Bab 75

27 8 0
                                        

"Enak?" Aku bertanya.

"Enak sekali, Ketua!!" Henry dan Kenzi mengangguk cepat. 

Aku menyeringai, "Yaiyalah enak, pakai duit siapa dulu!"

Ika geleng-geleng kepala, "Duit oom lu itu, bukan duit lu."

"Bodo Ahmad, duitnya kasih ke aku juga," ucapku dengan sedikit ketus. "Lu kalau masih mau protes, jauh-jauh sana. Enggak usah makan lagi!"

"Galak beut, Neng."

"Nang neng nang neng, your head," tuaksku kesal. "Aku ambil beneran nih makanan-mu?"

"Eeeeeh, jangan dyong, Sayyy~" Ika menepuk bahuku, dengan sedikit panik.

Aku langsung menjauh, "Pait pait pait. Theo, tolong, aku sudah ternodai oleh mbak-mbak pedo itu!" 

Ika mendelik, "Enak aja lu panggil gua 'mbak-mbak pedo'! Gw masih normal ya!"

"WAKAKAKAK, MBAK-MBAK PEDO!!" tiba-tiba Lyn tertawa amat kencang. Membuat pelanggan-pelanggan yang ada di restoran menoleh ke arahnya dengan tatapan terganggu.

Aku menendang kaki Lyn, "Diem lu, Njing," ucapku galak. "Cepat habiskan makananmu. Aku sudah mau pergi."

"Ashiaap~" Lyn mengangguk, cepat-cepat menghabiskan makanannya, sembari sesekali menyikut Ika yang juga terburu-buru menghabiskan makanannya.

Aku melototi 'anak-anak buahku', "Kalian juga! Cepat habiskan. Lalu kita pergi ke tujuan," kataku, "sebelum itu, ada lagi yang mau dipesan? Biar aku pesankan sekarang."

"Jus mangga campur stroberi, satu! Bungkus!" Ika mengangkat tangannya.

"Sip." Aku mengangguk.

"Es teh manis yang manisnya kek gua!" Lyn mengangkat tangannya juga.

"Sip."

"Saya jus naga!" Septian menyengir.

"Sip."

"Kalau saya kopi," Kenzi ikut mengangkat tangannya.

"Ashiap."

Setelah mencatat permintaan mereka, aku langsung pergi ke kasir untuk memesan apa yang mereka pesan. Saat kudekati kasir, aku sempat melirik pria yang sedang menghisap racun maksudnya rokok di meja yang berada di dekat kasir.

Alisku mengerut. Kurasa aku sering melihat pria ini di mana-mana. Kadang di sekolah aku melihatnya sedang duduk diam di taman sendirian, atau di komplek rumahku. Jangan-jangan dia stalker? Dia om-om pedo? Anjir, amit-amit. Aku mengalihkan pandanganku, kembali fokus dengan pelayan.

Pelayan itu menyebutkan totalnya.

Aku mengangguk. Gile, banyak juga hari ini aku jajan, dan traktir MEREKA. Tapi, ini kan duit om-ku yang dikasih ke aku, jadi gampang saja untuk menghabiskannya meskipun aku orangnya hemat. Kapan lagi kita berfoyyah-foyyah begini? Ada blackcard nih gess, gas aja dihabiskan! 

Tanganku merogoh tas selempangku, lalu mengeluarkan dompet dan menyodorkan blackcard. Mataku kembali melirik pria yang sedang mengambil batang rokok yang entah sudah ke berapa kalinya.

Aku memutuskan menunggu pesanan di kasirnya. Dan mengajak bicara si orang yang menjaga kasir.

"Sekarang ada banyak stalker ya, Mas?" ucapku, sambil melirik lagi pria di sebelahku, lalu kembali fokus ke orang yang menjaga kasir.

Si penjaga kasir mengangkat sebelah alisnya, "emang iya, Mbak?"

"Enak aja kau bilang saya 'mbak', Mas. Saya masih kecil tahu."

"Oh iya, 'Adek'."

"Btw, soal stalker tadi, kayaknya minggu-minggu ini merasa ada yang ikutin saya. Entah siapa dia, dan apa urusannya," ucapku dengan nada sedih dan takut yang dibuat-buat. "Eh, Mas, yang kemarin-kemarin, ada kasus bunuh diri di rumah sakit ya, Mas?"

"Iya. Ada di dekat sini. Kebetulan saat itu saya di sana, lagi menjenguk nenek saya. Pas saya sampai di rumah sakit, sudah ada banyak polisi, mobil ambulan. Mana ada satu ibu-ibu yang kabur dari rumah sakit."

Aku tertarik dengan kalimat yang akhir. Ibu-ibu kabur dari rumah sakit? "Ibu-ibu?"

"Iya, Dek. Kata ibu-ibu itu, dia gak mau makan bubur. Ogah. Enggak enak katanya."

"Ibunya seperti apa penampilannya?"

Si penjaga kasir sedikit ragu untuk menjawab, tapi akhirnya dia menjelaskan ibu-ibu yang dia maksud.

Entah kenapa dadaku sesak. Jangan-jangan  itu Mama? Mama sejak dulu memang sering kabur dari rumah sakit, dengan alasan tidak mau bubur. Tapi, mengapa mama masuk rumah sakit?

****

"Berhenti menggigit jarimu," Zack berkata dingin padaku.

Aku melotot, "Diem. Ini gua lagi panik tahu."

"Jarimu berdarah, Ketua."

"Gak, gak peduli gua. Ini masih kecil daripada yang dulu," ucapku. 

Saat ini kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, naik taxi. Beda-beda mobil. Yakali kami semua masuk satu mobil. Yang ada gepeng tuh mobil. Aku semobil dengan Zack, Theo, dan Kenzi. Sedangkan Septian, Henry, dan Akmal bareng Lyn dan Ika.

"Dibilangin, jangan gigit jari, Ketua," Theo menarik tanganku.

"Diem lu pada!!" ucapku galak, "kalau mau gua berhenti gigit jari gua, kalian mau gua gigit terus terserang rabies?"

"Tentu tidak," Kenzi menggeleng cepat. "Gila aja kita mau digigit sama anak rabies. Nanti kita ikutan cebol."

Aku menggaplok kepalanya dengan penuh 'sopan santun'. "Gua gak cebol ya!! Badan gua termasuk tinggi tahu gak?! HAH?!"

"Memang Ketua lebih tinggi dari Lyn, tapi Anda tetap termasuk pendek, tidak tinggi," Kenzi menyengir.

"Om Supir!! Tolongin lempar nih orang ke jurang!"

****

"Ketua? Bangun. Sudah sampai."

Aku mengibaskan tanganku. Menggeliat. "Ngh... bacot lu, Theo. Gua mau tidur."

"Udah sampai."

Aku membuka mataku, dan memandang Theo dengan mata yang masih setengah tertutup. Tapi mataku langsung terbuka lebar melihat betapa besarnya rumah sakit di hadapanku ini. Aku buru-buru melompat turun dari taxi, dan membayar ongkos taxi.

"Buset dah, ini rumah sakit gedenya minta ampun. Siapa yang punya nih?" Ika berseru. "Merinding~"

Aku sudah cepat-cepat melangkah masuk. Meninggalkan orang orang di belakangku. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa bertemu dengan ibuku. Jantungku berdetak cepat. Entah kenapa aku bukannya merasa senang, aku tidak tahu kenapa perasaanku saat ini terasa aneh. 

"Lho? Aisha?"

****

Mwehehe. Gimana? Ngerasa digantung gak? Aduh, kasihan digantung sama doi :). Becanda.

Jangan lupa vote ye, klo enggak, nanti aku datengin bawa FBI, dengan pistol maenan adek.

Jangan lupa vote ye, klo enggak, nanti aku datengin bawa FBI, dengan pistol maenan adek

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yaudah. Bye-bye.






Mwach.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang