✧Bab 4

228 62 11
                                        

"BANG REJI?!" Aku gelagapan, begitu sadar aku telah salah ngomong. Aku menutup mulutku, "Pergi! Aku mau makan, tahu!"

Gawat, aku memandang panik sekitar, sekarang kami sudah jadi tontonan. Dan aku orang yang paling benci dipandangi begitu banyak orang seperti itu. Aku merasa risi, apalagi dengan posisi abangku yang paling dingin ini. Dia meletakkan kedua tangannya di samping kedua bahuku. Membuatku tidak bisa kemana-mana.

Sial, aku melirik Lyn, Ika, Shuu, dan Amuro. Mereka berempat sedang memandangi. Lyn, Ika, dan Shuu cengar-cengir, aku yakin seratus persen, mereka menganggap kejadian ini adalah tontonan seru. Setelah masalah ini usai, akan kueksekusi mereka. Dan, Amuro, dia memandangku dengan khawatir.

"Sebelum makan bilang apa, Dek?" Alfarezi mendekatkan mulut ke telingaku, masih dengan tangan yang mengurungku.

Aku terkekeh kaku, "Baca doa."

"Terus tadi, kenapa tidak baca?"

"Semua orang bisa lupa, Bajingan," ucapku dengan nada lembut tapi sengak.

Alfarezi tersenyum lebar, dan itu tanda bahaya. Aku mendengus, melempar tatapan minta tolong ke Amuro, memohon agar dia membantuku keluar dari kurungan 'iblis' ini. Amuro hanya menatapku prihatin, dari tatapannya aku tahu, dia berkata, "Maaf, sis. Enggak bisa bantu."

Alfarezi meletakkan dagunya ke atas kepalaku. Membuat amarahku sampai ke ubun-ubun. Nyaris meledak. Argh! Nandayo koitsu?! Aku melempar tatapan galak ke arah Lyn yang sibuk melirik-lirik ke arah Alfarezi. Sohibku yang satu itu, memang tidak bisa melihat cowok-cowok kinclong.

Sekarang, kantin dipenuhi bisik-bisik, yang semakin lama terdengar seperti dengungan lebah. Aku sudah bisa menebak apa yang mereka bisikkan. Mereka membicarakanku, juga Alfarezi. Aku sudah tidak tahan lagi, waktunya kita buat kunyuk iblis ini kapok menggangguku.

Aku mengangkat tanganku, siap menyikut perut Alfarezi. 

TTUK! Sikutku menghantam perut Alfarezi.

Eh, tunggu, kenapa bunyinya tuk? Aku mendongak, Alfarezi menyeringai lebar. Menyingkapkan seragamnya, dan memperlihatkan buku di balik seragamnya. Aku melotot, astaga? Jadi, si kunyuk ini sudah tahu aku akan menyikut perutnya? 

"Heh, Reji, aku mau makan! Kenapa sih?! Ganggu melulu!" Aku mulai tidak terkendali. Amuro bergegas mendekat.

Alfarezi menengadah, menarik tangannya dari meja. Memandang Amuro, menyunggingkan senyum tipis. Matanya kembali tersorot dingin. Dia membungkuk sopan, "Halo, Bang Amuro."

Amuro menahan tanganku yang nyaris menghantam punggung Alfarezi. Amuro geleng-geleng kepala, "Jangan, Cha."

"Aku mau makan bakso malah diganggu sama si kunyuk ini!" Aku mengamuk.

Lyn dan Ika saling tatap, lalu kembali menonton perdebatan ini. Sedangkan Shuu, dia hanya menyeringai lebar, memakan baksonya dengan nikmat. Seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa di dekatnya.

"SINI Lu, MONYEK!" Aku berseru, melompat turun dari kursi.

Alfarezi tersenyum miring, "Bahasa-nya, dijaga."

"Gomen, Bang." Aku berdiri tegak. Astaga, seramnya tatapan abangku ini. "Eh, gomen, Ji."

Sialan, kenapa aku selalu refleks berhenti ketika Alfarezi menatapku seseram itu. Bayangkan, dengan sorotan mata sedingin itu, aku yang cewek pemberani saja, sampai sontak berdiri tegak, patuh. Seperti tentara dikomando komandannya. Aku meringis.

Kemudian, aku mendekat. Memberi isyarat agar Alfarezi menurunkan kepalanya sedikit--yah, kuakui, aku memang pendek--dan memelankan suaraku. Aku tersenyum dongkol, mataku mendelik, "Jangan ganggu aku lagi, Bang. Aku mau hidup tenang, tahu tidak, hah?!" Aku berbisik, namun pasti terdengar jelas oleh Alfarezi.

"Lho?" Alfarezi memasang wajah pura-pura tidak mengerti, "bukannya wajar, abangnya menganggu adiknya?"

"Aku..." sial, aku tidak mau memberitahunya, kalau aku tidak mau kabar aku adalah adiknya empat orang kunyuk ini, tersebar luas. Ogah banget aku mengaku aku adalah adiknya AAAA alias Alfarezi, Abyaaz, Amaar, dan Asheer. "Pokoknya. Jangan. Ganggu. Aku. Titik!" Aku mendorongnya, lalu kembali duduk.

Aku membaca doa, lalu mencicipi kuah bakso. Sedetik, tidak merasakan apa-apa, hingga lidahku tiba-tiba terasa terbakar. Dan aku baru sadar, bahwa kuah baksoku sudah bewarna merah, tidak lagi bening. Aku melototi Shuu yang cengar-cengir. Dia pasti yang menuangkan banyak saos cabe ke baksoku!

"HEH! Ajar kurang! Apa yang kau lakukan pada baksoku?!"

Shuu mengangkat bahu. "Biarin dong, aku yang traktir juga."

"Traktir pala bapak kau! Kalau traktir, yang niat, dong! Masa baksoku dituangkan cabe sebanyak ini!" Aku mengamuk.

Sekarang kantin dipenuhi tawa. 

Sekali lagi, izinkan aku mengumpat, Ya Allah. Tapi, lidahku jauh lebih penting, rasanya, lidahku sudah seperti terbakar habis. Aku meraih jus, lalu meneguknya secepat kilat. Tanpa sadar bahwa Alfarezi sedari tadi menatapku.

Aku melirik Shuu yang santai memakan baksonya. 

Bagus, aku harus balas dendam. Orang ini harus tahu rasanya dijahili. Aku mendongak, memandang Alfarezi. Lalu tanpa banyak cincong, merogoh-rogoh saku jaket abangku. "Minta satu kaleng soda, Bang Ji." 

Aku membuka tutup kaleng itu, lalu diam-diam memasukkan permen mentos, lalu kututup lagi kalengnya. Dan mengocok-ngocoknya, setelah itu kusodorkan ke Lyn yang duduk di sebelahku. "Lyn, kamu kasih ke Shuu ya."

Lyn tidak tahu rencanaku. Dan dia patuh saja, berdiri untuk memberikan kaleng berisi minuman soda itu kepada Shuu. Shuu menyengir lebar, langsung membuka tutup kaleng.

BWOOOOOOSH!!!

*****


My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang