Bab 51

36 7 0
                                        

"Aissh, Shuu! Pergi dulu napa! Ini lagi seru-serunya tahu!" Aku berseru kesal, mendorong-dorongnya. "Sana lu! Ini urusan cewek!"

"Hei, itu kepala sama tangan lagi luka tahu. Kalau gelut, lu bakal kalah. Terus, lu pindah alam, padahal belum bayar utang," jawab Shuu santai. "Lagian, lu udah tua masih mau gelut."

"HEH! Lu kagak lihat? Gua masih muda, glowing, cantik, shining, shimmering, splendid?" Aku menarik kerah bajunya, aku menoleh sebentar ke arah Dira, "bentar, ya, Dir. Ini mau ngurus ni monyet satu."

Dira memandang ke arah Shuu, perlahan-lahan dia berlari kabur tanpa kusadari.

"Heh, Shuu, lu juga masih punya utang sama gua! Pot yang lu pecahin itu harganya 200 rebu tahu!"

"Eits, eits, tenang, Banh, santai. Pasti gua balikin kok." Shuu menyeringai.

Aku melepas cengkramanku, melirik ke arah murid-murid lain yang menatapku. Aku melempar tatapan apa lu lihat-lihat, ke arah mereka semua. Lalu aku memasuki kelasku. Lyn berlari mendekat.

Ika menepuk bahuku, "Sabar, Kawan. Ini ujian."

Lyn menepuk punggungku, "Tenang. Jangan stress dulu, masih ada ulangan matematika."

Bangke. Gua jadi ingat kan. Jadi stress duluan. Aku tidak menjawab, duduk di bangkuku, diiringi tatapan teman dekatku.

Kulirik Amuro yang memandangku khawatir, khas tatapan 'bapak' mengkhawatirkan anaknya yang memang harus diawasi terus. Aku membaringkan kepalaku ke atas meja, memejamkan mata. Aku  mengangkat jempolku ke arah Amuro, "I'm ok, I'm fine, gwenchana, gwenchana."

"Beneran?" Noah bertanya.

"Iya. Biarin aja mereka. Toh, sudah biasa. Kalau mereka sudah kelewatan, baru nanti aku buat mereka menyesal dilahirkan."

Mending tidur deh, waktu istirahat masih panjang. Tepat saat aku sudah mulai bermimpi indah, bel berbunyi.

Memang ya, timing yang sangat tidak tepat. Kurasa aku akan badmood seharian, dan mungkin itu akan berimbas ke Ethan yang dikurung di gudang.

****

"Ika, Lyn, masih halangan?" Aku bertanya, sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas. Akhirnya, sudah waktu pulang sekolah. Aku ingin cepat rebahan, tapi aku harus sholat dulu, nanti terlambat.

"Yoi!" Yang ditanya menjawab serentak.

"OI, Shuu! Mau ikut shalat gak?!" tanyaku.

Ika dan Lyn tertawa, "Lucu, Cha, lucu banget. Lu kan tahu kalau Shuu itu nonis."

"Siapa bilang?" Aku menyeringai, "Dia Muslim, Adeck-adeckku. Tapi, belum pernah belajar shalat, enggak pernah shalat."

"Ooooh," Ika dan Lyn mengangguk-angguk.

Buku terakhir sudah dimasukkan ke ransel. Waktunya pergi ke masjid sekolah dulu. 

"APAAA?!!! Dia Muslim?!!"

Shuu menepuk bahu Lyn, lalu melangkah cepat menyusulku.

"MASAAAAAAA?!!"

Aku berseru dari luar kelas, "BACOT LU PADA! Berisik tahu."

*****

Aku mengusap wajah yang masih sedikit basah karena air wudhu. Aku sudah selesai shalat, mau langsung pulang, tapi memutuskan menunggu Shuu. Mungkin dia mau ikut ke rumahku, untuk belajar ngaji. Aku duduk di kursi yang ada di dekat masjid, tepat di bawah pohon, biar teduh. Aku membaca chat-chat dari abang-abangku yang memintaku agar mau pulang bareng mereka. Tapi, aku abaikan.

Aku melihat Shuu keluar dari masjid, menoleh ke sana ke mari, mencari sandalnya. Dua menit, dia menghampiriku, tidak memakai sandal.

Dengan cengiran lebar, aku menyapanya. "Yo, mana sepatunya?"

Raut wajah Shuu terlihat jengkel, "Hilang, Cok. Dicuri Rembo keknya."

"Kasihan, nyeker ya?"

"Biarin, sehat."

Aku menahan tawa, memandang Amuro juga Noah yang juga mendekatiku, tanpa sandal juga.

"Aduh, bahkan dua orang ini tidak memakai alas kaki, Pemirsaahhh."

"Diem, Cha," gerutu Noah. 

"Kalian beneran enggak tahu ada di mana sepatu kalian?" Aku menyengir lebar, mendongak ke atas. 

Ketiga cowok itu mendongak, mengikuti arah pandangku. Noah dan Shuu melotot ketika melihat sepatu mereka nyangkut di ranting pohon. Siapa yang menggantungnya? Tentu saja aku, Kawand! Aku ini pandai manjat, memanjat pohon itu sudah mudah banget, meskipun pohonnya gede. Aku sengaja mencari pohon gede, supaya lebih jauh lagi sepatunya bisa kusangkutkan.

"HEH, ICHAA!" Noah melotot, "Ambilkan!"

"Ambil aja sendiri, atau kamu enggak pandai manjat? Masa mantan ketua geng enggak pandai manjat. Cupu!!" Balasku dengan cengiran tengil, "Sepatu Amuro gak digantung kok, nih, ada di bawah kursi."

"Woi, Chacha merica, kenapa sepatu Amuro enggak digantung?" Shuu protes. 

Amuro menepuk bahu Shuu, "Sabar."

"Dih, lu juga pernah gantung sepatu gua waktu masih SMP!" Aku berseru.

"Itu udah lama, Bangke."

"Enggak peduli udah lama atau kagak. Ya, tetap harus gua balas lah!"

Noah menjitak jidatku, "Lah, gua kagak pernah gantung sepatu elu. Terus, kenapa sepatu gua digantung?"

"Iseng aja. Biar Shuu kagak sendirian ambil sepatunya," jawabku santai. "Lagian sih, kalian berdua bikin kesal melulu. Lah, kalau Amuro kan, udah orkay, baik, dewasa, sopan, pinter, cakep, enggak cerewet, waras, begimana mau aku gantungkan sepatunya kalau dia baik kek gitu?"

Amuro menepuk bahuku, "Makasih, Cha. Tapi, kamu enggak boleh gitu juga."

"Siap, Daddy."

Sementara itu, Shuu memanjat pohon dengan cepat. Wajar sih dia bisa memanjat, dia kan sering bolos, terus kalau bolos harus memanjat dinding sekolah di taman belakang. Tidak sampai semenit, dia sudah berhasil berada di puncak pohon, dia mengulurkan tangan, menggapai sepatunya. Aku mendongak, tepat saat sepatunya lepas dari sangkutan, dan meluncur ke arah wajahku.

BUK! Telak mengenai wajahku.

"ANJENG!! BAU SIKIL!!!"

****

Belum ada ketegangan kan? Masih kurang berantemnya? Tenang, nanti bakal ada berantem-berantemnya kok. Ini sengaja enggak tegang dulu. Aku sudah tahu ide endingnya gess, mungkin ada yang mati? Mwehehe, spoiler dulu gak sih. Tapi belum tentu, tenang dulu. Oke, jangan lupa votenya. Byee!! (Ada bonus gambar di bawah, mwehehe)

Salam hangat dari Ellaria (author) (❀❛ ֊ ❛„)♡

(Kakaknya Icha dan saudara kembar ceweknya si AAAA---abang-abang Icha) Asal doodling aja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Kakaknya Icha dan saudara kembar ceweknya si AAAA---abang-abang Icha) Asal doodling aja.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang