Bab 5

208 59 26
                                        

BWOOOOSHH! Semburan soda mengguyur wajah Shuu yang menyebalkan. Aku tak bisa menahan tawaku, juga Lyn dan Ika. Mereka berdua bahkan sudah tertawa terbahak-bahak. Hanya Amuro yang terlihat cemas, dia memang selalu cemas sih. Dan, Alfarezi hanya memasang wajah datar. Yah, dia memang tidak tahu, lucunya di mana. Dia lebih sering tersenyum jika ada kejadian tidak lucu, mungkin.

Akhirnya, tawaku meledak. Aku menertawakan Shuu yang wajahnya dan sebagian seragamnya basah kuyup oleh soda. Shuu tersenyum, dan itu bukan pertanda baik. Dia marah.

Detik berikutnya...

"TATAKAAEEEEE!!!" Mendadak Shuu berada di belakangku.

Nani? Aku bergegas salto ke belakang sebelum semprotan cabe mengotori rambutku. Waduh, Shuu ngamuk. Aku saja, tidak semarah itu saat dia jahili. Aku mengulurkan lidah. Bergegas berlari memutari meja. Amuro hendak menghentikanku, tapi kewalahan. Shuu mengejarku.

"Bweee! Gak kena!! Ayo, tangkap sini! Kalau bisa," aku meledek. Persis seperti anak kecil, dan aku tidak peduli.

Seisi kantin menonton kejar-kejaran ala Tom and Jerry itu. Sesekali ada yang tawanya terdengar sangat keras, membahana, yang itu sih, keluar dari mulut Lyn. Dia kan suaranya memang sebesar itu. Sebagian besar mendukungku, sebagian lagi mendukung Shuu.

Shuu mengacungkan jari tengah. "Benar-benar kau itu, ya, -Sat! Cari mati heh?" Dia mundur beberapa langkah, lalu melompati meja, dan itu sebenarnya perbuatan nekat.

Rahang Amuro jatuh.

BRUK! Gedubrak! Shuu menerjangku. Lalu menghadiahiku dengan jitakan. 

"Makan nih, makan!" Shuu menyemprotkan sisa soda ke rambutku.

Aku menjerit-jerit. Lalu, eksekusi itu pun selesai. Sial, padahal aku berniat mengeksekusi Shuu, tapi malah cowok itu yang mengeksekusiku. Aku mengadu pada Amuro, yang langsung menengahi kami.

Alfarezi memandangku beberapa lama, dan aku tidak menyadarinya. Lantas, Alfarezi berbalik, pergi meninggalkan kantin. "Sial, adikku lebih menganggapku kunyuk." Dia menggerutu dalam hati, "terus, si Amuro dianggap abangnya. Sakitnya hati ini~"

Dan aku, terpaksa pinjam pakaian ganti punya teman.

****

Begitu bel sekolah berdentang, para murid berebutan keluar dari kelas. Aku keluar paling akhir, karena malas berebutan dengan murid sekelas. Kumasukkan barang-barangku ke dalam ranselku. Lalu, menyandang ranselku, lantas melenggang keluar. Kepalaku tertoleh ke sana ke mari, untuk dua hal: satu, untuk mencari Lyn dan Ika yang memang sudah keluar duluan tadi. Dua: untuk memastikan tidak ada abang-abangku di dekat kelasku.

Bagus, tidak ada tanda-tanda ada abangku. Dan, tidak bagus, karena sepertinya Lyn dan Ika sudah pulang duluan, padahal aku mau nebeng sama mereka. Aku melangkah cepat, sembari berdoa, agar tidak berpapasan dengan abang-abangku. Soalnya, aku mau pulang sendirian, kalau aku bertemu mereka, habislah aku digiring, dipaksa masuk ke dalam mobil. 

Aku mengikat jaket di pinggangku. Lalu bergegas berlari menuruni tangga. Dan, beberapa menit, aku sudah melihat pagar sekolah. Yes! Aku berhasil-tepatnya sedikit lagi berhasil-kabur dari abang-abangku! Aku bisa pulang sendirian, dan sempat jalan-jalan beli jajan sebentar!

Tapi, bagaimana caranya aku pulang ya? Masa jalan kaki, jauh lagi. Di seberang sekolah, aku melihat ada beberapa angkot ngetem. Aku mau ke sana, tapi sayangnya, segengsi-gengsinya aku, aku mengaku aku tidak bisa menyebrang. Tidak pandai. Dulu, aku lebih sering menyebrang dengan abang-abangku, tapi terjadi insiden yang menyebabkanku trauma menyebrang sendirian.

"WOOOIII! ICHAAA! ICHA CHA-CHA MERICA!" suara familiar itu membuat jantungku nyaris copot. 

Kuso! Sekiya! Aku melihat abang-abangku yang berlari, dari kejauhan. Jelas-jelas mereka memanggilku. Sial, mereka itu, kenapa tidak peduli sama harga diri mereka sih? Lihat, sudah banyak cewek-cewek lihat kelakuan mereka. Aku menoleh ke sana ke mari, mencari tempat bersembunyi. Dan, aku melihat mobil dengan plat yang sangat kukenali.

"Amuuuroooo!" Aku berlarian ke arah mobil itu. "PAPAAA AMUURO! DADDDYYY!! Tolong!" Aku langsung membuka pintu, melompat masuk, dan membanting pintu. "Kunci, Ro! Kunci!"

Amuro terlihat bingung, tapi menurut saja. Mengunci pintu mobil. "Bilang 'tolong', Cha."

"Gomen, gomen, gomen. Iya, iya, 'tolong kunci, Muro'." Aku mengulang dengan tidak sabaran.

"WOOOI! CHACHA MARICA!!" teriakan itu lebih didominasi oleh suara milik Abyaaz, Amaar, dan Asheer. Sedangkan Alfarezi hanya diam saja. Biasa, Tuan Es.

"Jalan! LAJU-LAJU, AMUUROO!" Aku menoleh ke belakang dengan panik, sebab, keempat abangku sudah sangat dekat. Aduh, bisa-bisa, kalau mereka berhasil menangkapku, pulang-pulang aku sisa nama doang.

Amuro memandangku dengan raut wajah setengah kesal, setengah heran. "Lha, bensinnya kan habis, Cha." Lalu, mengangkat bahu, "Makanya, dari tadi, mobilku enggak jalan-jalan. Tunggu Shuu datang untuk memberi pertolongan."

"APAAAAAAAAAA?!!!" aku shock setengah mati. Dan dua kali shock saat kaca pintu mobil diketok.

Amuro menurunkan kaca, "Nih, Icha-nya."

Aku melongo. Apa aku tidak salah dengar? Amuro menyerahkanku kepada empat kunyuk itu? Aku hendak membuka pintu, tapi baru teringat, Amuro mengunci pintunya. Waduh, aku terjebak perintahku sendiri. 

Beberapa menit kemudian, aku sudah digiring ke mobil kami.

"Mwehehehehe, rasain tuh, Chaa, Cha." Asheer menyengir lebar, dari kuping kiri sampai ke kuping kanan.

Sedangkan aku pasrah saja digendong bagai karung beras.

~Bersambung~

Bagaimana? Ceritanya ada yang kurang atau tidak? Kalau ada typo, boleh diperingatkan kok. Jangan lupa di-voted ya! Atau saling follback, feedback. Mwhehehe.

Yang di sini, siapa yang lebih suka makan bakso kuahnya dikasih kecap, atau makan bakso kuahnya tidak dikasih kecap maupun saos sambal? 

Dan, siapa yang milih, bubur diaduk, atau bubur enggak diaduk?

~

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang