Bab 18

86 29 0
                                        

"Wah, wah, lu sudah keluar rupanya."

Suara itu sukses membuatku tersentak kaget. Dan beruntung banget aku masih bisa menahan diri agar tidak berteriak, meski jantungku serasa mau copot. Aku menoleh ke belakang, dan memasang senyum dingin dan tatapan menusuk.

"Siapa ya?" Aku pura-pura tidak kenal.

Nina menggebrak meja kantin.

Shuu nyaris saja meninju Nina kalau saja aku tidak menahannya. Aku melempar tatapan galak, "Woi, Shuu! Banci lu ya kalau mukul cewek!" Aku melotot, "Urusan cewek tuh, diselesaikan sama cewek juga."

Shuu memandangku.

Aku balas menatapnya, tersenyum ala pembunuh. "Tenang saja, aku akan mengikuti ajaranmu, Sensei." 

"Kalau mereka keterlaluan, bejek saja."

"Okey, aku jadiin ketoprak." Aku menjilati bibirku, terkekeh-kekeh jahat. "Pisau lipatmu selalu aku bawa lho." Aku mengalihkan pandangan, kembali memadnang Nina, Cecil, dan Mira.

"Apa kalian, bisik-bisik, hah?"

"Enggak ada tuh, kepo banget." Aku tersenyum lebar, membuat Nina sedikit mundur. "Hai, Kakak Kelas," aku menyapa dengan nada genit bercampur nada psikopat.

"Jangan lancang lu ya."

"Aduh, maafkan mulutku ini, Kak." Aku bepura-pura menjadi anak yang sopan. Aku tersenyum lebar lagi, dan menunjukkan gigi taringku. "Kak, aku belum ada gigit siapapun lu hari ini! Mau jadi makananku hari ini?"

Nina, Cecil, dan Mira mundur teratur. Mungkin merasa ngeri melihat tatapanku. 

Sebenarnya, gua tuh bukan kanibal, cuma gigi rasanya gatel aja mau gigit tangan orang.

Entahlah, kadang-kadang aku tidak terlalu suka dengan mataku ini. Kekurangannya tuh, banyak orang jadi sering ketakutan, padahal aku cuma menatap mereka. Kelebihannya, yah, ini, menakut-nakuti kakak kelas. Wehehehehe. Abang-abangku juga begitu, tapi kenapa malah banyak yang suka sama dia ya? Meski banyak juga sih yang segan sama mereka.

Noah menambah-nambahi, "Hati-hati lu, Dek, adek kelas kalian yang satu ini, enggak segan-segan gigit kakak kelas loh. Lihat, gigitannya padaku, masih berbekas." Noah mengangkat tangannya.

"Bacot lu." Aku menginjak kakinya. "Jangan ikut campur."

"Sakit, BGSD!" Noah melotot.

"Nah, nah, sekarang elu dekat-dekat sama cowok lain. Emang ya, cewek murahan, mandang tampang doang." Cecil memprovokasi. 

Noah cekakakan. Berarti, gua ganteng ya? Wehehehe... dia terkekeh-kekeh sendiri. Lalu dia mengusap rambutnya ke belakang dengan penuh gaya, gua ganteng.. .gua ganteng... woiyadong, gua ganteng dari lahir.

Aku kembali memandang Nina, Cecil, dan Mira. Karena moodku yang mendadak tiba-tiba buruk (mungkin karena PMS?), aku tidak lagi berpura-pura ramah, sopan, dan imut. Untuk apa coba? Aku sendiri merasa muak. Mending jadi diri sendiri saja, eak. Aku memandang mereka datar. Tatapanku menajam. Ayo! Ikuti cara abang-abangku untuk mengintimidasi lawan! Kita ikuti juga ajaran Shuu!

"Puas lu pada mengurung gua di toilet heh?" Aku memandang mereka dingin. Asal lu tahu ya, aku kemarin nyaris mati karena denger suara bebek tauk! Aku mengucapkannya di dalam hati. "Penasaran kenapa gua bisa keluar? Heh? Penasaran lu hah?" Aku akhirnya berdirI.

"BERANI LU SAMA GUA HAH!? LANCANG SEKALI ITU MULUT!!"

"Ha? Terus? Terus? Kenapa? Mulut-mulut gua juga!"

PLAK! Tiba-tiba tamparan dilayangkan ke pipiku. Mira menyeringai puas. Sialan, seenaknya saja dia menampar pipiku.

Aku terdiam beberapa detik. Mengusap pipiku. Lalu mengangkat wajah sambil terkekeh. "Aduuh, sakit banget nih." Aku mengangkat tanganku, tak tabok saja kali ya? Mereka enggak tahu apa, perutku lagi lapar mau makan bakso, aku juga lagi PMS tahuk!

Aku mengangkat tanganku. 

"Apa?! Apa? Berani lu hah? Tabok sini, tabok!" Mira menantangku.

Aku menyeringai. Menurunkan tanganku. "Waduh, enggak jadi deh. Takut disalahkan karena melukai binatang."

"APA KATAMU!?!"

"Eh?" Aku pura-pura tidak mengerti, "Aku tidak mau melukai binatang."

"GUA BUKAN BINATANG, BEG*!"

Sudahlah! Aku sudah tak tahan lagi. "Shuu! AKU BEJEK DIA YA!!"

"SILAKAAAN! Aku akan menonton saja." Shuu menjawab santai. "Bejek sampai penyet."

BUAAAAAAGH! Tanpa banyak bicara, aku meninju perut Nina. Lalu berputar cepat, buak! Menendang bahu Cecil. Aku menendang kaki Mira. Dan, BRUK! Mereka semua jatuh secara bersamaan. Aku melompat ke atas tubuh Nina. Mengangkat tinjuku. Cukup, aku ini lagi PMS, sudah berkali-kali aku peringatkan, aku tuh sebelum PMS saja sudah gila banget kalau marah, apalagi kalau lagi PMS.

Dan, aku memang tidak pernah ikut ekskul/les beladiri, tapi tanpa ikut les/ekskul pun aku tetap bisa sedikit-sedikit beladiri. Abangku kadang-kadang mengajariku beladiri. Aku sih lebih jago main cutter sama pisau lipat 'aja' sih ya.

"Rasakan ini, jurus roket upil!" Aku berseru kencang.

Noah tertawa kencang-kencang mendengar jurus tinju yang aku berikan.

"BERHENTI, MONYED!"

"Gua bukan monyet, Bangke! Dasar kecoak! Kecoak lebih baik dibasmi!" Aku berseru kejam. "Ini pembalasan karena mengurungku di toilet, dasar cewek menor! Nih! Bogem mentah!"

BUK! Aku meninju bahunya. Tapi dia berhasil menahan tinjuku. Dan tanpa banyak babibu, dia mendorong tubuhku, aku jatuh terjengkang. Dan Nina, Cecil, dan Mira menerjangku. Berantem ala cewek. Jambak-jambak rambut.

ARGH! Kepalaku sakit sekali. BUAG! BUAG! Kami meninju membabi buta. Menjambak rambut. Aduh, lawanku ada tiga, dan mereka semua kompak menjambak rambutku. Lama-lama botak juga nih kepala. Aku panik.

"BERHENTI!" Aku mendengar suara Amuro. 

Disusul suara Ika dan Lyn. "WOI, CEWEK BEGO! MINGGIR KAU! KASIHAN RAMBUT KAWANKU! BOTAK DIA NANTI!!!"

Denger tuh! Aku bisa merasakan satu persatu rambutku tercabut dari ubun-ubun. Sial, rupanya kemampuan bela diriku masih kalah dengan jumlah mereka. Mereka bertiga, dan tenaga mereka rupanya juga tidak bisa diremehkan. Ayolah, Shuu, bantu aku dong. Jangan cuma nonton doang, aku melirik Shuu. Melempar tatapan memohon.

"Waduh, sorry, ini kan urusan cewek. Bisa diselesaikan sama cewek juga." Shuu membalas tatapanku, menyengir tidak bersalah.

Aku terbaring telentang. Wah, kemana kemampuann bela diriku? Aku saja bisa mengalahkan banyak anggota cewek di geng Noah. Kenapa tiga cewek menor ini aku tidak bisa kalahkan? Apa aku harus mengerahkan seluruh tenagaku? Tidak bahaya tah? 

"Hajar mereka, Cha!!" Lyn berseru dengan suara besarnya.

"TERUS, CHA! Masa lawan mereka saja enggak bisa?!!" Noah memprovokasi.

Aku mendengus. Iya, juga ya. Masalahnya, kakiku jadi terasa lebih sakit setelah menendang mereka bertiga. Aku memandang kepalan tanganku, dan BUAGH! Aku telak meninju wajah Nina. Dan Nina terlempar jauh.

Kantin hening. Tidak ada lagi 'dengungan lebah'.

Aku terpaku melihat darah segar mengalir dari hidung Nina. Deras. Tepat saat aku merasakan kepalaku sakit luar biasa. Dan aku baru sadar, dahiku dibenturkan ke meja kantin. Aku merasakan cairan hangat mengalir dari dahiku. Cecil-lah yang melakukan itu. Sial, kepalaku sakit sekali.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ICHA!?!!" Suara menggelegar itu membuat semua orang tersentak kaget.

"Abang..." aku berucap pelan. Detik berikutnya, pandanganku menggelap.

****

Bersambung~

Ceritanya kepanjangan gak sih? Soalnya, author agak gak mood up dua kali. Jadi satu kali app, langsung 900+ kata. Author lagi PMS soalnya, mwehehehehe. Jangan lupa divoted, dan di-comment :).

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang