Capture 36

2.4K 112 0
                                        

Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻

Jangan lupa komen


Lilyana memacu kudanya secepat mungkin. Ia hanya memiliki waktu tiga jam untuk melarikan diri dari kegiatan resmi yang diadakan istana. Angin malam menampar wajahnya, sementara derap langkah kuda menggema di jalanan berbatu. Dalam hati, ia bersyukur telah masuk ke dalam tubuh Lilyana tubuh yang begitu kuat dan lentur. Kekuatan ini membuatnya mampu pergi dan kembali tanpa ketahuan.

Saat gerbang desa mulai terlihat, Lilyana memperlambat laju kudanya. Ia turun perlahan, menuntun hewan itu menuju rumah besar yang berdiri di tengah-tengah perkampungan—rumah yang paling megah di antara bangunan sederhana di sekelilingnya.

Warga desa yang melihat kedatangannya langsung memberi jalan. Meskipun wajahnya tertutup kain, semua orang tahu siapa yang datang: Jasmine, sang penyelamat mereka.

     “Selamat datang, Lady. Grand Duke sudah menunggu di dalam,” ujar Jane dengan nada hormat.

Tanpa banyak bicara, Lilyana melangkah menuju ruangan yang ditunjuk. Hatinya berdebar keras—ia harus mengungkapkan semuanya kepada Alferd, sang Grand Duke, ayah kandungnya.

“Ayah…”

Suara itu gemetar. Alferd yang menatap putri bungsunya terpaku. Ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tanpa penjelasan pun, ia tahu Lilyana adalah penguasa sejati tempat ini.

Lilyana berjalan mendekat, menatap ayahnya dengan mata yang penuh tekad.

    “Ini adalah desa yang aku sembunyikan dari kekaisaran, Ayah.”

Alferd terdiam, menunggu putrinya melanjutkan kata-kata yang menggantung di udara.

  “Di sini, hidup mereka yang diasingkan. Para buronan, pelayan yang melarikan diri, kesatria yang dituduh tanpa bukti… bahkan beberapa bangsawan muda yang menolak tunduk pada peraturan keluarga mereka.”

Ia berhenti sejenak, menatap Jane yang berdiri di belakangnya.

  “Seperti Jane. Ia putri Duke of Steriun. Lari dari keluarganya karena hendak dijodohkan dengan bangsawan tua demi melunasi utang keluarga.”

Lilyana menarik napas panjang, lalu berjalan keluar rumah. Tanpa disuruh, Alferd mengikutinya.

Mereka melangkah menuju tanah lapang di mana puluhan pemuda dan anak-anak sedang berlatih bela diri. Suara pedang beradu dan langkah kaki bergema serempak.

“Sebagian besar dari mereka adalah mantan budak, Ayah,” ujar Lilyana lirih. “Mereka melarikan diri dari majikan kejam. Setelah mereka cukup terampil, mereka bebas meninggalkan desa ini dan mencari pekerjaan di ibu kota.”

Melihat Lilyana datang, para pemuda itu berhenti dan serentak memberi hormat.

“Salam hormat, Lady!”

Lilyana hanya mengangguk singkat, tanpa berkata apa pun.

Pandangan Alferd tertuju pada seorang pria di antara mereka.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang