BYUUUUUUUR!!!!
Aku tersentak kaget begitu air dingin membasahi seluruh tubuhku. Seragamku basah kuyup. Aku mendongak, dan melihat ember ditarik cepat dari atas bilik yang memang tidak tertutup.
Aku berteriak, "WOI! SIAPA ITU HAH?!"
Terdengar cekikikan tiga cewek.
Tanganku mendorong pintu, hendak keluar. Tapi, cklek, cklek! Tidak bisa terbuka. Aku menelan ludah, menyeka dahi. Lalu berteriak lagi, "HEH! KELUARKAN AKU, SIALAN!"
"Selamat tinggal, Deck." Itu suara Nina, lalu disusul lagi dengan suara cekikikan Cecil dan Mira.
Sial, pintu ini tidak akan bisa dibuka meski aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk membuka pintu. Pintu toilet di sekolah kami itu kokoh banget. Aku memandang ke atas, apa aku manjat saja ya? Aku melirik kloset, lantas tanpa pikir panjang langsung naik ke atasnya, tanganku menggapai ke pinggir atas bilik.
Dan... BRUK! Kakiku tak sengaja tergelincir, dan terjatuh dari kloset. Kepalaku membentur pintu toilet. Aku meringis kesakitan, "Aduh, aduh, aduh..."
Tapi, aku bukan kesakitan karena kepalaku membentur pintu, tapi aku kesakitan karena merasakan yang lebih sakit lagi. Perutku. Perutku mules, Mamen! Aku sih tidak terlalu panik jika terkurung di dalam toilet, toh aku bisa berteriak sekencang-kencangnya, lalu akan ada yang masuk dan menolongku.
Mungkin aku juga bisa menelepon Ika atau Lyn. Aku merogoh saku, dan baru tersadar, handphoneku ada di dalam tas, dan tasku ada di kelas. Dahlah, pasrah saja. Tunggu saja ada orang yang masuk, nanti aku minta tolong. Aku beranjak berdiri, dan merasakan nyeri di kakiku. Aku mengaduh, kakiku terkilir rupanya. Lengkap sudah. Terkurung di dalam toilet, aku tidak terlalu menganggapnya masalah. Kaki terkilir, nah ini yang kusesalkan. Kepala pusing karena membentur pintu. Dan terakhir, yang paling mengesalkan, perutku mules.
Apa aku kentut akan ada yang datang? Aku habis makan telur rebus soalnya. Mungkin akan ada yang datang ke toilet karena mencium bau busuk.
****
Alfarezi memandang sekitarnya, dia baru selesai ekskul, dan sekarang waktunya pulang.
Dia sempat pergi ke kelas adiknya, Icha. Kelas Icha kosong. Alfarezi mendengus, pasti adiknya mau kabur lagi, tidak mau pulang bareng abang-abangnya lagi. Alfarezi melihat Ika yang sedang celingak-celinguk di koridor, dia bergegas melangkah mendekat.
"Hei, kau. Lihat Icha tidak?"
"Icha?" Ika menoleh, "Ini gua lagi cari, Bang."
"Aku bukan abangmu."
"Yah, tapi Anda kan lebih tua. Emang saya harus panggil apa lagi? Bapak?"
"Panggil nama."
"Owh, dingin sekali, mamen." Ika melambaikan tangan.
Alfarezi tersenyum jengkel, merapikan letak kacamatanya. "Kamu lagi cari Icha?"
"Yep."
Alfarezi memandang sekeliling, firasatnya mulai tidak enak. Dia berbalik, bergegas memberitahu saudara-saudara kembarnya untuk mencari Icha. Beberapa lama kemudian, mereka berempat sudah berkumpul, berbicara sebentar, dan berpencar untuk mencari Icha.
Yang sayangnya, sampai pagar sekolah ditutup pun, dan langit mulai gelap, Icha tetap tidak ditemukan oleh mereka.
****
"Adik kalian enggak ketemu-ketemu?"
Alfarezi mengangguk. Sambil menyeka peluh di leher.
"Yah, bagaimana ya?" Pak Satpam yang siap mengunci pintu-pintu di dalam sekolah, memandang prihatin.
Abyaaz dan Amaar panik. "Masa dia bisa hilang begitu saja? Sudah coba telepon dia, Zi?"
Asheer memandang mereka, "Aku sudah telepon dia tadi. Tapi, enggak dijawab."
"Handphonenya ada di dalam tasnya, Sheer. Nih, tasnya, aku bawa." Alfarezi menjawab dengan suara tenang, tapi matanya tidak bisa berbohong.
"Kalian sudah cari ke semua tempat?" Pak Satpam bertanya lagi.
"Aduh, Pak. Bagaimana bisa kami cari ke semua tempat? Dunia ini luas sekali, Pak." Asheer salah paham.
Tiga tangan menoyor kepala Asheer. Asheer melotot, apa sih? Alfarezi mengusap rambutnya, dia tidak pernah tidak cemas jika adiknya, Icha, hilang. Entah kenapa bayangan jalan raya dan anak perempuan bersimbah darah melintas lagi di pikirannya, hal itu membuat kepalanya serasa dihantam beton.
Abyaaz yang menyadari hal itu, menepuk pundak saudara kembarnya. "Jangan pikirkan yang aneh-aneh lagi, Zi."
"Maksud saya tuh, sudah cari ke semua tempat di sekolah ini belum?"
"Sudah, Pak." Suara Asheer dan Amaar lesu, menjawab bareng.
"Ya sudah, mungkin dia sudah pulang duluan, tapi lupa bawa tasnya. Coba kalian pulang dulu. Sudah malam ini. Sana pulang, gih." Pak Satpam meninggalkan mereka.
Sudahlah. Merekea berempat menaiki motor mereka, lalu pergi meninggalkan sekolah, dengan perasaan campur aduk.
****
Sial, kenapa enggak ada yang mau nolongin aku sih? Aku melirik arloji lagi. Dan ber-oh, pantesan enggak ada yang datang. Sudah malam. Aku berharap ada Pak Satpam yang akan melewati toilet perempuan.
Aku menguap. Masa iya aku harus tidur di toilet ini? Mana dari bilik sebelah bau pesing lagi. Siapa pula yang pipis tidak cuci bersih? Jorok tahu. Aku mengangkat kakiku, mata kakiku sudah membengkak karena terkilir.
Abang-abangku kenapa tidak datang-datang ya?
Aku menghembuskan napas. Kenapa pula aku harus menantikan kedatangan abang-abangku. Aku enggak bakal mau ditolong mereka. Gengsi, biasa.
Apa aku teriak sekarang saja ya? Semoga Pak Satpam dengar deh.
Kubuka mulutku. Dan....
Kruyuuuk. Perutku mengeluarkan bunyi. Sial, aku mulai lapar.
****
Gambar di atas, adalah karya author sendiri, Gess. Keren gak sih? Pagi-pagi banget author buat. Author juga lagi puasa, makanya agak males-lah nulis gitu. Enggak ada ide juga untuk lanjutin cerita, tapi sudah kepikiran endingnya, mweheheheheheh.
Jangan lupa divoted dan dicomment ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
