Bab 92

27 6 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Seminggu kemudian, kakiku sudah sembuh sepenuhnya. Di akhir pekan itu, aku diajak jalan-jalan oleh Lyn dan Ika. Entah ke mana tujuannya, tapi aku ikut saja. Jujur, aku sudah cukup jenuh dengan pemandangan rumah yang itu-itu saja.

"Mau kemana?" Asheer menatapku dengan tatapan penuh selidik, disebabkan adek bungsunya yang mengenakan pakaian rapi, seperti hendak bepergian. "Rapi banget?"

Aku yang baru saja sampai di anak tangga terakhir, tersentak kaget. Kukira lantai bawah sepi, ternyata keempat abangku sedang ngumpul. Mereka asyik ngemil sambil nonton film.

"Eummmm...." Aku mengusap tengkuk, menyengir lebar. "Mau jalan-jalan? Bole---"

"Gak," mereka berempat menjawab serentak.

Aku melotot, "Ih! Kok gitu, Adek udah lama banget loh enggak keluar-"

"Hampir tiap hari tuh," jawab Amaar dengan nada yang tidak jelas, disebabkan roti yang masih ada di mulutnya.

"Gak ye! Orang di rumah mul--"

"Dih, emang situ kagak sekolah? Sekolah kan? Nah, artinya kamu enggak di rumah mulu," cerocos Abyaaz. 

"Pokoknya aku mau jalan-jalan," aku berkeras.

Amaar mengunyah keripik yang baru saja dia buka bungkusnya, "Kita temanin giman--"

"Nggak mau!" potongku cepat, sambil mendelik. "Aku mau keluaarrr!!"

"Tanya Reji, coba," kata Asheer sambil mengangkat bahu. Ia menyeringai, yakin kalau saudara kembar tertuanya itu tidak akan mengizinkan adik kesayangan mereka untuk keluar.

Aku sudah pasrah, tapi tetap mendekati Alfarezi yang sedang membaca buku.

"Bang," panggilku, dengan suara diimut-imutkan. Mana tahu dia bisa luluh kan? Ehehehe. "Bang, Abang! Abangku yang ganteng, tapi boong," kalimat terakhir tentu saja kuucapkan dalam batin.

Alfarezi melirikku sekilas, lalu kembali fokus dengan buku-nya. Sambil menjawab singkat, "Gak."

KRAK! Bisa kurasakan hatiku terpatah dua. Canda. Tapi, sungguh, aku merasa sangat kecewa, karena enggak dibolehin pergi.

"Banggg!!" Aku menarik-narik tangan Alfarezi. "PLEASSEE!! ONEGAIIII!! LET ME PERGI KUDASAI!!" mulailah keluar 'setan'-nya.

"Gak."

"Abang, plis..." aku pasang wajah paling memelas.

"Pliiis... ya, ya? Ya?" Aku merengek. "Aku udah pakai baju rapi, loh. Nanti bestaikku nungguin, Bang."

"Tetap gak," Alfarezi menyahut, dengan mata tetap menelusuri isi buku.

Aku merengut, "YAUDAH! SERAH!" Aku berlari, menaiki tangga.

Keempat cowok di sana, hanya memandangi adik mereka yang menaiki tangga. Tidak ada niat untuk mengejar. Bahkan saat dia membanting pintu kamarnya dengan sangat kasar, dan juga menyusul suara pintu yang dikunci.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang