Bab 76

17 7 0
                                        

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

"Aisha kan?"

Aku menoleh. Memandang wanita yang mungkin usianya lima tahun lebih tua dari ibuku. "Tante Amira?"

"Iiih, beneran Aisha toh!! Udah lama enggak liat ponakan kesayangan!" Amira, ya, dia adalah adek kandung Mamaku,  langsung melompat, dan memelukku erat sampai aku bengek.

"Tan, UHUKKQQ!! T-Tante!! Napas Adek!!"

Amira melepaskan pelukannya, memandangku dengan tatapan tak berdosa. Dia tersenyum lebar, "Makin ucul aja, Dek."

Aku tersenyum tipis. "Tante kenapa ada di rumah sakit?"

"Lah, Adek sendiri kenapa ke rumah sakit? Mana abang-abangnya?"

Aku terdiam cukup lama. "Mau liat Mama."

Tangan Amira yang memegang bahuku, tersentak. Membuatku ikut kaget. Aku mendongak memandangnya dengan alis terangkat. Semakin bingung ketika melihat raut wajah Amira yang gugup.

"Adek pulang aja ya? Tante anterin," Amira tersenyum, berusaha terlihat biasa saja. "Yuk, pulang."

"Gak mau, Adek mau ketemu Mama!!" aku menggeleng kuat-kuat. "Adek pokoknya mau ketemu Mama!" Lalu aku berbalik cepat.

"AMIRAAA~~~!!"

DEG!!!  Suara itu... suara Mama. Aku menghentikan langkahku. Mengangkat kepala dan mataku bertubrukan dengan mata yang amat kurindukan. 

"Mama!"

Tapi dia berlari melewatiku, seolah-olah aku tidak ada berada di sana. Aku masih diam di tempat, sedang mencerna apa yang terjadi. Kepalaku menoleh memandang wanita yang melahirkanku itu sedang mengguncang-guncang bahu adeknya.

"Ma?"

Mama tidak menjawab. Dia mengacak rambut adeknya lalu mengomel panjang lebar.

Amira memandang ke arahku, tersenyum getir. Dari tatapan matanya, dia memberi isyarat, "pergi, Aisha."

Aku? Pergi? TCH TIDAK AKAN!! Kudekati wanita itu. Tanganku terangkat hendak memeluknya.

(Kita panggil aja Alyssa okek)

"Mama... ini aku, Aisha."

Dia berbalik. Mengangkat alisnya begitu melihatku. "Er... siapa ya?"

Hatiku serasa disayat silet tipis-tipis. Mataku tak sadar sudah berair. Tanganku gemetaran. "Aku... aku...." Kenapa mama bisa lupa anaknya sendiri? Apakah dia tidak sayang denganku? Tapi itu tidak mungkin. Hatiku berkecamuk memikirkan hal itu. Entah kenapa dadaku terasa sesak.

Pandanganku kosong.

"Kak, Kakak balik ke kamar dulu ya. Amira mau ngobrol dulu sama anak ini," Amira tersenyum.

Alyssa memandang adeknya, "Y-yaudah deh. Tapi nanti balik lagi ke kamar, kau harus dihukum."

"Jangan dong."

"Kau masih bisa memohon setelah memaksaku memakan bubur sampai mulutku udah kek tupai makan bom?!" Alyssa melotot galak. Dia berbalik, pergi meninggalkan kami.

BRUGH!!! Aku terduduk. Tak bisa menahan tangisanku lagi. "M-Mama... Mama, Tan. Mama enggak kenal Adek."

Amira menepuk bahuku. "Ikut Tante dulu ya? Tante jelasin semuanya."

****

Mweheheh. Sampe sini dulu. Soalnya aku mau buat full flashback, jadi untuk full flashbacknya, aku buatin di bab selanjutnya. Ini 300+ kata doang sih, ehe. Sorry. Maji gomen *berlutut, tapi boong.

Yodeh, jangan lupa vote ya gess ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yodeh, jangan lupa vote ya gess ya. Pls ehw. 

Bye bye.

*****


My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang