Mohon votenya, Paduka.
*****
"NINA, BANGS*D LU YA!!" Aku patah-patah beranjak berdiri. Mengusap hidungku yang mengeluarkan darah. "MUKA GUA PEOT GARA-GARA ELU!"
"Adek? Astaga, Adek, kok mukanya bisa penyet gitu?"
"Diem, Pa, jangan nambah-nambah," ucapku galak. "Sini lu, Nina!" Aku mengangkat tinjuku.
Mahendra menarik tanganku, lalu mendudukkanku ke sofa, "Udah, udah, duduk diam aja di sofa, nah, silakan dimakan cemilannya," Mahendra meletakkan bungkusan yang penuh dengan cemilan ke pangkuanku.
Aku menggerutu, melempar tatapan tajam ke arah Nina yang hanya menatapku dengan tatapan mengejek.
"Nih, Tuan, yang namanya Nina," ucap Mahendra santai.
Afreen mengalihkan atensinya dari Xian dan Regiuz, dia memandang Nina dengan raut wajah menggelap.
"Kau anak yang melukai anakku?" ucapnya dingin.
Nina sampai gemetaran, "B... b--b..."
"Jawab, Bab*! Tcih," aku mengusap darah di hidungku dengan lengan, tapi kembali sibuk mengunyah roti cokelat di mulutku, baru lanjut ngomel. "Jadi orang bags*d banget sih. Sok gaya. Lihat sekarang, gemetaran, kaki udah kek jelly," ucapku kesal, "Pa! Emang dia orangnya! Dia yang nyabetin pisau ke bahu!"
"Dia! DIA YANG NGANCAM DULUAN PAKAI PISAU!!" Nina tak sadar berteriak di hadapan Afreen.
"Tapi, aku kan sudah lepasin pisaunya! Aku juga enggak sungguhan mau nyerang!"
"MANA ADA!! Lu aja mukanya udah kayak mau nelen bumi!" Nina berseru.
"GIMANA GUA GA MARAH, BANGKE!! Lu sering banget ganggu gua! Tahun lalu, lu yang mulai masalah duluan, ngiris-ngiris tangan gua pake cutter! Lu coba ngiket gua pake kawat! Gimana gua gak marah coba HAH?!" Aku berteriak, melupakan cemilan di pangkuanku. Aku sudah kelewat marah sekarang, aku tak bisa menahan amarahku lagi. "LU KURUNG JUGA DI GUDANG! Sampe malem! HEH, LU GAK TAHU, GUA SENGSARA DI DALAM?! Gua dikejar laba-laba mulu, ANJI*G! Mana injek tai cicak! Gua juga sampe nahan panggilan alam!"
Raut wajah Nina berubah. Dia membuka mulutnya, hendak menyangkal, tapi tak ada kata-kata yang keluar.
"Lu nuduh orangtua gua tukang mencuri, tahu apa lu tentang orangtua gua hah? HAH?!" Aku berteriak marah, sampai dadaku terasa sesak.
"Udah, udah, Marpuah," Mahendra menepuk bahuku.
Afreen mengusap wajahnya. Ruangan kepsek sekarang sudah terasa mencekam. Xian menghentikan tangisnya saking ngerinya. Regiuz menahan napasnya, merasa merinding. Sedangkan Mahendra tetap sibuk memainkan catur online. Dia sudah terbiasa menghadapi semua ini, dia sudah berkali-kali didatangi orangtua yang galaknya minta ampun, bahkan dia pernah menghadapi emak-emak yang ngamuk karena nilai anaknya salah dihitung, emak-emak itu sampai bawa panci dan sapu, siap menggebuki Mahendra. Jadi, keadaan saat ini, masih ringan bagi Mahendra.
(Emang, emak-emak enggak bisa diremehkan, kawand.)
"Mahendra..." ucap Afreen dingin.
"Hmm... ada apa?"
"Keluarkan anak ini dari sekolah."
"Sekarang?" tanya Mahendra lagi.
"TAHUN DEPAN!! YAIYALAH SEKARANG, EGE!!"
****
"Beneran gak mau di rumah Papa aja?" tawar Afreen sekali lagi. Membuka kaca mobilnya, menatapku yang berdiri di sebelah gerbang sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
