Bab 64

31 7 0
                                        

Sayonara, sayonara, jangan kembali lagi >:). Gaklah, canda. Vote dulu ya :).

***

Malam harinya...

Aku melirik handphoneku yang baru saja berbunyi. Ada SMS yang masuk. Dari Shuu. 

Haaah, apalagi yang mau dia lakukan? Atau dia minta ganti rugi karena muka gantengnya bonyok? Kalau iya, akan kubuat mukanya tambah bonyok.

Saat ini, aku sedang berbaring telentang di kasurku. Gabut setengah mati. Teriak-teriak enggak jelas, menggumam-gumam enggak jelas, berguling-guling di kasur, dan berakhir terjatuh, dan dahiku berciuman mesra dengan lantai. Abang-abangku sampai panik, mengira aku sudah kesurupan, atau bahkan mengira aku terluka parah.

Sebenarnya, bisa saja aku nonton, main PS, atau baca buku, tapi, kalian tahu kan? Males. 

Ping.

SMS lagi.

Aku menendang selimut hingga selimut terjatuh dari kasur. Lalu, kurapatkan bantal ke telingaku. 

Ping.

Tcih, bang*t. Aku melempar bantal ke arah pintu, bersamaan saat Amaar mau masuk. Alhasil bantal mengenai wajah Amaar.

"HEH! SALAH GUA AP--"

BUK! Aku melemparnya lagi dengan bantal guling. "Bacot. Berisik. Diem aja lu. Sana keluar."

"Lu tadi mau minum susu, kenapa sekarang gua diusir?"

"Bacot. Orang gua gabut aja nyuruh lu buatin susu. Sana, minum aja tuh susu di dalam dot."

"Bangke. Lu teh hayang naon, Cha?"

"Nyenyenye. Kita tuh orang Bugis, bukan Sunda."

"Yah, terus apa salahnya gua pakai bahasa Sunda?"

"Lu jago bahasa Sunda, Bugis kagak," ucapku jengkel. "Sono lu."

Bukannya pergi dari kamarku, dia malah semakin maju, melangkah menhampiriku. Dia tersenyum lebar, mengangkat dot berisi susu, dan tanpa banyak bacot lagi, langsung memasukkannya ke mulutku.

PLOP!

Aku diam. Masih mencerna karena kejadian itu sangat mendadak.

"ANJIINK KAU, AMAAAAR!! MATI LUUUUUU!!" Aku melempar dotku ke sembarang arah.

Amaar tertawa terbahak-bahak, "CHAAA, KIYOWO BANGET SIH LUU! ANAK SIAPA LU?"

"ANAK EMAK!!" seruku, sambil meraih handphoneku yang berdering. 

Shuu yang menelepon.

Tapi, sebelum mengangkat telepon, mataku tertuju pada botol susu bayi tergeletak bisu di lantai. Aku memungutnya, daripada dibuang susunya, mending diminum ye, kan? Lagipula, udah lama enggak ngedot. Aku memasukkan dot ke mulutku, lalu mengangkat tele-

Tahik! Rupanya bukan telepon tapi vc! Mana sudah kuangkat lagi, dan tentu saja wajahku terekspos jelas dengan dot yang ada di mulutku.

Shuu tertegun.

"ANJINK!! Lu jangan bilang ke siapa-siapa ya?! Nanti gua bogem!" Aku meletakkan dotku ke meja di sebelah kasur.

Shuu menahan tawanya.

"Heh, kampret, jangan ketawa lu."

"Pfftt..."

"BANGKE!! DIEM LU!"

Tawa Shuu menyembur. "YAAAHAHAHA!! BAYII!"

Dengan wajah memerah karena malu, aku langsung mematikan handphone. Memutus lebih dulu video call sebelum tawa Shuu semakin keras. Tapi, aku penasaran juga, dia video call untuk apa? Untuk menuntaskan rasa penasaranku itu, aku bertanya lewat WA.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang