati Lilyana, dan tiba-tiba —
menggelitik pinggangnya.

“Ah! Airy! Hentikan— hahaha! Ampun! Aku menyerah!” Lilyana berteriak di antara tawa. “Ampun, Airy… aku tidak akan memanggilmu begitu lagi!”

Alasdair berhenti, masih tersenyum puas, lalu membantu Lilyana berdiri.
“Ingat, kalau kau tidak memanggilku dengan benar, aku bisa melakukan hal yang lebih parah dari ini,” ucapnya sambil menatap genit.

Lilyana hanya mendengus dan meninggalkan ruangan dengan wajah memerah.

🌻🌻🌻

Perjalanan menuju Kota Verlian masih dua hari lagi. Sepanjang jalan, Alasdair tak mau beranjak jauh dari Lilyana. Ia memilih duduk di dalam kereta kuda bersama istrinya, tak peduli panas ataupun jalanan berbatu.

“Aku muak melihat wajahmu, Airy,” keluh Lilyana sambil menyandarkan kepala di jendela. “Tidak bisakah kau di luar bersama Arthur dan para kesatria?”

Alasdair tersenyum lembut. “Kau tidak suka ditemani suamimu sendiri?”

“Aku mengantuk.”

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang