*Yang suka baca ceritaku, vote dong ( ͡° ͜ʖ ͡°)
"Astaga, lihatlah, rupanya lu lebih barbar daripada yang gua kira," ucap Nina dengan nada jemawa. Dia berdiri dengan gaya angkuh di hadapanku, berkacak pinggang. "Ninju cowok yang tak bersalah."
Aku yang duduk di kursi taman sekolah, hanya diam.
Ini sudah waktu pulang sekolah, sebenarnya aku bisa saja langsung pulang, tapi aku tidak mau jalan kaki atau nebeng sama temen-temenku, jadi aku memutuskan menunggu abang-abangku saja. Mereka sedang ada eskul basket, jadi mungkin aku menunggu agak lama. Saat aku duduk diam saja di kursi taman, melamun, tiba-tiba saja si jenong menor ini datang. Dia sendirian, tidak dengan geng-gengnya.
"Lu harusnya sadar diri dong. Lu marah karena yang lain pada membanding-bandingkanmu? Jadi lu lampiaskan ke Shuu? Heh, sadar, Bodoh, murid-murid lain mengatakan fakta. Jadi lu enggak perlu marah."
Aku tetap diam. Meski amarah di hatiku sudah meledak-ledak.
"Tumben gak jawab? Sakit gigi?"
Aku bagaikan orang bisu, tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.
"Heh, kutu beras, lu kira kalau lu diam aja, gua bakal pergi aja gitu?" Nina terkekeh sinis. Sekarang kami sudah jadi tontonan murid lain, mereka berbisik-bisik, entah membicarakan apa. Aku tidak mau tahu, dan tidak peduli. "Anak jahat, mukul cowok yang gak bersalah, sampai dia harus dibawa ke UKS karena babak belur."
"WOI, LU, JALANG JENONG JONES ALIAS JOMBLO NGENES!!" Tiba-tiba aku mendengar seruan Lyn.
Nina menoleh.
"YA, LU SI DAHI LEBAR DOMPET TIPIS!!" Ika ikut berseru, mereka berdua melangkah maju, menghampiri Nina. "Wah, lihat tuh muka, kayaknya sedep banget dijadiin target tinju."
Nina mendelik. "Gak usah ikut campur lu."
"Bacod. Atau lu takut sama kami?" Lyn berkata santai. Berkacak pinggang. "Lu tuh, udah ganjen ke abang-abang Icha, sekarang mau cari perhatian Shuu. Lyn, tempe kalau pakai tahu enak gak?!"
"Enak!!"
"Tapi, lebih baik kalau lu TAHU diri, Kak Nin. Gua tahu, teman gua si Icha ini, akhlaknya kadang minus, barbar, tapi dia tetap cewek baik tahu. Emang elu, asik nindas murid lain," seru Ika.
"DIEM LU, ANJING!! LU MAU GUA PUKUL?!! GUA KAKAK KELASMU!!"
Ika memajukan wajahnya, "Tatap muka watashi, apakah watashi peduli?"
Njir, wibu, batinku.
"Kurang ajar!!" Nina berseru, wajahnya merah padam karena amarah.
"Makanya, ajarin adek kelasnya yang bener. Bukan malah ditindas," Lyn menjawab santai.
"ASEEEEK!!" Ika mengangguk-angguk.
JLEEB!! Seolah ada panah tak berwujud, menusuk ulu hati Nina. Dia melotot. "Kalian mau hajar aku hah? Hajar aja!! Tabok sini! Tabok. Berani lu pada?"
"Berani sih. Tapi, kami kan sayang binatang, jadi kami enggak menghajarmu."
"ANJINGG!!"
"Dih, enggak asyik, bisanya bilang, 'anjing', 'kurang ajar', enggak ada balasan debat yang lebih dashyat. Cemen. HUUUU!!" Lyn mengacungkan jempol ke arah bawah, dan Ika dengan cengiran lebar, mengacungkan jari tengah. "Orang cemen, pengecut, mending pergi aja deh. Sebelum digigit sama nih godzilla ampe rabies."
Nina dengan raut wajah marah dan mulut bergerak seperti ingin menjawab kalimat Lyn, tapi dia memutuskan pergi.
"WOOOO!! CEMEEEN!!!" Ika masih mengacungkan jari tengah. Sedangkan Lyn sudah beralih ke padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Fiksi RemajaEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
