"Ooooh, jadi begitu?" Ika mangut-mangut, tatapannya fokus pada layar handphone.
Aku yang kesal, merasa tidak didengarkan, langsung menoyor kepalanya. "Heh! Noleh kek dikit, aku jadi merasa kamu enggak dengar aku, tahu!"
Yang ditoyor hanya cengar-cengir, memasang wajah tidak berdosa. Lalu mematikan handphone-nya, "Lagian, ada alasan apa sih sampai kamu enggak mau berangkat bareng abangmu?"
"HEEEWWWLOOO, epribadeeeh!" Suara lantang itu membuatku jatuh terjengkang dari bangkuku. "Omaygaaat, kalian sudah kumpul-kumpul saja! Gosip apa nih?"
"Gosip haram, Bestie," Ika menepuk bahu suara lantang itu. Cewek berambut ala cowok itu menyengir.
Namanya Arlyn, kupanggil Lyn. Dia memiliki tubuh yang mungil, hanya setinggi bahuku saja. Dan memiliki rambut cokelat pendek. Bermata belo. Terlihat cute, bagi orang yang baru kenal, tidak akan menyangka kalau Lyn memiliki suara besar yang sangat berkebalikan dengan tubuhnya. Muka doang cute, suara melengking. Dia anak perempuan yang super-supel. Sohib keduaku.
Aku bersungut-sungut, memperbaiki bangkuku, lalu duduk. "Bisa gak sih, suaramu dikecilkan, Lyn?"
"Gak. Gak bisa. Emang suara gue sebesar itu."
"Sejak kapan kamu ikut-ikut pakai bahasa gaul, 'gue' and 'elo', Lyn?" Ika menyeringai. Mengibas rambut pendek ala cowoknya.
"Hm?" Lyn duduk di bangku di depan kami, lalu memutar arah bangku, hingga menghadap ke arah kami. Baru dia duduk. "Sejak kapan? Owh, sudah lama. Tapi, jarang saja kupakai. Buat gaya doang. Cuma elo aja yang paling sering pakai begitu-begituan."
"Iya nih, aku sampai ketularan. Jadi sering kena marah abangku," tuduhku sembarangan.
"Ya Allah, teganya kau, Fernando. Ingat, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan."
Aku mendengus.
"Kyaaaah, aku jadi pengin dimarahin sama abangmu deh, Cha. Penasaran sama mukanya, masih ganteng enggak sih kalau marah?" Lyn cengengesan. "Cha, guewh pwengen deh punya abang kayak elowh!" ucapnya dengan gaya bicara aneh.
"Yakin mau?" Aku menatapnya datar. "Bayar dulu, dua puluh lima ribu satu orang. Tapi, kutanyakan dulu pada mereka nanti."
"Are you serious?! Yaiyalah, guweh yakin mau! Aku pengin tahu rasanya punya abang." Lyn terkekeh.
Sekedar info, Lyn itu punya lima adik. Dia anak pertama. Lyn sering emosi dan kehabisan kesabaran saat menghadapi adik-adiknya yang tengil-tengil. Mengeluh kenapa adiknya banyak banget, kenapa enggak punya abang. Aku justru mau punya adik, enggak mau punya abang. Oh, dunia ini memang terbalik, Kawan.
"Tapi, kamu kasih salah satu adikmu yang paling gemes padaku. Kita tukaran."
"Wah, boleh banget tuh! Adikku, yang namanya, Kiran, suka banget sama kamu, Cha."
"Hei, hei, kalian benaran mau jual saudara nih? Tega banget kalian." Ika berkata sok melankolis, meletakkan telapak tangan di dahi. Berpura-pura lemas. "Kulaporkan ke abangmu nih, Icha." Ika beranjak bangkit, menyeringai pura-pura mengancam.
"Laporkan saja, aku rela kok. Bilang ke abang-abangku, aku mau jual mereka." Aku berseru, alih-alih melarang. Aku melambaikan tangan. "Bye! Jangan sampai mati di tempat karena tatapan abang-abangku ya."
Ika menyeringai jahil. Cewek tomboi itu meninggalkan kelas, sungguhan pergi ke kelas kakakku. Aku hanya kembali merebahkan wajahku ke meja. Sembari menunggu guru datang, mending kita habiskan waktu dengan tidur. Tadi malam aku kurang pulas tidurnya. Aku mengangkat tangan, memberi isyarat kepada Lyn agar tidak mengganggu tidurku.
Kupejamkan mataku. Dan akhirnya, aku sudah bermimpi indah.
****
Memang, saat aku tidur, mimpiku indah. Tapi, saat bangun, buyar semua rasa bahagiaku (karena mimpi yang indah itu). Sebab, saat aku sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, tiba-tiba ada yang mencubit pipiku. Aku perlahan membuka mata, dan inilah yang membuatku merasa sangat kesal.
Terlihat jelas keempat abangku di sebelah mejaku. Mereka sama-sama tersenyum, setengah jahil, setengah... ehm... jengkel? Aku berteriak (baru bereaksi), dan jatuh terjengkang dari bangkuku. Aku mengatur napasku, astaga, belum sempurna aku mengumpulkan nyawa, keempat orang ini sudah mengangguku.
"A...ada apa kalian ke kelasku?!"
Alfarezi berjongkok di sebelahku. Memberi lirikan ke arah Ika yang cengengesan di sebelah abangku itu.
Oh, aku mengerti. Ika memberitahu abang-abangku, dan keempat abangkuku ini langsung datang untuk mengomeliku. Sudahlah. Aku melirik Lyn yang senyam-senyum tidak jelas di bangkunya, entah apa yang ada dipikirannya, tapi itu tidak penting... yang lebih penting adalah, bagaimana mengatasi amarah kelima orang ini?
"Apa?" aku bertanya dengan nada sengak. Aku menguap, sambil mengucek-ucek mataku. Lalu memandang sekitar.
Astaga, semua teman sekelasku sudah hadir, dan otomatis mereka menonton kejadian konyol ini. Aku mendatarkan wajah, guna untuk menahan malu, sial... aku jadi bahan tontonan. Semoga tidak ada yang tahu kalau aku adalah adik keempat kunyuk ini, aku berdoa di dalam hati.
Aku berusaha membalas tatapan mereka berempat. "Gua tanya tadi, ap--"
Mendadak Alfarezi mencengkram daguku. Memaksaku bertatapan. Aku mulai merasa tegang, gila! Waduh, apakah sebegitu marahnya mereka berempat, hanya gara-gara aku mau menjual mereka? Harusnya mereka mau dong, tukar adik, aku kan adik yang nakal.
Alfarezi menatapku datar, berbisik pelan. "Jual abangmu katamu?"
"HEH!" Tiga saudara kembarnya mulai mengamuk, "MURAH AMAT lo JUAL DIRI KITA! DUA PULUH LIMA RIBU DOANG!"
Bersambung~
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
Halo, Ella di sini (◍•ᴗ•◍). Aku akan nulis satu bab tiap hari ya, gess. Kalau ada tulisan typo, silakan diperingati! Feel free untuk mengirim saran. Jangan lupa voted.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Fiksi RemajaEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
