Test. Satu. Dua. Tiga. \(^0^)/ vote dowwng.
****
Sementara Alfarezi dan saudara-saudaranya menjaga Aisha di ruangannya, Amira kembali ke ruang di mana kakaknya dirawat.
"Kak, udahan dong sakitnya, perasaaan sakit mulu dah," ucap Amira, sambil menyuapi makan kakaknya yang sedang sibuk main Nintendo. "Juga tuh, Nintendo, udah gede masih main game..."
"Dih, situ juga sering main Nintendo," jawab Alyssa, "Terus ya, aku sakit, bukan aku yang sengajain. Emang ni perut sering sakit mulu."
Mungkin kalian ada yang bingung, mengapa Alyssa tidak lupa dengan adiknya, ya, dia hanya hilang ingatan tentang hal hal yang membebankan pikirannya sebelum kecelakaan, dan itu tentang anak anaknya juga suaminya.
"Idih, gimana gak sakit perut, Kakak makan agar-agar pake sambel terasi, terus makan ketoprak pakai es krim," gerutu Amira, "emang deh, Kakak juara satu soal ketidakwarasan. Masa makanan dicampur-campur gitu."
"Heh, enak tahu, emang kamu enggak pernah tuh, minum matcha dicampur kopi?"
"Itu kan beda, Kakakku yang Bodoh ♡."
Amira meletakkan mangkok yang tadinya berisi sup ayam, sekarang sudah tandas, ke meja. Dia memandang wajah Kakaknya yang terlihat serius, sibuk menyelesaikan challange di game yang dia mainkan. Kakaknya memang selalu bersikap tidak seperti wanita berusia 30 tahunan, dia justru bersikap seperti anak kuliahan, meski wajahnya memang mendukung sih.
"Um... Kak," Amira mengusap tengkuk. "Itu... mau nanya."
"Apa tuh?" Alyssa menoleh sekilas, lalu kembali fokus.
"Kakak sungguh tidak ingat dengan anak yang aku temui um seminggu lebih yang lalu?"
"Yang katamu namanya Aisha itu?" tanya Alyssa balik, dia menoleh, raut wajahnya bingung, "e-eee, tidak tuh, memang dia siapa. Aku kan hilang ingatan tuh, apakah dia orang penting?"
Amira menelan ludah. Alyssa memang sadar dia hilang ingatan, karena pernah suatu hari ada potongan ingatan masuk ke ingatan Alyssa, kakaknya itu bingung dan memutuskan bertanya kepada adiknya. Di sanalah dia tahu kalau dirinya hilang ingatan.
"Tapi, anak itu manis sekali," Alyssa tersenyum, "kapan kapan ajak dia ke sini. Mungkin bisa diajak mabar."
"Kak, sadar, Kakak ini usianya 35 tahun, bukan anak SD, SMP, SMA atau kuliah, Kakak sudah termasuk ibu-ibu."
"Diamlah, ngebacod melulu," protes Alyssa.
Anjirlah. Punya Kakak yang hilang ingatan, menyebalkannya berkali kali lipat.
*****
Pukul 12.00, jam istirahat kedua, di sekolah.
"SHIIUUUUU!!" Lyn memanggil cowok yang sudah siap siap meninggalkan kelas, dengan suara lantangnya yang bisa membahayakan nyawa ibu ibu latah. Sekarang saja suaranya sudah cukup membuat seisi kelas kaget, padahal hampir setiap hari mereka mendengar suara Lyn. "WOI! SHU, UDH TULI HAH?!!"
Shuu menghela napas. Capek punya teman sekelas macam anjing. "Apa?"
"Nanti sore lu pergi ke rumah sakit tempat Icha dijemput kan?" Lyn bertanya.
"Ya."
Dengan senyuman lebar, cewek cebol itu berkata, "Ikut."
Lalu tiba-tiba Ika muncul, "aku juga mau ikut."
Datang lagi satu, gerutu Shuu dalam hati. "Tidak boleh. Kalian sekolah."
"Kau kan juga sekolah."
"Tapi gua pinter, gak kayak kalean, dari muka aja udah keliatan gobloknya."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Novela JuvenilEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
