ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Dua orang perempuan yang sedang duduk berhadapan di sebuah meja yang berada di rumah besar dan megah ini. Mereka tampak ditemani oleh dua cangkir teh yang masih mengeluarkan uap. Dua perempuan yang memiliki rambut cokelat gelap yang sangat mirip itu sudah lama tidak bertemu, namun hanya satu di antara mereka yang menunjukkan kalau dia sangat merindukannya.
"Lilien-"
Perempuan yang masih menatap perempuan di depannya yang merupakan Ibundanya itu tanpa bersuara apapun atau menyelanya. Namun Adeline tiba-tiba saja terhenti dalam perkataannya.
Melihat Ibundanya yang tidak melanjutkan perkataannya, kini giliran perempuan bernama Lilien Secsha Victorie yang bersuara. "Daddy sedang dalam perawatan, dia di Vonis terkena penyakit jantung." Terang Lilien.
Melihat ekspresi Adeline yang terlihat terkejut, Lilien masih tetap dalam wajah tanpa ekspresi berlebih. "Aku ke sini untuk memberika surat yang menyatakan kalau Daddy juga memberikan hak waris pada Dynne." Lilien yang kemudian menyodorkan selembar kertas ke atas meja di depan Adeline.
Adeline yang melihat banyak tulisan beserta tanda tangan mantan suaminya itu, di sana terdapat banyak nama Dynne tertulis. "Kenapa dia memberikannya?" Tanya Adeline akhirnya bersuara.
"Karena dia masih menganggap Dynne anaknya, jelas sampai sekarang dia masih memakai marga itu." Ujar Lilien membalas.
"Sampai saat ini Daddy masih menganggap keluarga Victorie generasi ini masih lengkap, walau kalian sudah cerai." Ucap Lilien dengan ekspresi yang sulit diartikan itu. Adeline yang sudah jelas-jelas menunjukkan perasaannya lewat ekspresinya itu tidak membuat Lilien terlihat tersentuh.
"Mama tidak mau memberikan kabar ini pada Dynne sekarang, kondisinya sedang tidak baik-baik saja." Balas Adeline. Namun tidak membuat Lilien langsung memberikan pertanyaan soal adiknya itu.
"Daddy bilang kalau Dynne harus tau dia masih dapat Hak Waris sebelum Daddy pergi." Tutur Lilien.
"Kenapa dia berkata hal seperti itu?" Adeline menatap Lilien dengan ekspresi yang sangat menunjukkan ekspresi kehancurannya.
"Daddy begitu yakin hidupnya tidak akan lama lagi." Jelas Lilien.
Adeline menahan nafasnya selama beberapa saat, pikirannya langsung tertuju kepada satu putrinya yang lain. Dynne, Adeline belum bisa menghilangkan rasa benci Dynne kepada mantan suaminya. Dan saat ini putri sulungnya membawa kabar kalau lelaki Victorie itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
"Dia tidak mungkin secepat itu, dia masih belum menyelesaikan keinginan untuk memiliki hubungan baik dengan Dynne." Ujar Adeline.
"Itu kenapa Daddy memberikan semua ini, itu salah satu upaya dia sekarang." Tutur Lilien.
Adeline yang terdiam selama beberapa saat itu kemudian kembali bersuara. "Dynne baru saja mengatakan dia ingin mengakhiri pertunangannya dengan Kythan, itu terjadi setelah beberapa saat dia tau perceraianmu dengan Davide."
"Kondisi buruknya kembali, trauma perceraiannya kembali." Terang Adeline.
Lilien yang menatap Ibundanya dan diam selama beberapa saat mengingat hal yang baru saja terjadi dalam hidupnya itu. Tidak hanya itu, hal yang dulu pernah terjadi pada adiknya saat perceraian orangtuanya itu juga terlintas di ingatannya.
"Mama juga merencanakan Pernikahan Politik pada Dynne, padahal Mama tau konsekuensi pernikahan itu. Mama tau Dynne pernah mengalami trauma karena pernikahan itu, tapi Mama tetap melakukannya. Mama bersikeras kalau Pernikahan Politik akan berhasil."
KAMU SEDANG MEMBACA
BREAK UP
General FictionHubungan Dynne dan Kythan berjalan dengan tidak lancar, ketika salah satu dari mereka terjebak dalam trauma masa lalu. Berawal tertipu dengan sebuah rencana yang tidak pernah diduga, hingga akhirnya jatuh sejatuh-jatuhnya dalam perasaan terdalam yan...
