Bab 8

170 49 17
                                        

"OOOOOOOOH!" Noah baru terconnect begitu tamparan keras mengenai pipinya. Dia mengangguk-angguk, "Kamu yang pernah nampar aku dulu!"

*****

Flashback, setahun yang lalu. Aku masih berusia empat belas tahun. Saat itu reputasiku sedang buruk-buruknya. Wajah dingin, rambut berantakan, tatapan yang menusuk dan ala-ala psikopat atau kanibal, sering memainkan cutter atau membawa pisau lipat ke mana-mana, dan pernah menantang geng yang paling disegani murid-murid di sekolah. Pernah nyaris tidak naik kelas. Pokoknya reputasiku saat itu sangat buruk. 

Setiap aku lewat di banyak murid, mereka semua langsung menyingkir jauh-jauh. Seolah aku adalah kuman yang sangat berbahaya. Aku juga sering memainkan cutter, memutar-mutarnya dengan jari-jariku, lincah. Dan itu menambah ketakutan mereka. Setiap ada tugas kelompok, banyak yang memilih berkelompok dengan singa daripada sama aku. Bahkan banyak guru-guru takut denganku.

Yah, hanya abang-abangku saja yang reputasinya masih bagus. Populer.

Tapi, tentu saja, aku pernah menjadi murid normal sebelum reputasi buruk. Aku mendadak jadi begitu, karena ada sebuah insiden yang lumayan parah dan membuatku drop. 

Hingga akhirnya, aku disuruh mengantarkan buku-buku ke ruang guru. Bareng... Noah. Noah saat itu sedang populer banget, bahkan lebih populer dari abang-abangku. Saat itu, usia Noah enam belas tahun. Bayangkan, sedari tadi Noah mencoba bicara denganku, bersikap ramah. Dan aku membalasnya dengan sorotan mata yang superdupermenusuk, dan akhirnya kehabisan kesabaran. Pokoknya, saat itu, aku sangat benci pada orang yang menurutku pura-pura ramah denganku.

Aku menamparnya.

Aku akhirnya dihukum berdiri di lapangan sepanjang hari. Panas banget. Dan aku pun sempat kabur ke kantin, beli minuman boba, tapi tepergok guru, terpaksa lagi aku berdiri di tengah lapangan.

Esok harinya, aku baru tahu bahwa Noah memiliki geng yang sangat mirip dengan preman. Soalnya, mendadak anggota geng itu pada berdatangan ke kelasku, dan menghampiri mejaku. Mendampratku habis-habisan, lalu menantangku untuk datang ke markas mereka. Kalau semua anggota geng mereka bisa dibuat pingsan atau dibuat menyerah, aku tidak akan diganggu mereka. Dan aku akhirnya tahu, bahwa Noah orang yang mengerikan di geng tersebut, dia adalah ketua geng itu, dan menyamarkannya dengan senyuman ramah dan wajah tampan.

Noah menatapku dengan senyumannya, yang kali ini senyumannya terlihat seram. "Urusan kita belum selesai lho, Adik Kelas."

"Diam lu. Bising, tahu!" Aku membalas, memainkan cutterku.

"Pergi ke markas kami, dan buat anggota geng kami menyerah." Noah meletakkan kedua tangannya di mejaku. Masih menatapku tajam.

Aku balas memandangnya tak kalah tajam, "Buat apa aku pergi ke markas kalian hah?"

"Boleh-boleh saja kau tidak pergi ke markas kami, tapi kami akan terus menerormu."

"Hanya soal ditampar kalian sampai begini?"

"Kenapa? Takut?"

Yah, merasa diremehkan, aku pun menerima tantangan mereka. Dalam hati, aku menggerutu, berani amat mereka sama cewek. Cupu banget. Aku pun di malam harinya, langsung bersiap-siap, bilang ke abang-abangku, kalau aku mau pergi ke rumah teman untuk mengerjakan PR bareng. Dan mereka sebelum mengizinkan, aku sudah pergi duluan. Menuju markas mereka.

Begitu sampai di markas mereka, yang rupanya berupa gedung yang sudah lama tidak dipakai. Aku dihadang sepuluh anggota geng sekaligus. Dan rupanya Noah menantangku untuk melawan sepuluh anggota geng yang cewek, bukan cowok. Mungkin dia masih ingin bersikap jantan, tidak mau dianggap cupu. 

Aku beruntung punya fisik yang kuat, nyawa yang alot, juga tenaga yang lebih kuat daripada tenaga cewek pada umumnya. Meski aku sedikit kewalahan, dan 'sedikit' babak belur, aku berhasil membuat bonyok kesepuluh cewek itu. Nyaris saja aku membunuh mereka, untung Noah masih bisa menahanku sebelum aku membunuh cewek-cewek itu. Aku dan Noah sempat bercakap-cakap, dan aku tahu, sedikit lagi Noah akan pindah ke sekolah baru.

"Aku mau pindah ke sekolah baru," katanya.

"Siapa?"

"Aku."

"Yang nanya." Aku melengos, meninggalkannya. 

Yah, pokoknya pertemuan kami tidak bisa dibilang spesial, guys. Dan itu bukan pertemuan jodoh. Aku justru jadi makin kesal dengannya karena, begitu aku pulang ke rumah, abang-abangku yang menyebalkan langsung melontarkan ribuan pertanyaan, memarahiku, mengomel, lalu mengurungku di kamar.

Yang jelas, sejak kejadian di markas itu, aku tidak terlalu bermusuhan dengan Noah lagi. Aku juga perlahan bangkit dari drop, tidak lagi segawat biasanya, meski tetap sorotan mata menusuk. Tapi, kurasa, sorotan mataku itu memang genetik. Keturunan. Entah dari siapa, mungkin dari ayah atau ibu.

****

"Wow, tidak kusangka, sekarang kamu tidak seburuk dulu," Noah bertepuk tangan, dengan raut wajah sengak. Lalu mengangkat tangannya ke arah pelayan, memesan satu kopi.

"Aku enggak dibelikan?"

"Dibelikan apa?"

"Kopi."

"Ogah, ah!" Noah menyengir lebar.

Aku mengangkat tanganku, "Minta mati?"

"Aish, preman. Kamu itu sekarang tukang malak ya?"

Aku tersenyum jengkel, "Hei, kamu mau kuhajar? Enak saja mengataiku 'tukang palak'!"

"Terus kenapa? Emang bener kok. Masa minta kopi saja, sampai ancam-ancam nyawa?"

"Heh, kamu pernah berutang padaku!"

"Utang apa? Duit?"

"Iya! Seribu lima ratus perak."

"Aih! Cuma segitu, masa dibayar dengan kopi yang jauh lebih mahal? Mikir dong!"

Aku hendak membalasnya lagi, tepat saat mulutku mendadak disumpal oleh seseorang. Noah juga terlihat kaget. Tapi, aku berkali-kali lipat kagetnya. Aku tahu siapa pemilik tangan yang menutup mulutku ini, dan perasaanku tidak enak.

Aku mendongak. "He...hellow, Bang."

~Bersambung

Ada yang penasaran sama selanjutnya? Author lagi agak malas nulis. Enggak tahu cara melucu kek mana, soalnya author lagi sedikit pusing. Tapi, tetep aja author bisa nulis dua bab sekaligus.

Jangan lupa divoted ya! 

Bye.

~

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang